Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

DBS : Arus Modal Asing Bergejolak

Wisnoe Moerti , Jurnalis-Senin, 26 September 2011 |15:27 WIB
DBS : Arus Modal Asing Bergejolak
Ilustrasi
A
A
A

JAKARTA - Memburuknya kondisi perekonomian global membuat arus modal asing di sektor keuangan bergejolak, ditandai dengan arus keluar portfolio secara terus menerus.

Meskipun Indonesia memiliki fundamental perekonomian yang kokoh, sektor keuangan selalu menjadi titik lemah. Pada kuartal terakhir, arus modal asing yang masuk ke Indonesia masih cukup besar. Kekhawatiran terulangnya kembali krisis keuangan tahun 2008-2009 dimungkinkan terjadi jika arus modal keluar membayangi arus masuk investasi langsung.

"Investor asing kerap melepas asetnya di Indonesia dan pergerakan terakhir dalam pasar keuangan Indonesia mengindikasikan bahwa situasi ini belum berubah,” ungkap ekonom DBS Group Research Eugene Leow melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Senin (26/9/2011).

Arus keluar portofolio menghantam sektor keuangan dan masih ada kemungkinan penjualan besar-besaran jika gejolak ini terus berlanjut. Menurutnya, opsi untuk mempertahankan tingkat suku bunga dimungkinkan menjadi pilihan terbaik otoritas moneter, yakni Bank Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.

Hasil kajian DBS mengungkapkan, Surat Utang Negara (SUN) berdenominasi mata uang rupiah yang dipegang oleh asing masih cukup kuat, meskipun telah terjadi pelepasan sekitar 30 persen. Pihaknya tidak menyebutkan bahwa kondisi Indonesia lebih rapuh dibandingkan saat krisis keuangan melanda dunia tahun 2008 silam. Berkaca pada kondisi tahun 2008, asing melepas kepemilikan SUN sekitar 25 persen.

Dia mengatakan, selama kondisi ekonomi global terus menunjukkan ketidakstabilan, maka dimungkinkan akan terjadi pelepasan. Salah satu langkah untuk menahan pelepasan asing adalah menggunakan cadangan devisa. Cadangan devisa yang terus meningkat dari saat pra krisis keuangan global sebesar USD60 miliar hingga USD124 miliar pada Agustus 2011, dapat digunakan untuk menahan pelepasan. "BI juga harus meningkatkan usaha untuk membatasi arus modal keluar," tegasnya.

Lebih lanjut dia menuturkan, aksi pasar baru-baru ini membantu mengurangi pelepasan, namun tidak menghilangkan terjadinya arus modal keluar. Jika sentimen pasar global tidak kunjung membaik, ada ruang untuk pelepasan besar-besaran dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini berkorelasi dan berimbas terhadap kebijakan BI. Dengan arus keluar yang semakin mengkhawatirkan, tidak akan mudah bagi BI untuk mengubah suku bunga.

Menurutnya, spekulasi atau wacana penurunan suku bunga untuk menopang perekonomian, akan sulit dilakukan mengingat dana yang telah mengalir keluar cukup besar dan di satu sisi penurunan suku bunga dapat memperburuk situasi. “Jika langkah ini benar-benar diambil, BI mungkin terpaksa harus memperkenalkan cara yang lebih langsung untuk mengendalikan modal untuk membatasi potensi kerugian,” tandasnya.

Sekadar diketahui sebelumnya, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang (DJPU) menggelontorkan dana sebesar Rp8,8 triliun untuk membeli kembali (buy back) SUN yang dilepas pihak asing.

(Widi Agustian)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement