nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

China Miliki Obligasi Amerika USD900,2 Miliar

Yanto Kusdiantono, Jurnalis · Kamis 17 Juni 2010 07:07 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2010 06 17 213 343733 gp70JHPchY.jpg Mata Uang Yuan-Dolar. Foto: thewe.cc

WASHINGTON - Kepemilikan China atas surat utang Pemerintah Amerika Serikat (AS) meningkat ke rekor tertinggi pada tahun ini yakni menjadi USD900,2 miliar per April lalu.

Departemen Keuangan AS menyatakan, jumlah kepemilikan obligasi China itu merupakan yang terbesar sejak November 2009 dan kenaikan berturut-turut dalam dua bulan. Setelah China, kepemilikan surat utang AS terbesar dipegang Jepang dengan jumlah investasi USD795,5 milar dan ketiga Inggris (USD239,3 miliar).

Secara keseluruhan, pembelian surat utang AS oleh asing menurun dari semula USD140,5 miliar menjadi USD83 miliar pada April lalu. Hal ini disebabkan krisis anggaran yang masih melilit beberapa negara terutama di Eropa.

“Sumber aliran masuk dana ke AS masih solid. Banyak investor asing masih tertarik membeli investasi dari AS,” kata ahli strategis RBS Securities Alan Ruskin seperti dikutip dari Financial Times, Kamis (17/6/2010).

Analis lain menyatakan, kembali meningkatnya pembelian surat utang AS oleh Beijing patut diwaspadai karena ditengarai dilakukan melalui negara ketiga untuk menutup perannya terhadap dominasi China di AS sebagai upaya diversifikasi investasi.

"Diversifikasi kepemilikan cadangan China selama dua tahun terakhir telah berakhir sejak mereka tidak terkena krisis utang Eropa dan penurunan mata uang euro," ujar analis Bank of New York Mellon, Michael Woolfolk.

Data Departemen Keuangan AS menunjukkan, China rata-rata telah membeli surat utang AS sebesar USD10,3 miliar per bulan pada 2009 dan USD8,2 miliar per bulan selama empat bulan pertama 2010.

"Meskipun jatuh dari rekor teringgi penjualan surat utang pada Maret lalu, arus masuk modal jangka panjang ke AS etap kokoh," kata Gregory Daco, ekonom AS di IHS Global Insight.

Dia menambahkan, kepercayaan investor asing terhadap pemulihan AS digambarkan oleh meningkatkan kepemilikan dari ketiga pemegang surat utang asing terbesar dari Departemen Keuangan yakni China, Jepang, dan Inggris.

Sementara itu, desakan terhadap revaluasi nilai tukar yuan kembali mengemuka. Kali ini Kepala Ekonom Dana Moneter Internasional (IMF) Oliver Blanchard yang menyatakan Beijing harus secepatnya melepas patokan yuan dari saat ini 8,6 yuan per dolar AS untuk mendukung pemulihan ekonomi global.

“Beberepa sektor ekonomi di China telah mengalami gejala overheating dan pekerjanya meminta upah lebih tinggi. Mereka pasti tidak ingin laju inflasi tumbuh dan berisiko,” kaya Blanchard dalam wawancara dengan surat kabar Finlandia Kauppalehti seperti dikutip The Teleghraph kemarin.

Menurut Blanchard, dirinya tidak mengetahui kapan dan berapa besar nilai tukar yuan akan revaluasi. Namun dia meyakini kebijakan revaluasi akan mengikuti tingkat suku bunga.

Adanya patokan nilai tukar yuan di level rendah banyak mendapat kritik dari mitra dagang China seperti AS. Pasalnya, dengan rendahnya yuan, barang-barang China yang dijual ke AS menjadi sangat murah sehingga produk lokal AS tidak bisa bersaing. Begitu juga sebaliknya, produk AS yang dijual ke China menjadi lebih mahal.

Hal ini telah mendorong Presiden AS Barack Obama mendesak China menaikkan nilai tukar yuan supaya China tidak dianggap kontra produktif dengan upaya pemulihan pascakrisis global.

Sebelumnya, Presiden China Hu Jintao telah memberikan sinyal bahwa pemerintahannya akan mengubah kebijakan tentang yuan. Namun dia menegaskan, China akan melakukannya dengan tetap memegang prinsip independent, terkontrol dan diterapkan secara bertahap.

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini