Spatula and Friends, untung dari bisnis kue

(koran Sindo), Jurnalis · Minggu 20 Mei 2012 11:41 WIB
https: img.okezone.com content 2012 05 20 450 632157 1K7C82kRRo.JPG ilustrasi Foto: Spatula & Friends

Sindonews.com - Berawal dari hobi membuat kue, Andini Darmadi, memilih bisnis kuliner sebagai pilihan profesinya. Awal 2011 lalu Andini mendirikan usaha bernama Spatula and Friends.

Tidak butuh lama bagi Spatula and Friends meraih sukses.Terbukti dengan terus mengalirnya pesanan ke dapur Andini. Mulai dari cupcake, wedding cake, hingga cakepop terjual laris manis. Menurut Andini, hobi membuat kue sudah digemarinya sejak masih duduk di bangku sekolah. Namun, saat itu Andini hanya membuat kue berdasarkan pesanan. Hobinya sempat terhenti karena dia sibuk mengurus kuliah.

Sebelum Spatula and Friends berdiri, Andini sempat bekerja menjadi jurnalis sebuah majalah hiburan. Setelah tidak lagi bekerja sebagai jurnalis, Andini memutuskan menjadi penulis lepas di tahun 2008. “Dulu suka buat kue. Tapi, cuma sebatas order. Sudah enggak terikat kerja kantoran sejak 2008. Sejak itu jadi freelance penulis. Setelah menikah tahun 2010, teman-teman dan saudara saya pesan kue lagi,” katanya saat ditemui SINDO di Jakarta beberapa waktu lalu. Dari situ, kata Andini, terpikir untuk membuat kue secara serius. Dalam artian, menuju ke jalur profesional. Dia pun mulai cari resep kue yang enak, memilih nama usaha, hingga memikirkan metode pemasaran secara online.

Andini mengaku, modal awal Spatula and Friends hanya sekitar Rp500 ribu. Modal itu digunakan untuk membeli loyang, kemasan, wadah, bahan baku, dan membuat situs resmi. Awalnya, dia membuat dua lusin puding. Satu cup puding dibanderol seharga Rp15 ribu. “Sebelumnya saya sudah melakukan survei pasar soal harga. Modal saat ini sekitar Rp1 juta untuk beli bahan baku dan kemasan,”ucapnya. Usahanya tak sia-sia, Andini berhasil meraup omzet awal sekitar Rp1 juta. Meski pada awal usaha dia hanya menjual puding, saat ini cupcake justru yang menjadi tren.

Banyak pelanggannya yang meminta dibuatkan cupcake. “Ternyata pasarnya memang ada,”tuturnya. Bahkan, saat ini cupcake mempunyai kontribusi terbesar terhadap total penjualan Spatula and Friends, yakni hampir 50 persen. Kemudian, sisanya dari penjualan cake, cookies, dan puding. “Harga cupcake mulai dari Rp15 ribu per buah.Dari semua produk, kisaran harga mulai dari Rp7.000 untuk mini cupcake sampai Rp5 juta untuk cake seperti wedding cake,” jelasnya. Harga wedding cake sendiri dihitung per paket, mulai dari Rp3,5 juta.Harga produk sampai saat ini mengalami kenaikan sekitar 20 persen.

Sejak Spatula and Friends mulai berdiri hingga saat ini, Andini terus melakukan berbagai inovasi produk. Saat ini sudah ada sekitar 14 varian rasa dan 30 jenis kue. Semakin hari,order yang datang pun semakin banyak. Setiap minggunya, Andini bisa menerima rata-rata sekitar 10- 15 pesanan. Baru satu tahun lebih Spatula and Friends berdiri, omzet yang dibukukan Andini bisa dibilang cukup besar, yakni sekitar Rp10-15 juta per bulan.

“Dari Awal 2011 sampai sekarang, kira-kira Rp20 juta lebih. Rata- rata seminggu ada 10 order. Jadi, kira-kira ya Rp10–15 juta per bulan.Tahun ini saja sudah dapat tujuh order untuk wedding sampai bulan Agustus,”paparnya.

Jumlah omzet tersebut bisa meningkat lebih banyak lagi pada momen-momen tertentu seperti Lebaran dan Hari Kasih Sayang. Kenaikannya bisa mencapai 1,5 hingga tiga kali lipat. “Hari Valentine kemarin omzet naik 1,5 kali lipat. Banyak banget ordernya.Saat Lebaran kita bisa naik tiga kali lipat,”terangnya. Mengingat order kue yang semakin banyak, perempuan berusia 29 tahun itu mengaku kewalahan untuk membuatnya sendiri. Untuk itu,Andini meminta bantuan beberapa temannya untuk jadi asisten dadakan.

“Sampai saat ini sih masih bikin sendirian.Tapi kalau ordernya banyak, bisa panggil asisten. Mereka saya kasih fee harian. Jadi, mereka hanya datang jika ada order besar,” kata perempuan berambut panjang ini. Ditanya soal tantangan, hingga saat ini Andini masih terus berupaya memenuhi pesanan dari konsumen.

Hal ini mengingat para konsumennya mempunyai keinginan berbeda terutama mengenai hiasan kue. “Menurut saya, itu yang paling menantang. Saya bersyukur hingga saat ini belum pernah ada klien yang tidak puas. Terkadang klien kasih contoh desain baru yang belum pernah kita buat, itu kan jadi challenge buat kita,”katanya.

Adapun masalah yang pernah dihadapi,Andini dulu pernah mendapat pesanan kue yang terlambat diantar oleh kurir. Saat ini, Spatula and Friends masih mengandalkan jasa kurir untuk mengantarkan kue ke konsumen di Jakarta. Sedangkan di luar Jakarta seperti Bandung,Andini biasanya menggunakan jasa travel.

 

Tak hanya lezat, kue-kue Spatula and Friends juga diklaim sehat dan aman dikonsumsi terutama bagi anak-anak dan mereka yang mengidap penyakit diabetes.

Hal itulah yang menurut Andini membedakan Spatula and Friends dengan kue sejenis lainnya. “Selain homemade, didekorasi sendiri saya juga pikirkan soal kesehatan. Soal produk, kita pastinya juga selalu pakai bahan yang berkualitas, higienis,dan bisa customtingkat kemanisannya,” kata Andini saat ditemui di rumahnya di kawasan Cilandak Untuk kue khusus penderita diabetes, kata Andini,harganya memang sedikit lebih mahal karena menggunakan bahan baku khusus yang berbeda dengan jenis kue lainnya.

“Meski agak mahal, saya desain dengan tekstur yang beda dengan kue lain. Kita tadinya juga ada beberapa jenis kue spesial diet seperti glutten free tapi sudah tidak produksi lagi karena di sini pasarnya kurang,”jelasnya. Kendati demikian,Andini optimistis pasar serta peluang usaha kuliner terutama kue akan terus berkembang dimasa mendatang. Dia menilai potensi ke depan bakal banyak variasi desain kue.

”Kue itu bisa hadir disetiap kesempatan. Dengan produkbaru,pastinya akanmenjamin terbukanya pasar.Menurut saya,rasa juga jadi faktor utama,”paparnya. Terlepas dari itu, Spatula and Friends ternyata tidak hanya menjual kue,tapi tapi juga membuka kelas kursus membuat kue. Kursus ini awalnya karena ada permintaan dari rekannya. Setelah dihitung-hitung biayanya, Andini baru mulai membuka kelas. Setiap peserta harus membayar biaya kursus sekitar Rp300 ribu perkunjungan.

Peserta kursus diajarkan dua resep dasar dan dekorasi dasar,ada pengenalan alatnya,serta cara membuat kue dan dekorasi. “Ada kelas buat dekorasi, belajar buat cupcake. Saat ini saya juga digandeng sebuah pusat kreativitas sebagai pengajar lepas,”ucapnya.

(and)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini