Sotoji antar Rohmat jadi jutawan

Maikel Jefriando, Jurnalis · Minggu 20 Mei 2012 16:14 WIB
https: img.okezone.com content 2012 05 20 450 632246 tJOa3XTHvY.jpg ilustrasi Foto: ist

Sindonews.com - Iseng, sepertinya banyak menjadi alasan pertama para pengusaha dalam memulai karirnya. Begitu juga dengan halnya Rohmat Sastro Sugito. Berawal dari keisengan, dia berhasil menciptakan satu makanan bernama Sotoji atau Soto Jamur Instan.

Makanan berbahan dasar jamur tersebut, tersaji sebagai jenis makanan siap saji. Racikan yang alami diolah Rohmat sehingga dapat dinikmati lengkap dengan gizinya.

"Iseng. Sebelumnya dicoba ngolah berbagai jenis jamur kan. Dan cukup diterima,"ujar nya beberapa waktu lalu pada sambungan teleponya kepada Sindonews.

Dirinya mengaku, keisengan tersebut juga diiringi dengan harga jamur yang tidak stabil. Sehingga menyebabkan kerugian bagi para petaninya.

"Awalnya banyak petani jamur. Nah, kalau sedang panen harganya kan jadi murah. Kalau diolah harganya jadi stabil," jelasnya.

Kini, usaha yang dinaungi PT Tri Rastra Sukses Sejahtera ini, memang masih dalam skala kecil. Perhari, perusahaan yang berlokasi di Bogor tersebut, memproduksi 40 dus.

"Dalam waktu dekat, kita akan tingkatkan lima kali lipat. Jadi kalau sekarang cuma 40 dus itu dalam satu dus berisi 20 buah, karena kan mesinnya juga kan. Nanti ada mesin dari Jawa Timur, jadi bisa sampai 500 dus per hari,"tambahnya.

Rohmat tidak mau bercerita banyak tentang modalnya. Dia hanya menuturkan, bahwa dirinya dulu hanya memiliki satu buah mobil. Dari modal tersebut, mengantarkan usahanya sampai ke penghasilan Rp60 juta perbulan. Walaupun cukup miris, ditahun pertama, dirinya hanya bisa meraup sedikit keuntungan.

Sotoji, saat ini sedang dikembangkan juga ke bentuk waralaba. Pada kedai yang sudah dimilikinya, Sotoji dijual seharga Rp50 ribu per dus. Pembeli bisa membeli dalam bentuk kemasan ataupun langsung menikmati di kedai tersebut. Untuk lokasi kedainya juga baru berada di kawasan Depok. Rencananya akan terus berekspansi ke pasar lokal yang menurutnya memiliki banyak peluang.

"Masuk pasar luar memungkinkan kenapa tidak. Tapi fokus di pasar Indonesia karena saat ini kemungkinan terbuka masih sangat luas,"pungkasnya.

(and)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini