nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bisnis Sulam Kerudung yang Makin Menggiurkan

Yuni Astutik, Jurnalis · Selasa 30 Agustus 2011 18:27 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2011 08 28 22 497335 PFgIfQ1Ww2.jpg Ilustrasi Foto: okezone

DARI yang awalnya menyulam sendiri untuk kerudung yang dikenakannya, saat ini Ibu Nunung bisa mempunyai dua toko sebagai gerai yang menjajakan hasil kerajinan menyulamnya.

Diakuinya, pada awal usaha yang dirintisnya 10 tahun lalu, awalnya hanya iseng mencoba. Bagaimana mengaplikasikan sulaman menjadi indah dan cantik untuk dipasangkan di kerudung yang dikenakannnya.

"Awalnya iseng mencoba. Ya pengusaha kecil-kecilan saja. Terus juga diawal mempekerjakan ibu rumah tangga sekitar. Awalnya jual kerudung, itu kan kecil-kecilan," terang Ibu Nunung saat berbincang dengan okezone belum lama ini.

Dengan modal awal yang waktu itu memang terbilang tidaklah kecil sekira Rp10 juta, dirinya memantapkan hati untuk membuka toko sendiri dibilangan Ciputat. "Modal awalnya dulu cuma Rp10 juta. Besar juga sih, Karena kalau kita buka toko isinya sedikit peminat agak berkurang," jelasnya.

Pendapatan awalnya saat membuka toko memang tidak sebesar saat ini. Dengan harga baju yang dibanderol Rp130 ribu-Rp150 ribu, omzet per hari yang dikantonginya hanya Rp2 juta-Rp3 juta.

Ibu dengan tiga orang anak ini juga bercerita bagaimana susahnya mengawali bisnisnya ini. Salah satu kendala adalah selain belum banyak orang yang tahu baju dan kerudung buatannya, kain yang digunakan untuk bahan dagangannya juga terkadang susah dicari. "Kadang bisa cari kain sampai Bandung," imbuhnya.

Namun, semua itu bisa diatasi dengan kegigihannya malang melintang selama 10 tahun. Toko dengan nama "Tara Dipa Collection" saat ini mampu mencetak omzet yang lumayan per bulannya. Selain itu, tidak main-main, karyawan juga semakin bertambah banyak seiring banyaknya pesanan yang datang dari berbagai dareah di luar pulau Jawa.

"Pendapatan per hari sebenarnya tidak tentu. Tapi sekarang ini lumayan. Bisa mencapai Rp8 juta-Rp12 juta. Itu kalau ada pesanan dan banyak orang daerah yang pesan. Kan mereka pesannya banyak. Biasanya pesanan dari Kalimantan, Sumatera," tuturnya.

Seperti menjelang Lebaran misalnya, omzetnya bisa berkali lipat. Bahkan diakuinya, sebelum datangnya hari raya umat muslim tersebut, pesanan sudah banyak yang berdatangan.

Kemudian untuk jumlah karyawannya sendiri saat ini sudah mempekerjakan setidaknya 50 orang ibu rumah tangga. Merekalah yang membantu Ibu Nunung dalam memperbanyak sulaman yang diaplikasikan di kerudung, baju, mauapun sajadah yang dijualnya.

"Diawal karyawan cuma 10, sekrang sudah 50-an. Mereka itu ibu rumah tangga biasa. Jadi sambil mengurus rumah, kalau sudah selesai mereka menyulam. Sehari mereka biasanya mengerjakan satu. Semuanya memang benar-benar buatan tangan, tidak dengan mesin," ujarnya.

Dalam usahanya yang semakin berkembang ini, Ibu Nunung memang belum berniat untuk menambah toko lagi. Kendalanya memang ada pada keuangan. Kadang, pemesanan dalam partai banyak harus disiasati dengan memutar uang yang ada agar pemesanan bisa diselesaikan tepat waktu.

"Kalau untuk pinjam ke bank atau lembaga keuangan lain belum pernah. Dilihat dulu kondisi ke depannya. Kalau kondosi ke depannya maju ya berani. Kita lihat kondisi ke depan," akunya.

Dirinya pun berpesan jika dalam sebuah usaha apapun yang terpenting adalah niat serta keberanian. Karena dengan modal kegigihan, maka semuanya bisa dijalani dengan baik. "Segala sesuatu kalau kita pelajari dengan niat pasti bisa," tutupnya.

(and)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini