Ada Batu Bara di Balik Gempa Jepang

Ade Hapsari Lestarini , Jurnalis · Minggu 20 Maret 2011 15:14 WIB
https: img.okeinfo.net content 2011 03 20 320 436822 XXlXQxU0eE.jpg Ilustrasi. Foto: Corbis

JAKARTA - Produksi listrik Jepang terganggu dengan rusaknya beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) saat ini, setelah gempa 9,0 Skala Richter yang melanda 11 Maret 2011 lalu.

Total sebanyak 9,7 gigawatt (GW) listrik tenaga nuklir yang diproduksi TEPCO, Tohoku-EPCO, dan Jepang Atomic Power otomatis shut-down karena gempa (Fukushima Dai-Ichi, Fukushima Daini, Onagawa dan Tokai Daini).

Pemerintah Jepang sendiri telah mengevakuasi puluhan ribu orang yang tinggal di dekat PLTN dan memperingatkan warga Jepang untuk tinggal di dalam ruangan dan menutup kulit mereka serta mulut sebagai upaya perlindungan untuk menghindari radiasi nuklir yang telah menyebar akibat meledaknya PLTN.

Dikutip dari situs Kementerian ESDM, Minggu (20/3/2011), berdasarkan data yang dikeluarkan oleh International Energy Agency (IEA), pasokan listrik yang dihasilkan Jepang pada 2009 terdiri dari tenaga batu bara (28 persen), nuklir (27 persen), gas (hampir seluruhnya bersumber dari LNG) 26 persen, minyak sembilan persen, dan hidro delapan persen.

Dengan rusaknya PLTN yang menyumbang lebih dari seperempat pasokan listrik Jepang, Pemerintah harus mencari alternatif lain untuk memenuhi pasokan listriknya, salah satunya  dengan menambah impor batu bara.

"Pasar batu bara akan mendapatkan keuntungan dari kejadian yang menimpa Jepang,” ungkap Peabody Senior Vice President for Business Development di Florida, Robert Reilly.

Data IEA menyebutkan, Jepang merupakan importir batu bara terbesar di dunia, dengan membeli campuran batu bara metalurgi dan termal, sebesar 165 juta metrik ton pada 2009.

Sebagian besar impor batu bara Jepang berasal dari tambang batu bara di Australia, yang pasokannya terbatas sejak akhir tahun lalu akibat banjir dan badai kuat yang mengakibatkan penghentian produksi dan terbatasnya operasional terminal ekspor.

Dari kacamata Indonesia, Jepang merupakan importir batu bara yang cukup signifikan. Menurut data Ditjen Minerba, di 2010 Jepang mengimpor batu bara Indonesia sebesar 24 juta ton, atau hampir 10 persen dari total produksi batu bara Indonesia 2010 sebesar 275 juta ton.

Realisasi impor batu bara Jepang sendiri pada 2010 berjumlah 116,5 juta ton (Reuters), atau dengan kata lain pada 2010 saja sekira 20 persen kebutuhan impor batu bara Jepang dipasok dari Indonesia.

Sulit dijabarkan dengan tepat, berapa banyak tambahan batu bara yang akan dibutuhkan untuk mengatasi krisis nuklir yang melanda Jepang. Namun, Reilly mengatakan kemungkinan kebutuhan batubara Jepang akan meningkat 5-10 juta ton. "Yang jelas, dari perspektif pasar batu bara, kejadian ini merupakan hal yang positif”, ujarnya. 

(ade)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini