AS-China Sepakati Perjanjian Dagang USD45 Miliar

Yanto Kusdiantono, Jurnalis · Kamis 20 Januari 2011 16:17 WIB
https: img.okeinfo.net content 2011 01 20 213 416142 ew8SugheBl.jpg Ilustrasi. Foto: Corbis

WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) dan China mengumumkan sejumlah kesepakatan perdagangan senilai USD45 miliar. Kerja sama itu menandakan upaya dua negara yang sedang mencoba mempersempit perselisihan ekonomi.

Kesepakatan tersebut disampaikan saat Presiden AS Barack Obama dan Presiden China Hu Jintao bertemu Rabu (19/1) di Washington. Dalam pertemuan tersebut sedikitnya 70 perjanjian dagang disepakati oleh para eksportir dari 12 negara bagian AS dan delegasi bisnis China.

Obama menyatakan harapannya bahwa hubungan dengan China bisa menandakan perubahan untuk menyisihkan "stereotip lama" yang memungkinkan perusahaan AS perusahaan lebih mudah mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan ekonomi China.

"Saya benar-benar percaya bahwa ‘kedamaian’ China baik bagi dunia, juga untuk Amerika," ujar Obama, dilansir dari AFP, Kamis (20/1/2011).

Obama menambahkan, paket kerja sama senilai USD45 miliar akan mendukung 235 miliar lapangan pekerjaan di AS. Namun dia juga menyatakan bahwa masih ada sejumlah kendala "di lapangan" bagi perusahaan AS merujuk pada perselisihan yang sering muncul sebagai dampak tumbuhnya kekuatan ekonomi China.

Obama juga menyerukan kembali perlunya penguatan yuan lebih cepat terhadap dolar untuk mengurangi rendahnya niekspor China secara artifisial. Akan tetapi Hu merespons seruan itu dengan menyatakan bahwa China akan lebih berfokus pada pertumbuhan domestik yang memimpin perekonomian.

Wakil Menteri Luar Negeri China Cui Tiankai mengatakan, kebijakan mengubah nilai tukar mata uang Beijing tidak akan berubah secara substansi karena China akan menerapkan kebijakan secara bertahap dan hati-hati.

Namun isu mata uang diperkirakan masih jauh dari jangkauan kedua negara yang secara ekonom terus bersaing itu. Obama dan Hu memilih fokus pada kesepakatan perdagangan termasuk pesanan besar-besaran pesawat Boeing sebanyak 200 unit senilai USD19 miliar.

Kesepakatan tersebut merupakan salah satu transaksi dagang terbesar di bisnis penerbangan komersial setelah pesaingnya dari Eropa, yakni Airbus, menyepakati pengadaan pesawat senilai USD15,6 miliar  untuk maskapai IndiGo India.

Bukti fokus kerja sama ekonomi AS-China terlihat dari kehadiran sejumlah pemimpin bisnis AS pada jamuan makan malam di Gedung Putih Rabu (19/1) waktu setempat termasuk Chief Executive Officer (CEO) Boeing Jim McNerney, CEO Microsoft Steve Balmer, CEO Goldman Sachs Llyod Blankfein dan CEO General Electric Jeff Immelt.

Analis menyatakan, kehadiran para pebinsis AS itu merupakan bukti dari hubungan bakal munculnya hubungan bisnis yang cepat dan mendalam antara AS dan Negeri Panda.

"Ini bagian dari persiapan. Tetapi sangat penting mengingat konteks politik antara China dan AS," kata Yukon Huang, pakar Asia pada Carnegie Endowment for International Peace.

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini