Share

Risiko Perang Mata Uang Rendah

M Faisal, Jurnalis · Kamis 30 September 2010 07:29 WIB
https: img.okezone.com content 2010 09 30 213 377509 db8FH8ZIdq.jpg Ilustrasi

WASHINGTON - Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Dominique Strauss- Kahn menilai terjadinya perang mata uang rendah. Namun, risiko itu dinilai tidak bisa diabaikan melihat aksi intervensi oleh sejumlah negara atas mata uangnya beberapa waktu terakhir.

Sejumlah negara ekonomi maju disinyalir sengaja menggelontorkan mata uangnya di pasar valas dengan tujuan untuk melemahkan nilai tukar dan membantu ekspor negaranya. Langkah itu memicu kemarahan pengambil kebijakan di sejumlah negara. Menteri Keuangan Brasil Guido Mentega, misalnya barubaru ini berkomentar keras setelah mata uang negara itu, real, menguat dan mengancam kinerja ekspor yang vital bagi perekonomian negara itu.

”Kita berada di tengah perang mata uang internasional. Ini menjadi ancaman karena mengurangi daya saing (ekspor),”ujar Mantega di Sao Paulo belum lama ini seperti dikutip dari AFP.

Dia pun mengisyaratkan aksi intervensi akan segera dilakukan oleh negara tersebut. Dalam beberapa pekan terakhir, hampir selusin negara mulai dari Kolombia hingga Singapura mengakui telah melakukan pembelian mata uang lokal di pasar valas dengan harapan membuat ekspor lebih murah. Kendati sejumlah pihak telah mengekspresikan kemarahannya, Strauss-Kahn menilai kemungkinan perang mata uang secara habis-habisan kecil terjadi.

”Saya merasa risiko itu kecil, sebab semua pihak mengerti bahwa hal itu akan menjadi sebuah konflik yang besar dan memiliki dampak negatif tinggi.Namun,hal itu mungkin saja (terjadi),”ungkapnya.

Penilaian senada dikatakan analis dari Foreign Exchange Analytics David Gilmore.Menurut dia, wacana perang mata uang global terlalu dilebih-lebihkan. ”Namun,menurut saya risiko konfrontasi di tingkat rendah antara sejumlah negara demi melindungi ekspor masing-masing memang meningkat dalam kondisi perekonomian global yang belum stabil saat ini,”tuturnya.

Gejolak paling besar menyangkut mata uang saat ini adalah antara China dan Amerika Serikat (AS). Negeri Paman Sam itu diketahui telah bertahun-tahun mengeluhkan kebijakan China yang dengan sengaja menekan nilai mata uangnya dan menyebabkan neraca perdagangan antara kedua negara timpang.

Langkah terakhir yang tengah dilakukan AS untuk menekan China agar segera melepas intervensi mata uangnya terhadap dolar adalah menyiapkan sanksi bagi Negeri Panda itu. Terkait dengan itu, isu mengenai pengaturan nilai tukar diperkirakan akan menjadi bahan pembicaraan dalam pertemuan antarmenteri keuangan dan gubernur bank sentral di Washington pekan depan,yang akan mendahului pertemuan tahunan IMF serta pertemuan puncak G 20 di Korea Selatan.

”Saya rasa hal itu akan menjadi salah satu pertanyaan yang bakal ramai didiskusikan dalam pertemuan tahunan nanti,juga dalam dua pertemuan di Korea pada Oktober dan November nanti,” ujar Strauss-Kahn.

Namun,menurut seorang mantan petinggi IMF, masalah itu setidaknya juga merupakan kesalahan IMF. ”IMF telah melepaskan tanggung jawab pengawasannya, sehingga di luar sana keadaan sudah sangat bebas.Anda bisa melakukan apa saja,” ujar mantan pejabat IMF Morris Goldstein yang juga anggota dari Peterson Institute for International Economics.

”Jika dibiarkan mengintervensi dan memanipulasi nilai tukarnya selama tujuh atau delapan tahun berturut-turut tanpa ada komentar apapun dari IMF,kenapa pihak lain tidak boleh melakukan hal yang sama?”katanya.

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini