nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ambisi Sang Dirut Sejajarkan BEI dengan Bursa Dunia

Yuni Astutik, Jurnalis · Senin 23 Januari 2012 13:06 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2012 01 23 22 561755 x41dsqvVFN.jpg Dirut BEI Ito Warsito. Foto: Koran Si

PASAR modal Indonesia saat ini semakin kuat dengan terus bertambahnya emiten yang mencatat namanya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Di balik terus berkembangnya BEI, tentunya banyak orang yang bekerja di belakang layar sebagai tiang penopangnya.

Salah satu orang yang mempunyai peranan cukup besar dalam perkembangan BEI adalah Direktur Utama BEI Ito Warsito yang mulai menjabat sejak 2009 lalu.

Lelaki berkacamata yang lahir 51 tahun yang lalu ini memulai karirnya menjadi Staf Badan Akuntansi Keuangan Negara di Departemen Keuangan atau saat ini lebih dikenal dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pada 1994. Sebelumnya, dia memulai pendidikan Strata 1 di Sekolah Tinggi Administrasi Negara (STAN) jurusan akuntansi pada 1989.

Saat menjadi staf di Kemenkeu itulah, dirinya memperoleh beasiswa dari Harvard Business School. Dia mengenyam pendidikan di sana mulai 1992 dan lulus pada 1994.

"Di Kementerian Keuangan ada proyek pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yaitu mengirim karyawan untuk sekolah di luar negeri. Tentunya yang dikirim berdasarkan seleksi," katanya memulai pembicaraan saat ditemui okezone di kantornya, BEI, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Diceritakannya, beasiswa yang diselenggarakan oleh Kemenkeu dan Harvard Bussiness School tersebut tidak semata-mata mengirimkan karyawan begitu saja. Pasalnya ada tes-tes khusus yang harus ditempuh. Baik itu The Test of English as a Foreign Language (TOEFL), GMath atau Gnome Mathematical Interface, dan juga tes Graduate Record Examination atau GRE yang merupakan tes standar yang diambil agar dapat masuk ke sekolah graduate di Amerika Serikat (AS).

"Dalam seleksi itu ada tes bahasa Inggris, namun saya boleh tidak tes itu karena dianggap sudah bagus bahasa Inggrisnya. Dan karena bahasa Inggris saya yang bagus itu, aku di kirim ke AS, dan memilih ke Harvard. Yang lain ada yang dikirim ke Kanada dan Inggris," tuturnya.

Sekembalinya ke Tanah Air setelah lulus dari Harvard Busines School pada 1994, Ito diminta oleh Kemenkeu untuk membantu merestrukturisasi Danareksa Sekuritas. Resturukturisasi tersebut berakhir pada pertengahan 1995 dan selanjutnya Ito menjabat sebagai Direktur Investment Banking Danareksa Sekuritas hingga 2001.

Selanjutnya, usai berkarir di Danareksa itu melanjutkan karirnya di Bahana Securities. Posisi yang dipegangnya selama di Bahana antara lain Direktur Investment Banking, Direktur Utama, dan Direktur Bahana Pembinaan Usaha Indonesia.

Perjalanan Menjadi Direktur BEI

Dia mengisahkan, dirinya tidak pernah bercita-cita untuk menjadi direktur utama pasar modal Indonesia. "Tidak pernah bercita-cita jadi Dirut BEI," katanya sambil tertawa.

Bapak dari dua putra dan putri ini mengisahkan jika dirinya terpilih berdasarkan voting dalam Rapat Umum Pemegang saham (RUPS) dengan hasil 79 suara sah dari 115 suara mengalahkan pesaingnya Direktur Utama PT Panin Sekuritas I Made Rugeh Ramia.

Saat dikonfirmasi apa suka dan duka menjadi orang nomor satu di BEI, dengan pasti Ito menjawab bahwa dirinya bukanlah orang yang gampang berduka. "Kebetulan aku orangnya tidak mudah berduka, semua harus dilihat dari sisi yang positif," jelasnya.

Maksudnya adalah dalam menghadapi permasalahan harus mengutamakan pemecahan masalah dengan mengandalkan pilihan apa yang dimiliki. Kemungkinan apa yang kita pilih dengan cara seperti itu pula lah yang menurutnya tidak akan menjadi berat. "Itu yang saya lakukan untuk kebaikan BEI, kalau prinsipnya sudah seperti itu tidak perlu lagi merasa berat," tuturnya.

Menjadi orang nomor satu di BEI tentunya amat lah sibuk. Dengan kondisi itu pula, dia mengaku jika tidak memiliki banyak waktu bersama keluarga tercinta. "Itulah kelemahanku sejak dulu. Lebih mengutamakan tugas yang menyangkut orang banyak daripada keluarga. Sehingga kepentingan keluarga menjadi nomor dua," katanya.

Harapan Untuk BEI

Lelaki yang juga menjadi pengurus Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) memiliki keinginan bagi kemajuan BEI untuk masa yang akan datang. Salah satunya adalah menyejajarkan pasar modal Indonesia dengan bursa saham lain di dunia.

"Dalam bahasa gamblangnya menjadi bursa yang kompetitif dan berkelas dunia," katanya mantap.

Namun hal tersebut tentunya bukan menjadi pekerjaan mudah. Menurutnya banyak faktor yang harus dijadikan patokan agar cita-cita tersebut dapat tercapai. Seperti misalnya besarnya kapitalisasi pasar, basis investor, kualitas pelayanan baik untuk anggota bursa, investor maupun untuk masyarakat Indonesia secara umum.

Sehingga yang diinginkan adalah nantinya pasar modal Indonesia bisa bersaing dengan bursa di Tokyo, Hong Kong, Shanghai, dan juga New York Stock Exchange. "Bahkan dengan bursa di Jerman dan Inggris. Kita dengan Singapura masih kalah jauh. Tegaskan bahwa kita akan mengejar ketinggalan itu," tandasnya. (nia)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini