Melirik untung dari bisnis pengolahan limbah

Erichson Sihotang (Koran Sindo), Jurnalis · Minggu 03 Juni 2012 10:54 WIB
https: img.okezone.com content 2012 06 03 450 640437 8DdoHM60Be.jpg

Sindonews.com - Bermodalkan motivasi dan keinginan berwirausaha yang kuat, Agung Sri Hendarsa tekun membangun dan merintis usaha pengolahan air bersih dan air limbah miliknya. Hanya dalam kurun waktu 3 tahun perusahaan yang bernama PT Aozora Agung Perkasa ini telah meraih omzet yang menggiurkan, ditambah lagi dengan kepercayaan perusahaan ternama yang menjadi partner bisnisnya.

Beberapa perusahaan yang menjadi partner Aozora ialah Santos (Sampang) Pty. Ltd,PT Pertamina Tbk, JO BBRI Dahana (BUMN di industri bahan peledak), dan Astra Otopart. Mengapa memilih pengolahan limbah? Jawabannya ternyata dapat di runut dari latar belakangan pendidikan bapak dari dua orang anak ini.

Ketertarikan pria kelahiran Temanggung 8 November 1977 ini, tentang pengolahan limbah bahkan sudah terlihat sejak duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA) di Pekalongan, Jawa Tengah. Agung sudah akrab dan aktif dalam penelitian ilmiah remaja.“ Saya memang suka melakukan riset, berbagai riset yang berhubungan dengan pengolahan air limbah,” kenang anak ketiga dari empat bersaudara ini.

Setelah lulus S-1 Fakultas Teknik Kimia, Universitas Gadjah Mada (UGM), Agung mendapatkan beasiswa selama setahun di Jepang. Kemudian dilanjutkan ke program S-2 di Nagoya University of Japan dengan mengambil konsentrasi pengolahan limbah menjadi energi. Segudang pengalaman di bidang engineering dan latar belakang pendidikan yang juga di bidang engineringinilah yang menjadi bekal untuk menata dan membangun perusahaannya yang berdiri sejak Maret 2009.

Agung sebenarnya sempat bekerja di sebuah perusahaan Jepang, PT Fujikasui Engineering Indonesia, dan ditempatkan di Indonesia. Di sinilah niat Agung berwirausaha semakin kuat. Agung lantas mencoba belajar bagaimana menjalankan sebuah perusahaan dari segi teknis, baik proses engineering, sisi manajerial, administrasi, supply chain, dan sebagainya.

Selang tiga tahun kemudian Agung mendapatkan tawaran bekerja dari seorang investor lokal. Agung memilih untuk meninggalkan perusahaan Jepang tersebut karena menilai usaha yang dirintis investor itu tergolong baru jenisnya, yaitu perusahaan pengelolaan limbah.

Tak menganggur lama Agung kembali dipercaya mengelola perusahaan biodiesel bernama PT Grin Biru oleh seorang investor pada 2008. Tapi, perusahaan ini terpaksa ditutup karena investor kehabisan modal akibat krisis keuangan global 2008.

“Kebetulan waktu di-PHK, anak saya baru lahir, Maret 2009. Dengan kondisi tersebut, setelah sharing dengan istri, saya memutuskan untuk membuka bisnis,” ujar ayah dari Muhammad Aufa Alfariti dan Muhammad Zayyan Alghifaiki ini.

Bermodalkan dana sebesar Rp20 juta dari pesangon PHK, ditambah dengan komputer jinjing dari pekerjaan sebelumnya, Agung pun mulai berkantor di lantai dua rumahnya di daerah Legenda Wisata, Cibubur. “Modal itu saya gunakan untuk mendirikan legalitas perusahaan,” ujarnya.

Setelah berpikir panjang Agung akhirnya memutuskan untuk melanjutkan bisnis pengolahan air dan limbah dengan basis research and development. Agung pun memanfaatkan supplier maupun customer dari perusahaan sebelumnya. Selain itu Agung menggandeng Henri Prakoso dan Narso Marino yang dikenalnya pada saat mengikuti acara workshop dan training dalam suatu komunitas. Kini partner Agung ini menjadi pemegang saham PT Aozora yang bermakna langit biru tersebut.

Di awal berdiri, berbagai strategi dilakukan Agung, bahkan mencoba mengikuti tender, meski berkas-berkas perusahaan secara legal masih dalam proses pengesahan notaris. “Itu salah satu strateginya. Tujuannya agar kita paling tidak terlihat, eksis. Karena saya melihat tender itu juga sebagai suatu media marketing juga,” ujarnya tertawa.

Secara perlahan, perusahaan Agung mulai dikenal dan dipercaya untuk menggarap proyek-proyek dalam skala kecil, menengah, maupun besar, termasuk proyek besar pertama yang diperoleh Agung saat menjadi subkontraktor dari Pertamina untuk membuat engineering design.

Kini Agung telah mempekerjakan 30 karyawan, bahkan omzet Agung telah mencapai sekitar Rp7 miliar pada posisi November 2011. Untuk memperkuat bisnis Agung juga membuka cabang di San Diego,Amerika Serikat, pada pertengahan 2010. Cabang ini kinidikelolaolehsaudara Agung yang memperoleh permanent residance dan menjadi penghubung bisnis Agung yang berada di Indonesia dengan salah satu partner di Amerika Serikat bernama Pure Aqua,Inc.

Ke depan, pria pemenang wirausaha muda Mandiri 2011 ini berharap dapat mengembangkan usaha pengolahan limbah air bersih dan limbah ini di wilayah Indonesia timur. Agung pun berharap dalam kurun dua tahun ke depan dapat membuka cabang baru di Singapura.

“Singapura itu tetap menjadi pusat distribusi di dunia, makanya ada keinginan untuk membuka cabang di sana,” ungkapnya. (bro)

(hri)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini