Pasar Properti China Lebih Buruk dari AS

Achmad Senoadi, Jurnalis · Selasa 01 Juni 2010 15:24 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2010 06 01 213 338385 yxOMtybglf.jpg Ilustrasi. Foto: Wordpress.com

BEIJING - Masalah pasar properti China memburuk. Bahkan, penasihat Bank Sentral China (PBOC) menyatakan kondisi properti China saat ini lebih buruk dari di Amerika Serikat (AS) sebelum pelemahan global. Kondisi ini bisa memicu ketidakpuasan publik.

"Masalah pasar perumahan di China saat ini sangat banyak, jauh lebih mendasar, jauh lebih besar dari masalah di AS dan Inggris sebelum krisis keuangan," kata Anggota Komite Kebijakan Moneter China Li Daokui eperti dikutip Financial Times Selasa (1/6/2010).

Pernyataan penasihat PBOC ini muncul sebelum Kabinet China mengumumkan akan melakukan reformasi pajak real estate secara bertahap. Pemerintah China berencana menerapkan pajak tahunan perumahan untuk menahan lonjakan harga.

"(Permasalahannya) lebih besar dari hanya sekedar penggelembungan," jelas Daokui seperti dikutip AFP.

Pasar properti di Paman Sam ambruk seiring banyaknya rakyat AS yang tidak memiliki kelayakan cukup mengajukan kredit perumahan (subprime mortgage). Akibatnya, terjadi krisis kredit karena banyak yang gagal bayar. Ribuan warga AS akhirnya harus menerima kenyataan harus kehilangan rumah mereka dan kucuran pinjaman perbankan mengering.

Pemerintah China telah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk mencegah semakin banyaknya penggelembungan aset dan melonjaknya harga properti. Otoritas telah memperketat penjualan properti baru, pinjaman untuk pembelian rumah ketiga, dan menaikkan uang muka bagi pembelian rumah kedua.

Rencana penerapan pajak terbaru diharapkan bisa mengurangi spekulasi di pasar properti. Pajak ini juga akan meningkatkan pendapatan pemerintah daerah. Pajak properti akan diperkenalkan di Beijing, Shanghai, wilayah barat daya kota Chongqing, dan wilayah selatan kota Shenzhen pada akhir Juni.

China sebelumnya tidak mengenakan pajak bumi dan bangunan. Tapi, menerapkan pajak sebesar 1,2 persen dari 70-90 persen nilai real estate komersial. Kabinet China juga menyetujui rencana penarikan modal pemerintah pada sektor umum yang kompetitif. Ini merupakan strategi untuk mengurangi dukungan investasi pemerintah pada pasar properti yang paling menguntungkan.

Li menjelaskan, kebijakan baru Beijing untuk mengendalikan pasar properti harus merupakan bagian dari strategi jangka panjang pengontrolan harga rumah. Dia memperingatkan, biaya tinggi pada perumahan bisa merusak pertumbuhan dimasa mendatang karena urbanisasi akan melambat. Kenaikan harga juga berpotensi menaikkan suku politik karena ketidakpuasan rakyat meningkat. Sebab, banyak pasangan muda yang kesulitan membeli rumah.

"Ketika harga (properti) terus naik, peningkatan kecemasan akan terjadi pada banyak orang , terutama anak muda. Ini adalah masalah sosial," jelas Li.

Dia menambahkan, masih banyak sinyal yang menunjukkan bahwa perekonomian China memanas. Pemerintah China direkomendasikan untuk meningkatkan suku bunga acuan dan nilai tukar yuan.

Data resmi menunjukkan harga real estate di 70 kota di China melonjak 12,8 di bulan April. Ini kenaikan tahunan (year on year/yoy) terbesar dalam lima tahun. Pada ajang Beijing Real Estate Expo yang digelar April, rata-rata harga apartemen baru di kota-kota besar di China ditawarkan 21.164 yuan (USD3.100) per meter persegi.

Harga ini dua kali lipat dibandingkan harga yang ditawarkan tahun lalu. Artinya, apartemen seluas 90 meter persegi di Beijing dijual dengan harga 1,9 juta yuan. Harga ini sulit dijangkau oleh masyarakat umum karena pendapatan per kapita rata-rata China tahun 2009 hanya 17.175.

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini