Menkeu Sambut Rencana BI Beli SBN Pakai Cadangan USD

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Kamis 11 Agustus 2011 14:29 WIB
https: img.okezone.com content 2011 08 11 20 490861 T37qwnvlcL.jpg Menkeu Agus Martowardojo. Foto: Koran SI

JAKARTA - Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo menyambut baik rencana Bank Indonesia (BI) untuk menggunakan dolar Amerika Serikat (AS) dalam membeli Surat Berharga Negara (SBN).

Agus mengungkapkan, pemerintah membuka kesempatan kepada BI untuk melakukan buy back obligasi yang dikeluarkan pemerintah. Menkeu menilai, jika hal tersebut adalah suatu bentuk kesiapan dari pada Indonesia dalam mengelola sistem keuangan.

"Kan bicara SBN perlu ada stabilisasi, ada Bond Stabilisation Fund (BSF), dan BSF itu ada part-part yang berperan," ungkap mantan Direktur Utama Bank Mandiri ini di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Kamis (11/8/2011).

Dijelaskannya, buy back SUN yang dilakukan oleh BI mekanismenya sama dengan buy back yang akan dilakukan BUMN untuk men-support Surat Utang Negara (SUN). "Ini adalah bentuk dari koordinasi yang ada di pemerintah bersama dengan BI untuk menjaga stabilisasi SUN kita," jelasnya.

Agus menambahkan, buy back yang akan dilakukan BI tersebut tidak hanya dilakukan untuk guna stabilisasi krisis, namun sudah menjadi suatu instrumen yang dapat digunakan sebagai instrumen moneter.

"Jadi kalau kta bilang hanya untuk krisis justru BI enggak nyaman. Kalau BI ada dana yang besar dan dia bisa menggunakan SUN, ini sudah menjadi suatu bentuk instrumen moneter yang sudah masuk dalam keseharian aktivitas. Tapi di balik itu juga bermanfaat untuk stabilisasi SUN dan juga untuk stabilisasi keuangan Indonesia," urainya.

Karenanya, tidak perlu ada kekhawatiran dalam kestabilan pasar SUN. "Yang saat ini ada koreksi lebih yang ekuitas kan. Valuation-nya ada perubahan, tapi pasar SUN, SBN-nya tetap stabil," imbuhnya.

"Jadi yang saya ingin sampaikan, kita punya framework, kita punya krisis manajemen protokol dan support-nya itu yang besar-besar, kalau buy back SUN kan enggak terlalu besar support-nya, tapi kalau sudah masuk dalam BUMN fund dan cadangan devisa, ataupun SAL itu jumlahnya besar," tukas dia.

Sebelumnya, BI hendak menggunakan cadangan dolar AS untuk membeli surat berharga negara dalam denominasi rupiah sebagai upaya stabilitas nilai tukar. Ini menjadi instrumen moneter baru di tengah ancaman pelarian dana asing.

Upaya memanfaatkan cadangan devisa untuk membeli SBN dilakukan dalam rangka menambah instrumen operasi pasar terbuka (OPT) yang biasa menggunakan rupiah. BI mengemas regulasi baru soal instrumen moneter tersebut dalam surat edaran kepada bank dan lembaga perantara tertanggal 8 Agustus 2011 dan dipublikasikan melalui situs resmi kemarin. Surat memuat perubahan kedua SE BI No. 12/18/ DPM 7 Juli 2010 perihal OPT.

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini