Modifikasi kebaya, raup untung puluhan juta

(koran Sindo), Jurnalis · Minggu 10 Juni 2012 11:56 WIB
https: img.okezone.com content 2012 06 10 450 644523 kfHV1WxLLG.jpg ilustrasi Foto: google

Sindonews.com - Kecintaan kepada kebaya mengilhami Dimita Agustin menciptakan ragam kebaya modifikasi yang bisa dikenakan saat resmi maupun santai. Melalui promosi online, peminatnya membludak hingga Bali dan Aceh.

Sebelum berkecimpung di bidang fashion, sejak 2000 Dimita Agustin telah memulai usaha dengan berjualan perlengkapan rumah tangga di rumahnya di kawasan Kodam Jaya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Dari pelanggannya, ia mendapat masukan dan permintaan untuk membuat pakaian jadi. “Animo konsumen terhadap produk fashion saat itu besar,” ujarnya kepada SINDO beberapa waktu lalu di Jakarta.

Wanita asal Palembang itu pun pelan-pelan beralih ke produk fashion dengan membuat baju-baju sesuai permintaan pelanggan. Mulai baju pria, wanita, hingga anak-anak. Seiring booming-nya batik dalam tiga tahun terakhir, Dimita dibantu beberapa penjahit sempat ikut-ikutan memproduksi pakaian bermotif batik. Lantaran pemain di bidang batik kian menjamur, dia berinisiatif mencari bahan kain dan model baru.

“Saya cari bahan kain yang tidak mahal tapi terlihat mewah,” ucap pemilik butik Dara Baro itu.

Dimita kemudian berkeliling dari kota ke kota demi mendapatkan kain yang dicarinya. Secara tidak sengaja saat berkunjung ke Garut, dia menemukan bahan kain katun polos yang dirasa cocok. Di matanya, kain-kain berwarna cerah tersebut meski buatan mesin, tekstur, dan tampilannya mirip tenun buatan ATBM (alat tenun bukan mesin). “Penampakannya seperti tenun ATBM, tapi harganya lebih terjangkau. Kalau sutra dan tenun ATBM kan mahal,” kata Dimita.

Dimita lantas mencoba mengkreasikan pakaian yang bisa untuk resmi sekaligus santai. Lembaran kain katun tersebut kemudian dijahit menjadi beragam pakaian wanita model kebaya. Selama ini Dimita memang sangat menyukai kebaya. Namun, mengingat patron kebaya terlalu resmi, ia memodifikasinya menjadi model kebaya kasual yang bisa dipakai sehari-hari.

Sebagai contoh, pola kebaya encim ala Betawi dimodifikasi menjadi blus dengan bahan kain katun cerah. Dimita juga bereksplorasi dengan menciptakan kebaya encim modifikasi yang tidak dibordir, melainkan dibuat dari bahan paris yang dimotif batik. “Bahan kain Paris cocok karena jatuh dan tidak panas sehingga bisa dipakai sehari-hari. Jadi, polanya kebaya tapi akhirnya jatuhnya ke kasual,” bebernya.

Dimita memiliki cerita tersendiri mengapa memilih kebaya sebagai produk andalan. Sewaktu kecil, di Palembang, wanita berhidung mancung ini cukup lama tinggal dengan neneknya yang setiap hari memakai kebaya dan sarung. Tak hanya di rumah, saat bepergian sang nenek juga memadupadankan sarung dan kebaya.

“Jadi, di kepala saya tahunya baju itu ya kebaya. Makanya setelah punya usaha fashion, produk baju unggulan saya juga yang enggak jauh-jauh dari warisan budaya,” tuturnya.

Dibantu sekurangnya lima penjahit, Dimita telah memproduksi puluhan model kebaya modifikasi dengan bahan kain katun, sutra, tenun ATBM dan non-ATBM. Tak hanya kebaya encim, hal yang sama juga dilakukan terhadap pola kebaya kartini dan kebaya kurung. Hasil akhir dari modifikasi kebaya ini bermacam-macam, bisa berbentuk blus hingga baju luaran seperti rompi.

Peminatnya pun cukup banyak dan rata-rata sudah menjadi langganan. “Biasanya pelanggan datang membawa kain sendiri dan minta dicarikan baju atasan yang serasi. Saya perhatikan, selera konsumen juga terus berubah. Mereka selalu ingin ada model baru setiap bulan,” sebutnya. Dimita yang aktif mengikuti pameran kerajinan UKM juga tak segan meminta sumbang saran dari para konsumen yang mengunjungi stannya.

Menurutnya, dari merekalah dia mendapat ide-ide segar dan model-model yang mungkin tak pernah terpikir sebelumnya. Hal ini pula yang mendorong Dimita memproduksi aksesoris untuk pelengkap fashion, seperti kalung dan bros. Dimita mencontohkan, saat stan Dara Baro tengah mengikuti pameran kerajinan, di saat bersamaan, terdapat penjual kalung yang menawarkan produknya.

Dimita pun membeli kalung tradisional lalu memakaikannya di manekin berbaju kebaya model kutu baru, sebagai pemanis. Perpaduan serasi itu berhasil mencuri perhatian pengunjung, bahkan banyak yang berminat membeli kalung tersebut. “Saya bilang, (kalung) itu tidak dijual. Akhirnya, beberapa bulan kemudian saya berpikir, kenapa enggak bikin sendiri saja kalung dan aksesoris pemanis seperti itu?” ucapnya.

Kebetulan, ibunda Dimita memiliki banyak koleksi kalung model lama dari beberapa daerah seperti Palembang dan Aceh. Dia pun lantas meminta pengrajin kalung untuk menduplikasi dari kalung aslinya. Dia juga mencari referensi gambar kalung tradisional daerah dari buku dan museum. Alhasil, koleksi kalung imitasi model tradisional ini makin bertambah antara lain model dari Kupang, Lombok, dan Batak.

Untuk keperluan ini, dia bermitra dengan pengrajin perhiasan di Yogyakarta. “Permintaan untuk kalung tradisional ini cukup bagus. Konsumen tidak harus berburu yang benar-benar antik asli, soalnya tiruannya juga sudah banyak,” tandasnya.

Selain kalung, Dara Baro juga menyediakan beragam aksesoris seperti bros dan gelang, serta yang unik adalah ikat pinggang antik yang mencolok dan berharga cukup mahal.

Menurut Dimita, untuk barang berharga mahal biasanya konsumen memang menginginkan agar barang itu bisa terlihat saat dikenakan. “Mereka berpikir, buat apa beli mahal-mahal kalau saat dipakai enggak kelihatan,”cetusnya.

Jika sebelumnya Dimita hanya membuka butik di rumah, saat ini konsumen bisa menemukan produknya di Pendapa dan Alun-alun Grand Indonesia, Jakarta. Nilai omzetnya pun terus meningkat, mencapai Rp500juta pada 2010.

Dengan harga produk berkisar Rp250.000 hingga Rp1,5 juta (untuk baju) dan Rp250.000 hingga Rp3 juta (untuk aksesoris), Dimita bisa meraup omzet sekitar Rp25juta hingga Rp150juta setiap mengikuti pameran. Guna memperluas pasar, Dimita mempromosikan produk-produk Dara Baro secara online melalui internet.

(and)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini