Image

Usia Muda jadi Sumber Tenaga Kerja Produktif

R Ghita Intan Permatasari, Jurnalis · Kamis 19 Januari 2012, 13:53 WIB
https img o okeinfo net content 2012 01 19 320 559890 DoAa8A8q2w jpg Ilustrasi. Corbis.

JAKARTA - Kembali masuknya Indonesia pada kategori investment grade, membuktikan jika kondisi makroperekonomian Indonesia masih relatif kuat. Di mana salah satunya dilihat dari potensi demografi yang ada.

Chief Economist and Director For Investor Relations PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat menjelaskan, ada sekira 37 persen penduduk Indonesia yang berusia di bawah 20 tahun.

"Potensi demografi yang didominasi oleh penduduk berusia muda yang berperan sebagai sumber tenaga kerja produktif dapat menggerakkan perekonomian Indonesia lebih agresif lagi," ungkapnya kala ditemui dalam acara Bahana Media Forum: Investment Solution for Volatile Market, di Graha Niaga, Jakarta, Kamis (19/1/2012).

Dia mengatakan, kelompok usia produktif tersebut disebut sebagai spender group yang menggerakkan perekonomian sebab ditopang oleh kemampuan ekonomi orangtua yang lebih baik.

"Rata-rata usia penduduk Indonesia berkisar 28 tahun. Ini adalah usia pembentukan keluarga sehingga sektor properti dan peralatan rumah tangga sangat diuntungkan, apalagi tren bunga deposito yang terjaga rendah," paparnya.

Di sisi lain, potensi demografi ini juga sangat positif bagi industri asuransi. Sebab, kepala keluarga rumah tangga yang saat ini memimpin mencermati dua generasi yang kontras. Generasi sebelumnya adalah orangtua mereka yang kebanyakan lahir setelah Indonesia merdeka.

"Hal ini semacam baby boomer di AS. Orang tua mereka umumnya berusia lebih panjang, namun, umumnya tidak didukung oleh dana pensiun dan asuransin kesehatan. mereka juga menyaksikan anak mereka tumbuh dan mebutuhkan dana pendidikan yang lebih besar agak kelak lebih berpeluang meraih kemakmuran yang lebih baik," kata Budi.

Kondisi di atas, memudahkan tumbuhnya kesadaran berasuransi dan berinvestasi. Terkait investasi, lingkungan sangat mendukung berkat tersedianya lebih banyak underlying asset saham, obligasi negara, dan korporasi yang cenderung menggantikan instrumen konvensional deposito perbankan. Peluang ini telah digarap oleh banyak perusahaan internasional beberapa tahun terakhir. (mrt)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini