Efek Beragun Aset

Senin 30 Mei 2011 10:14 WIB
https: img.okezone.com content 2011 05 30 226 462359 MXdPbixQ8z.jpg Logo BEI. Foto: okezone

Instrumen investasi di pasar modal tidak hanya saham dan obligasi. Ada instrument lain yang juga diperdagangkan yang dikenal dengan istilah Efek Beragun Asset (EBA) atau asset backed securities (ABS).

Di pasar modal Indonesia, instrument ini memang tergolong baru sama sekali. Meskipun dari sisi peraturan, payung hukumnya  sudah tersedia sejak 1997 namun hampir dua belas tahun sejak peraturan itu ada, barang yang disebut EBA itu belum tersedia di Bursa Efek Indonesia (BEI).

EBA baru tersedia pertama kali dan diperdagangkan di BEI pada Januari 2009, yang diterbitkan atas dasar Kontrak Investasi Kolektif  Efek Beragun Aset  Danareksa SMF I-KPR BTN.

Apa sih yang disebut dengan EBA? Dari namanya saja efek beragun asset, sudah bisa dibayangkan bahwa instrument ini diterbitkan dengan jaminan agunan asset tertentu. Investor pemegang efek akan mendapatkan pelunasan atas efek yang dipegangnya berasal dari pelunasan atas aset keuangan yang menjadi agunannya.

Biasanya nilai dari agunan lebih besar daripada jumlah dana yang diserahkan untuk mendapatkan efek tersebut. Karena itu EBA bisa dikelompokkan sebagai fixed income instrument. Jika disimak per definisi, maka Bapepam-LK dalam peraturan Bapepam No. IX.K.1 tentang Pedoman Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (Asset Backed Securities).

Di sana disebutkan bahwa EBA merupakan efek yang diterbitkan oleh Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset yang portofolionya terdiri dari aset keuangan berupa tagihan yang timbul dari surat berharga komersial, pemberian kredit kepemilikan rumah atau apartemen, efek bersifat utang yang dijamin pemerintah, sarana peningkatan kredit, serta aset keuangan yang setara dan aset keuangan lain yang berkaitan dengan aset keuangan tersebut.

Definisi tersebut menunjukkan ada beberapa macam jenis aset keuangan yang dapat diproses menjadi EBA. Jika di BEI, produk semacam ini sangat minim jumlahnya, di bursa luar negeri, apalagi yang sudah maju, EBA merupakan salah satu instrument investasi yang cukup diminati.

Bahkan, sejak 1997 lalu sudah beberapa perusahaan di Indonesia yang telah melakukan sekuritisasi kreditnya dan memperdagangkan EBA di bursa luar negeri. Sekuritisasi yang dimaksud adalah suatu proses transformasi aset yang tidak likuid menjadi surat berharga yang dapat diperdagangkan sesuai dengan kebutuhan investor.

Bagaimana bentuk imbal hasil investasi di EBA? Pada dasarnya ada dua versi imbal hasil yang bisa dinikmati pemegang instrument  EBA. Pertama, pengembalian berupa pokok dan bunga dilakukan secara bersamaan dengan tempo yang teratur dalam kurun waktu tertentu. Model imbal hasil seperti ini sering disebut dengan istilah amortizing assets backed securities.

Kedua, investor akan menerma imbal hasil berupa pembayaran bunga sebagai return  yang diberikan secara periodik. Sedangkan pelunasan pokoknya dilakukan pada akhir periode. Model ini dikenal dengan sebutan non-amortizing assets backed securities.

Dalam praktik, model imbal hasil investasi di EBA ini bisa merupakan modifikasi atau paduan dari model pertama dan kedua. Misalnya, dalam satu tahun pertama hanya dibayar bunganya saja, dan pada kurun selanjutnya, pada tahun ke dua dan seterusnya, pembayaran meliputi pokok dan bunga. (Tim BEI)

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini