Dua Perusahaan Investasi Serat Rayon

Sandra Karina, Jurnalis · Minggu 10 April 2011 14:56 WIB
https: img.okezone.com content 2011 04 10 320 444364 PFwyfRaMpw.jpg Ilustrasi

BANDUNG- Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat Usman mengatakan, terdapat dua perusahaan nasional yang akan melakukan investasi berupa pembangunan pabrik serat rayon di Indonesia pada tahun depan. Nilai investasi dari masing-masing perusahaan itu yakni melebihi USD100 juta. Sehingga nantinya, kata dia, jumlah produsen serat rayon akan menjadi empat. Pada saat ini, terdapat dua produsen utama serat rayon yakni South Pasific Viscose (SPV) dan PT Indo Bharat Rayon (IBR).

Kendati belum bisa menyebutkan nama kedua perusahaan baru tersebut, namun Ade menjelaskan, masing-masing pabrik baru itu akan memproduksi sekitar 20.000 serat rayon per tahun. Pada saat ini, menurut Ade, kedua perusahaan baru tersebut masih melakukan uji kelayakan (feasibility study) serta mencari lokasi pembangunan pabrik. Ade memastikan, kedua perusahaan itu akan membangun pabrik di wilayah pulau Jawa.

“Ada tiga alternatif wilayah di pulau Jawa tapi saya belum bisa bilang dimana saja. Karena di Jawa, sumber daya manusia (SDM) tersedia. Selain itu, pelabuhan ekspor impor juga berlokasi di Jawa. Pembangunan fisik pabrik dilakukan pada tahun depan. Over all, Indonesia masih menjadi tujuan investasi,”kata Ade di Bandung akhir pekan lalu.

Ade mengaku, pihaknya belum mengetahui berapa besar porsi dari hasil serat rayon yang akan diekspor dan dijual di dalam negeri oleh dua perusahaan tersebut. “Ekspor kan tanpa PPN. Kita tidak bisa menuduh produsen menjual dengan harga lebih murah untuk ekspor. Harus ditelisik perbedaan impor dan ekspor,”ucapnya.

Penurunan Penggunaan Kapas

Di sisi lain, Dirjen Basis Industri Manufaktur (BIM) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Panggah Susanto mengatakan, kedepan, tren penggunaan kapas sebagai salah bahan baku utama tekstil dan produk tekstil (TPT) akan mengalami penurunan, lalu akan diisi oleh serat poliester.

“Kontribusi kapas di kain akan menurun. Jadi poliester akan naik. Kain yang bagus itu, apabila komposisi poliester semakin tinggi. Kedepan, kualitas poliester akan semakin baik. Kapas penggunaannya akan menurun kedepan. Di industri TPT, kapas masih 99,5% impor,”kata Panggah.

Lebih lanjut Ade mengatakan, tren tersebut disebabkan oleh lonjakan harga kapas yang terus terjadi. “Harga naik tiga kali lipat, pasti penggunaannya turun. Dulu punya uang Rp1 miliar, bisa beli 1.000 kilogram (kg), sementara sekarang hanya bisa beli 300 kg. Sehingga, harus ada tambahan modal kerja. Akan ada suatu resiko,”tegas Ade.

Selain itu, menurut Ade, penurunan produksi di negara-negara produsen kapas terbesar di dunia seperti Pakistan, India, dan China, menyebabkan terjadinya lonjakan harga kapas. “Impor kapas menurun secara volume, tapi secara value naik. Seluruh petani di beberapa negara beralih menanam kapas ketimbang kedelai dan jagung. Pada Agustus dan september 2011, apabila tidak ada perubahan cuaca, maka akan panen besar kapas, suplai over daripada demand. Harga jatuh,”jelas Ade.

Sementara itu, untuk peningkatan kapasitas produksi serat rayon, menurut Panggah, pemerintah akan menghidupkan kembali industri bahan baku serat rayon yakni dissolving pulp.

“Pemerintah akan mempersiapkan sektor industi pulp kayu agar memproduksi dissolving pulp sehingga negative list di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bisa dicabut,”jelas Panggah.

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini