nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Manufaktur China Kalahkan Amerika

Koran SI, Jurnalis · Rabu 16 Maret 2011 08:30 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2011 03 16 213 435323 cG71pMHEn7.jpg Ilustrasi

WASHINGTON - China mengalahkan Amerika Serikat (AS) sebagai produsen manufaktur terbesar dunia pada 2010. Berdasarkan survei IHS Global Insight, China menyumbang 19,8 persen total produksi global, sedangkan AS hanya 19,4 persen.

Berdasarkan nilainya,produksi manufaktur China sepanjang tahun lalu mencapai USD1,995 triliun (Rp17.955 triliun), sedangkan AS hanya USD1,952 triliun (Rp17.568 triliun). Namun, menurut IHS Global Insight, jika dilihat dalam hal produktivitasnya, kemampuan pekerja China menghasilkan barang masih jauh di bawah AS. Di Negeri Paman Sam secara umum seorang pekerja mampu memproduksi delapan kali lipat dibanding pekerja China.

“Faktanya, output sektor manufaktur AS tahun lalu dihasilkan dari 11,5 juta pekerja. Bandingkan dengan China yang jumlah pekerjanya sekitar 100 orang,”ungkap HIS Global Insight seperti dikutip AFP.

Di urutan kedua negara dengan produksi manufaktur terbesar adalah Jepang yang tahun lalu menghasilkan USD1,027 triliun, diikuti Jerman sebesar USD618 miliar. Dalam laporannya, IHS Global Insight juga memberikan catatan terhadap cepatnya pertumbuhan manufaktur China sepanjang periode 2008–2010, yakni 20,5 persen per tahun.

Angka tersebut lebih cepat dibanding AS yang hanya tumbuh 1,8 persen per tahun dan Jepang 4,25 persen per tahun.Pertumbuhan manufakturnya Jerman dan Korea Selatan (Korsel) justru melambat, sedangkan India naik 7,3 persen.

Investasi Asing Februari Turun

Di bagian lain,Pemerintah China kemarin menyatakan investasi langsung asing di China pada Februari mencapai USD7,8 miliar (Rp70,2 triliun).Angka ini naik 32,2 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Meski meningkat secara tahunan, investasi asing langsung Februari masih di bawah angka Januari yang mencapai USD10,03 miliar. Sebagai perbandingan, investasi langsung asing China pada tahun lalu mencapai USD105,7 miliar, naik 17,4 persen dibanding 2009.

Dari jumlah tersebut seperlima dananya mengalir ke sektor real estat yang sedang booming. Para analis mengatakan, menurunnya investasi asing ke negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia itu disebabkan sentimen investor yang dipengaruhi penguatan nilai tukar yuan dan naiknya suku bunga acuan. Karena itu, para investor asing mengalihkan dananya ke negara lain dengan harapan mendapatkan imbal hasil lebih baik.

Kendati sudah terjadi penurunan investasi, China masih khawatir dengan kenaikan harga makanan dan real estat yang masih tinggi sehingga memicu inflasi.Padahal, otoritas bank sentral telah melakukan sejumlah upaya termasuk meminta perbankan menaikkan cadangan permodalannya dan memperketat penyaluran kredit. Indeks harga konsumen merupakan ukuran kunci terhadap inflasi, pada bulan lalu naik 4,9 persen dibanding tahun sebelumnya.

Sementara itu,selain menerima aliran modal asing ke dalam negeri, para pelaku bisnis China juga gencar melakukan ekspansi ke luar negeri.Bukan hanya di sektor energi yang menjadi kebutuhan utama China dalam mendukung pembangunannya, tapi juga di sektor lain seperti transportasi.

Awal pekan ini,perusahaan konstruksi China Civil Construction Corporation menyepakati kontrak senilai USD7 miliar (Rp63 triliun) untuk mengembangkan jaringan kereta api di Chad, salah satu negara kaya minyak di Afrika. Menteri Infrastruktur dan Transportasi Chad Adoum Younousmi menyatakan,konstruksi proyek tersebut akan mulai dikerjakan pada awal tahun depan.Tahap pertama akan dibangun 1.344 km rel kereta. (yanto kusdiantono)

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini