China Kecam Legislasi AS untuk Yuan

Yanto Kusdiantono, Jurnalis · Jum'at 01 Oktober 2010 07:23 WIB
https: img.okeinfo.net content 2010 10 01 213 377931 MT5Cj7MNXS.jpg Ilustrasi

BEIJING - China kemarin menolak legislasi baru Amerika Serikat (AS) untuk menjatuhkan sanksi bagi negara yang memanipulasi nilai tukarnya.

China memperingatkan tekanan untuk memperkuat yuan bisa merusak hubungan dagang kedua negara. Beijing juga menyatakan, aturan dalam bentuk Rancangan Undang-Undang yang disahkan DPR AS, Rabu (29/9/2010) melanggar aturan Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/ WTO).

China mengklaim kebijakan AS selama ini terhadap mata uangnya tidak secara langsung membuat mata uangnya undervalued. Sebelumnya anggota Parlemen AS menuduh Beijing mempertahankan nilai tukar yuan secara artifisial di level rendah untuk memberikan keuntungan bagi eksportir China. Hal itu dinilai tidak adil bagi perdagangan kedua negara karena harga produk AS di China justru mahal dan tidak bisa bersaing dengan produk buatan Negeri Panda.

Parlemen dan Pemerintah AS juga menyalahkan Beijing karena melemahnya yuan telah menyebabkan hilangnya pekerjaan warga AS. “Kami dengan tegas menentang persetujuan Kongres AS atas aturan ini,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Jiang Yu kepada wartawan di Beijing.

Dia menambahkan, kebijakan tersebut akan menjadi eksperimen bagi langkah proteksionisme terhadap China. Selain itu, alasan nilai tukar yuan yang rendah juga hanya akan merusak perdagangan dan ekonomi kami dengan AS serta berdampak negatif bagi perekonomian kedua negara dan dunia.

Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Perdagangan China Yao Jian mengatakan, RUU tentang yuan dari AS tidak konsisten dengan ketentuan yang terkait dari WTO yang mengamanatkan penyelidikan antisubsidi berdasarkan alasan nilai tukar. “China tidak pernah membuat mata uang undervalueduntuk mendapatkan keuntungan kompetitif. AS tidak bisa menggunakan defisit perdagangan dengan China sebagai alasan untuk mengadopsi langkah-langkah proteksionis dalam perdagangan,” ucap Yao seperti dikutip media pemerintah.

Dia berharap semua pihak di AS bisa memberikan penilaian objektif dan komprehensif saat memutuskan RUU tersebut untuk menjaga hubungan ekonomi dan perdagangan kedua negara.

Dalam RUU tersebut, DPR AS mendesak pemerintah pimpinan Barack Obama mempertimbangkan kebijakan terhadap mata uang China yang dinilai telah memberikan subsidi bagi perdagangan. DPR AS menilai cara tersebut tidak tepat sehingga RUU itu memungkinkan diperluasnya kekuasaan Departemen Perdagangan AS untuk mengatur tarif bea masuk produk dari China.

RUU yang disahkan dengan voting 348 : 79 suara itu merupakan salah satu upaya untuk menunjukkan kuatnya keinginan untuk mengambil hati warga AS menjelang pemilihan umum senat November mendatang.Keputusan tersebut juga bisa menjadi bahan kampanye para anggota parlemen yang sedang membawa ekonomi AS berjuang melawan tingginya tingkat pengangguran yang mencapai 9,6 persen.

“Hubungan AS-China adalah salah satu yang penting dalam segala hal baik itu budaya, politik, diplomasi, ekonomi, maupun perdagangan. Tapi, kita perlu aturan ini agar mereka bermain sesuai aturan,” kata Ketua DPR asal Partai Demokrat Nancy Pelosi.

Senat AS memberikan sinyalemen akan mendukung RUU tersebut setelah pemilihan nanti untuk kemudian disahkan Kongres. Namun, nasib undang-undang itu masih menunggu keputusan pemerintah Obama yang hingga kini belum resmi memberikan dukungannya. Sebelum DPR AS bersidang, Obama mengatakan bahwa yuan masih undervalued dan memberikan kontribusi dalam menguapnya defisit perdagangan AS dengan China.

“Orang biasanya berpikir bahwa mereka mengelola uang mereka dengan cara membuat barang-barang kami lebih mahal di sana dan menjual dengan barang mereka lebih murah di sini,” katanya.

China telah berjanji pada Juni lalu untuk melonggarkan nilai tukar yuan yang secara efektif dipatok pada kisaran 6,8 yuan per dolar sejak pertengahan 2008. Sejak itu mata yuan mengalami penguatan terhadap dolar meski hanya dua persen. Kemarin Bank Sentral China (People Bank of China/PBOC) menetapkan kurs tengah yuan diperbolehkan diperdagangkan pada level 6,7011 terhadap dolar.

PBOC memberikan toleransi yuan dapat bergerak naik atau turun 0,5 persen pada hari saat diperdagangkan. Pekan lalu, saat berada di New York,Perdana Menteri China Wen Jiabao menolak untuk tunduk kepada AS yang menginginkan nilai tukar yuan diperkuat.Dia menyebutkan, hal itu akan menyebabkan perusahaan China bangkrut dan warganya kehilangan pekerjaan. Menjelang pemungutan suara di DPR AS, PBOC berjanji untuk meningkatkan fleksibilitas yuan dan secara bertahap meningkatkan nilai tukar berdasarkan mekanisme yang berlaku.

Kritik juga datang dari kelompok pengusaha AS yang berbisnis di China karena upaya pemberian sanksi kepada China dinilai akan merusak hubungan dagang dengan Negeri Panda.

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini