Belajar entrepreneur ala Bob Sadino

(koran Sindo), Jurnalis · Rabu 25 April 2012 12:10 WIB
https: img.okezone.com content 2012 04 25 450 618117 bx8EobAy70.jpg

Sindonews.com - Menjadi seorang entrepreneur tidaklah sulit. ”Seseorang harus melaksanakan apa yang sudah dilakukan, maka sambil berjalan akan bertemu cara yang baik untuk mengembangkan usaha dan berpikir diluar kebiasaan yang ada,” ungkap pemilik jaringan usaha Kemfood dan Kemchick, Bob Sadino dalam acara Inspiring Way, Belajar Enterpreneur ala Bob Sadino yang diadakan Harian Umum Seputar Indonesia, Suzuki, dan Indosat, di Hotel Arista, Palembang, Selasa 24 April 2012.

Menurut pria yang sering disapa om Bob ini, seseorang itu harus melangkah dan akan mendapatkan akibat, baik itu positif maupun negatif. Namun, kebanyakan orang memilih hal yang positif dan menghindari akibat yang negatif. “Di perusahaan saya tidak punya karyawan, tapi saya menganggap mereka sebagai anak. Jadi saya menjadi bapak dari 1.000 anak,” ujarnya dihadapan 250 peserta.

Menurutnya jika seseorang memilih hal yang positif, maka pola pikir tersebut yang diajarkan sejak kecil itu akan membelenggu. Padahal akibat yang negatif, kata dia, memberikan banyak pelajaran, pemahaman, dan analisis bagi seseorang untuk melakukan hal yang terbaik. “Hidup ini ada negatif dan positif dan tidak bisa diambil salah satunya melainkan harus keduanya. Karena itu dampak dari akibat. Saya begini (kaya dan sukses) hanya karena sebuah akibat,” ungkapnya.

Dikatakan om Bob, berdasarakan pengalaman yang dimiliki, dia tidak memiliki target, cita-cita, dan tidak punya tujuan. “Saya tidak memiliki rencana dalam hidup. Jika kita banyak mendapatkan hal yang negatif, maka banyak pelajaran yang didapat,” jelasnya.

Karena itu,om Bob mengatakan selama ini banyak berjalan di luar pola yang telah ada atau di luar kebiasaan masyarakat, yakni pola yang selalu menghindari akibat negatif.

“Entreprenuer itu harus mengambil langkah tersebut. Berpikir di luar otak, perbedaan itu yang membuat saya berbeda, dan menjadi pribadi saya. Semua orang bisa, tapi harus berlatih berpikir dengan cara yang berbeda,” jelasnya.

Menurut Om Bob, di dalam perkuliahan seseorang diajarkan teori yang berisi sebuah cerita yang sudah terjadi.Menurutnya tahap itu seseorang hanya belajar tahu dan itu belum dapat dikatakan bisa.

Teori yang dipelajari itu, paling banyak 2% yang dapat dipraktekkan. “Jika itu dipraktekkan terus akan mencapai 80%. Yang terpenting bagaimana kita menerapkan teori tersebut. Pelajaran yang sesungguhnya ada di masyarakat. Dimanapun kita berada anggaplah itu guru kita dan ini yang dapat dikatakan bisa,” tuturnya.

Selanjutnya, seseorang tidak dapat bekerja sendiri. Karena itu harus bekerjasama dengan orang lain. Kerjasama yang dilakukan secara berulang-ulang maka disebut terampil, dan jika terus dilakukan maka dapat dikatakan bertanggungjawab. “Jika hal tersebut dapat dilakukan terus maka anda akan menjadi orang yang dapat dikatakan profesional,” katanya.

Sementara itu, pemilik Kedai Digital Corp, Saptuari Sugiarto mengungkapkan saat menjalani usaha dirinya memiliki dua prinsip yang selalu dipegang yakni tetaplah lapar dan tetaplah bodoh. Tetaplah lapar, ungkap dia, memiliki arti manusia harus selalu lapar dengan ilmu.

Sedangkan tetaplah bodoh maksudnya terus belajar kapanpun dan dimanapun. “Kalau mau jadi pengusaha harus bisa menembus segala batas,dan harus percaya diri. Tundalah kesenanganmu dan harus mampu mengatur waktu,” katanya.

Menurutnya untuk menjadi pengusaha yang baik diperlukan modal, sistem inovasi, fokus, jangan bersifat manja, dan selalu melibatkan Tuhan.

Modal, menurut lulusan Universitas UGM ini terdiri dari ide, duit, dan dengkul. Sedangkan sistem, para pengusaha dalam berbisnis harus memiliki sistem yang jelas dengan membuat SOP yakni tulis apa yang dilakukan. “Inovasi, harus dilakukan secara tertus menerus, terutama dilakukan saat posisi sedang berada di atas. Sedangkan fokus,pengusaha harus fokus terlebih dahulu dengan satu usahanya. Jangan menyimpang ke usaha lain selagi usaha saat ini belum sukses,” paparnya.

Namun demikian, Saptuari menilai ilmu yang didapatkan sangat penting, namun yang lebih penting adalah penerapan secara langsung. “Pengusaha juga tidak diperbolehkan untuk manja, terutama saat menghadapi kegagalan. Karena itu selalu libatkan Tuhan dalam menjalani setiap kegiatan,” pungkasnya. (bro)

(hri)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini