4 Cara Mudah Melihat Perusahaan Potensial & Menguntungkan

Rheza Andhika Pamungkas, Jurnalis · Selasa 14 September 2010 09:21 WIB
https: img.okezone.com content 2010 09 14 226 371963 vKedep0KF6.jpg Ilustrasi

JAKARTA - Investor yang bermain di pasar modal Indonesia haruslah jeli jika ingin mendambakan keuntungan yang berlipat. Untuk itu, setiap investor harus mau melihat dan menganalisis semua laporan keuangan dari semua perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Lantas dengan jumlah emiten yang ada saat ini sekitar 400-an, butuh berapa lama untuk membacanya? Tentu yang dibayangkan adalah pekerjaan yang membosankan dan sangat menguras energi dan waktu.

"Padahal sebenarnya kita bisa baca satu laporan keuangan hanya dalam waktu 10 menit. Kalo 400 perusahaan 4000 menit, mungkin kurang dari 3 hari anda bisa dapat 'berlian'," ujar Wakil Presiden dan Analis PT Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere saat ditemui di kantornya, Jakarta belum lama ini.

Lalu, bagaimana caranya? Ia mengaku telah membuat suatu sistem membaca laporan keuangan hanya dalam waktu 10 menit dengan melihat pada empat indikator untuk dapat mengetahui apakah perusahaaan ini pantas dilihat, ataukah perusahaan tersebut sampah (tidak pantas dilihat).

Berikut adalah penjelasan dari Nico terkait empat indikator dalam membaca laporan keuangan dalam waktu 10 menit.

1. Perhatikan Penjualan (Sales) dan Laba Bersihnya.

Yang pertama, kita harus melihat ada kenaikan Sales dan Laba Bersihnya dari tahun ke tahun. Jika sekali-kali Laba Bersihnya turun, It's oke lah. Karena kita melihat iklim usaha kalo ada perlambatan dalam Gross Domestic Product  (GDP) dan sebagainya, jadi dapat dimengerti bahwa perlambatan kinerja dalam perusahaan itu merupakan hal yang wajar.

Tetapi secara keseluruhan (overall) dari tahun ke tahun itu seharusnya sales dan laba bersihnya naik. Dan biasanya cara perusahaan menaikkan sales-nya adalah dengan menaikkan harga atau jasanya atau bisa juga menjual lebih banyak barang dan jasanya.

Tetapi harus ada konsistensi dalam kenaikan laba bersih dan pendapatannya. Jangan naik, turun, naik, turun. Itu jelek sekali. Tetapi perusahaan yang baik itu, naik dari tahun ke tahun sehingga perusahaan itu jauh lebih layak untuk dibidik.

Lalu perhatikan juga jangan-jangan laba bersihnya naik akan tetapi sales-nya tidak mengikutinya. Ada apa ini?

Jadi hal tersebut juga ada formulanya. Nico berpatokan pada sales, dimana sales itu harus naik minimum 70 persen dari kenaikan laba bersihnya. Jadi misalkan laba bersihnya naik 10 persen, maka sales-nya harus naik 70 persen.

Hal ini karena di Amerika Serikat (AS) saat ini banyak perusahaan berhasil naikkan laba bersihnya dengan puluhan persen tetapi sales-nya tidak mengikutinya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini karena perusahaan tersebut menerapkan kebijakan non sales (diluar penjualan). Artinya, perusahaan tersebut memangkas misalnya tenaga kerja, biaya marketing, melakukan efisiensi dan sebagainya.

Jadi ini sebenarnya bukan menunjukkan perusahaan yang sehat, tetapi ini menunjukkan perusahaan yang desperate (putus asa). Perusahaan itu tahu, bahwa sulit menaikkan sales-nya. Maka perusahaan tersebut akan mencari kebijakan non sales. Mungkin dengan cara inilah investor dapat dikelabui. Sehingga kenaikan laba bersihnya dari non cash pendapatannya.

Terkadang juga ada perusahaan yang menjual asetnya (asset sales) demi menaikkan Laba Bersihnya. Misalnya menjual aset di anak usahanya. Dengan melakukan hal itu, tentunya akan menaikkan laba bersihnya. Padahal itu bukan berhubungan dengan operasional sebetulnya. Itu extraordinary event. Itu hanya terjadi sekali-kali.

Terkadang ada juga perusahaan yang laba bersihnya melonjak akibat forex gain atau forex loss. Ini bukan operasional. Makanya untuk menghindari itu, jangan terlalu berpatokan pada laba bersihnya. Tapi juga melihat pada cashflow statement-nya.

2. Arus Kas-nya (Cashflow)

Perusahaan yang baik dapat dilihat dari dilihat dari arus kas (cashflow) yang positif.

cashflow yang negatif lama kelamaan akan berdampak fatal jika terus dipertahankan.

Cashflow yang dimaksud adah free cashflow. Free cashflow adalah: operating cashflow (arus kas/kas bersih dari aktivitas operasi) dikurangi belanja modal (capital expenditure/capex) sama dengan free cashflow.

Free cashflow artinya anda bisa mengalokasikan untuk apa aja. Untuk laba yang ditahan, juga sebagian untuk deviden. Nah ini yang penting untuk investor, bukan spekulan. Dan untuk investor asing biasanya mereka lihat cashflow-nya. Karena mereka menginginkan deviden.

Dan jika cashflow suatu perusahaan itu negatif. Ini diibaratkan anda mengalami banyak pendarahan, Dan cashflow itu darah perusahaan. Kalau anda kehilangan darah terus perusahaan akan bleeding and death.

Karena itu perusahaan berpotensi kolaps karena cashflow-nya negatif terus. Solusinya, perusahaan tersebut akan tambah utang untuk tambah modal. Tetapi sampai kapan investor akan percaya? Dan jika menambah utang maka konsekuensinya beban bunga akan naik.

Makanya kalo jika kita melihat cashflow-nya negatif, maka akan mempengaruhi DER-nya (Debt to Equity Ratio/rasio utang terhadap modal) juga. Saat ini ada satu perusahaan yang DER-nya diatas empat dan perusahaan tersebut mau menurunkannya. "Tetapi selama masih diatas satu tidak akan saya lihat saham itu," kata Nico.

3. DER (Debt to Equity Ratio) atau Rasio Utang Terhadap Modal

Perusahaan yang sehat adalah perusahaan yang DER-nya kecil atau berada di bawah 0,8 atau dibawah 80 persen tergantung anda melihatnya. Cara melihat DER suatu perusahaan adalah : total utangnya (total liabilities) dibagi equity (modal/ekuitas) dikali 100 persen.

4. Operating Profit Margin (OPM)

OPM makin besar makin bagus. Kenapa? Karena kalau misalkan ada perlambatan perekonomian atau kompetisi meningkat yang punya OPM yang sangat besar bisa menurunkannya agar mudah. Tetapi kalau misalkan punya OPM kecil, maka perusahaan tersebut untuk menurunkannya akan sangat susah.

Cara melihat OPM itu : Laba usaha dibagi sales (penjualan) dikali 100 persen.

Lantas, berapa patokan persentase OPM suatu perusahaan yang baik?  Misalkan di sektor CPO yang saya ingat itu PT BW Plantations Tbk (BWPT), perusahaan yang masuk empat besar di sektornya itu OPM-nya 60 persen. Itu besar sekali.

Dan jika kita sudah memakai analisa seperti itu, ibaratnya kita jadi punya penyaring mana saham yang potensial dan mana yang tidak berprospek cerah. Kita telah mem-filter semua saham.

Dan juga kita akan melakukan filter yang kedua, yakni membeli saham dengan fundamental yang kokoh dengan harga yang murah. Karena percuma kan anda beli barang yang bagus tetapi mahal. Tunggu saja saat pasar anjlok baru kita beli saham tersebut. Misalkan saya beli harga barang 100 di harga 50. Kita tahu harga barangnya berapa. Saat investor susah terus mau jual barulah kita membelinya.

Untuk itu ada dua yang dilihat. Pertama Price Earning Ratio (PER) nya dihitung. Cara menghitungnya: laba bersih per saham dibagi harga sahamnya.

Yang kedua yield devidennya. Cara menghitungnya: deviden yang diberikan oleh perusahaan dibagi dengan harga pasar. Signifikan atau tidak dengan harga yang diberikan.

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini