nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

China Tolak Tuduhan AS Soal Yuan

Ade Hapsari Lestarini , Jurnalis · Minggu 13 Juni 2010 13:13 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2010 06 13 213 342388 feWHwh1X7S.jpg Foto: Corbis

BEIJING - China lagi-lagi membela kebijakan nilai tukar negaranya dan menolak "dipanggil" oleh anggota parlemen Amerika Serikat (AS) untuk penyelidikan atas dampak dari dugaan manipulasi mata uang China pada industri Amerika.

Dilansir dari AFP, Minggu (13/6/2010), dalam menghadapi tekanan di masa pemilihan, anggota parlemen AS dari kedua sisi politik telah bersumpah untuk memulai tindakan legislatif dalam beberapa minggu untuk menghukum China atas kebijakan mata uangnya.

Mereka mengatakan bila China membuat yuan undervalued, membuat ekspor China menjadi lebih murah, menyebabkan PHK besar-besaran, adanya penutupan pabrik di AS, hingga defisit perdagangan yang melonjak.

Dalam sebuah surat kepada Sekretaris Perdagangan (Commerce) AS Gary Locke bulan ini, mereka mencari hukumnya apakah kebijakan mata uang Beijing memberikan subsidi yang tidak adil untuk produk kertas China dan harus diperbaiki melalui tindakan perdagangan.

Tapi juru bicara Departemen Perdagangan China Yao Jian memperingatkan, dengan menggunakan langkah-langkah perdagangan tersebut untuk menekan Beijing bisa melanggar aturan perdagangan internasional.

"WTO mengatur kebijakan perdagangan, bukan keuangan atau kebijakan pertukaran asing. Masalah nilai mata uang yuan yang jatuh, di luar jangkauan WTO," tegasnya.

Menteri Keuangan AS Timothy Geithner, menunda laporan kepada Kongres pada April kemarin yang mencap China sebagai manipulator mata uang, dan mengatakan bila Beijing harus merevaluasi mata uangnya karena telah menghambat reformasi ekonomi global.

Namun Yao mengatakan perubahan yuan tidak akan menyelesaikan defisit perdagangan AS dan bahwa China benar-benar menopang pemulihan global melalui meningkatnya impor ke negara itu.

Data perdagangan AS terbaru menunjukkan bila defisit AS dengan China meningkat sebesar 14,3 persen menjadi USD19,3 miliar pada April. Sementara pada tahun lalu, defisit meningkat menjadi USD227 miliar.

Sekadar informasi, China diberi kefleksibelan dalam mata uangnya pada 2005 setelah menghadapi tekanan AS, tapi ketika krisis keuangan global meletus pada 2008, itu me-repegged yuan menjadi sekira 6,8 terhadap dolar.

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini