Share

Menperin: Green Industry Tidak Mustahil Dilakukan

Sandra Karina, Jurnalis · Senin 27 Juni 2011 11:36 WIB
https: img.okezone.com content 2011 06 27 320 473050 Y3YG1ajYbN.jpg Menteri Perindustrian MS Hidayat Foto: Tangguh Putra/okezone

JAKARTA - Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, gerakan industri hijau (green industry) bukan hal mustahil untuk dilakukan. Gerakan green industry, kata Hidayat, merupakan industri yang berwawasan lingkungan, menselaraskan pembangunan dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup,  serta mengutamakan efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan.   

"Itu bukan cost, tapi jadi capital bagi industri. Ini bukan hal mustahil dilakukan meski dalam rangka industrialisasi. Step by step dilakukan. Industri kita harus mengimplementasikan proses produksi berwawasan lingkungan. Tapi, tidak dipaksakan," kata Hidayat di Jakarta belum lama ini.

Sementara itu, Hidayat menjelaskan,  untuk mendorong gerakan green industry bukan tidak mungkin diberikan insentif. Saat ini, pemerintah, ujar dia, tengah membahas insentif pajak tax allowance dan tax holiday untuk investasi besar dalam rangka  memacu industrialisasi di Indonesia. Insentif itu, menurut Hidayat, akan diberikan bagi industri yang mampu menyerap banyak tenaga kerja.   

"Dengan demikian kita mengurangi dan menekan ekspor tenaga kerja," ucap Hidayat.

Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Budi Darmadi mengatakan, saat ini, industri semen dan besi baja merupakan sektor yang paling banyak mengkonsumsi energi. Sedangkan, industri automotif mulai mengarah ke green industry. Sehingga, kata dia, konsumsi energi per liter juga bisa ditekan.

"Green industry ini kan efisiensi proses produksi, termasuk konsumsi listrik yang semakin sedikit. Bahkan, hingga ke emisi (limbah) juga semakin rendah dan sedikit. Dengan begitu, biaya produksi akan semakin turun," kata Budi.

Terkait insentif yang akan diberikan, menurut Budi, salah satu contohnya adalah mobil murah dan ramah lingkungan (low cost and green car).

"Memang butuh proses, tapi bisa pararel dilakukan. Untuk memulai dan membangun gerakan ini, tetap harus dengan wajib. Tapi, green industry juga sudah menjadi tren dan memang dibutuhkan dalam rangka efisiensi," papar Budi.

Duta Besar Jepang untuk Indonesia Yoshinori Katori  mengatakan, peran dari perusahaan sangat penting untuk mendukung gerakan green industry.

"Kalau bisa, semua perusahaan harus berkontribusi untuk green industry. Saya juga berharap, semakin banyak perusahaan Jepang yang berkontribusi dalam rangka mengatasi tantangan terkait lingkungan dan masalah energi," tutup  Yoshinori. 

(and)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini