Sarana Multigriya Keluhkan Rendahnya KPR Indonesia

Rifa Nadia Nurfuadah, Jurnalis · Minggu 25 September 2011 13:48 WIB
https: img.okezone.com content 2011 09 25 320 506743 i0ao2VdGVV.jpg Ilustrasi. Corbis.

SUKABUMI - Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di Indonesia saat ini sangat terbatas. Padahal, adanya KPR akan memberikan dorongan pada 100 industri lainnya.

Corporate Secretary PT Sarana Multigriya Finansial SMF Wisaksono S Nugroho, mengeluhkan rendahnya KPR di Indonesia saat ini. Menurutnya, KPR saat ini hanya menempati beberapa persen dari total portofolio bank. Secara global, rasio KPR di Indonesia terhadap Gross Domestic Product (GDP) hanya dua persen.

"Sangat rendah bila dibandingkan dengan negara tetangga kita seperti India (tujuh persen), China (12 persen), Thailand (17 persen), Korsel (26 persen), dan Malaysia (29 persen)," jelas Wisaksono kala ditemui di Citarik, kemarin.

Padahal, sambung dia, meningkatnya rasio tersebut akan berdampak terhadap peningkatan pertumbuhan banyak sektor riil dan penerimaan atas pajak. "Multiplier effect industri perumahan sendiri berimbas kepada sekira 100 industri lainnya," tegasnya.

Lebih jauh dia mengatakan, hal tersebut dikarenakan saat ini masih sedikit lembaga keuangan yang bermain di sektor keuangan. "Pemain-pemain tersebut di antaranya BTN, CIMB Niaga, dan BII," tandasnya.

Sekedar informasi, negara dengan rasio KPR terhadap PDB paling tinggi adalah Belanda, yakni lebih dari 90 persen. SMF sendiri menargetkan hingga akhir tahun ini dapat memperoleh 170 ribu nasabah KPR. (mrt)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini