Punya Uang Lebih, Orang Indonesia Cenderung Menabung

Sandra Karina, Jurnalis · Selasa 31 Mei 2011 18:30 WIB
https: img.okezone.com content 2011 05 31 320 463189 BEBsLXlhXt.jpg Ilustrasi. Foto: Corbis

JAKARTA - Menabung menjadi prioritas utama bagi sebagian besar konsumen di seluruh dunia. Tujuh dari sepuluh konsumen di Indonesia akan menaruh uang lebih mereka ke dalam tabungan.

“Ini dibandingkan dengan hanya 47 persen bagi konsumen global dan 62 persen untuk Asia Pasifik. Singapura juga mencatat proporsi yang tinggi untuk tabungan dengan 74 persen,” kata Managing Director Nielsen Catherine Eddy, di Jakarta, Selasa (31/5/2011).

Catherine menjelaskan, layaknya mayoritas negara di Asia Pasifik, jumlah konsumen yang tidak memiliki uang cadangan (spare cash) di Indonesia pada kuartal I-2011 relatif rendah, yakni hanya dua persen konsumen online menyatakan bahwa mereka tidak memiliki uang lebih. Jumlah ini tidak berubah dari kuartal sebelumnya. Tingkat pesimisme konsumen bahwa Indonesia akan keluar dari krisis pada akhir 2011 adalah 26 persen.

Setelah tabungan, lanjutnya, konsumen di Indonesia akan menghabiskan uang mereka untuk liburan sebesar 36 persen, investasi saham 31 persen, produk teknologi baru 29 persen, dan hiburan luar rumah 28 persen.

"Meskipun ada sedikit penurunan pada jumlah konsumen yang menaruh uang lebih mereka ke tabungan, tingginya tingkat penabung di Asia merupakan indikasi bahwa konsumen di Indonesia dan wilayah ini masih umumnya berhati-hati untuk belanja,” ujar Catherine.

Catherine menuturkan, sebagian besar negara di Asia Pasifik khawatir tentang peningkatan harga pangan pada kuartal I-2011, sedangkan konsumen di Indonesia masih memiliki kekhawatiran terhadap ekonomi sebesar 12 persen, atau naik dari kuartal IV-2010 sebesar 19 persen.

Selain itu, konsumen di Indonesia juga memiliki kekhawatiran akan keseimbangan pekerjaan atau kehidupan pribadi sebesar 11 persen, atau turun dari kuartal IV/2010 yang sebesar 14 persen, kenaikan harga BBM 12 persen, kesejahteraan anak-anak dan orang tua sembilan persen, global warming tujuh persen, stabilitas politik tujuh persen, kenaikan harga makanan lima persen, dan kesehatan enam persen.

Konsumen di Indonesia, kata dia, umumnya masih memiliki keprihatinan terhadap ekonomi meskipun stabilitas ekonomi yang telah dinikmati dalam beberapa tahun terakhir. Namun, lanjutnya, spekulasi yang terus menerus mengenai kenaikan harga telah mendorong peningkatan dalam kekhawatiran konsumen atas kenaikan harga BBM.

“Keprihatinan terhadap ekonomi hanya berdasarkan survey. Tidak ada indikator spesifik atau khusus ekonominya seperti apa. Mungkin dilihat dari GDP, tingkat inflasi, dan harga barang. Ketika bertanya dengan kelas atas, mereka akan bicara mengenai makroekonomi. Kalau dengan kelas menengah ke bawah akan bicara inflasi karena mereka lebih banyak membeli barang. Tiap konsumen punya pengukuran yang berbeda dibenaknya,” tandas Catherine.

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini