Industri Perfilman Indonesia Belum Maksimal

Iwan Supriyatna, Jurnalis · Rabu 13 Juni 2012 13:15 WIB
https: img.okezone.com content 2012 06 13 320 646462 EpYN6XRor2.jpg Ilustrasi. (Foto: Corbis)

JAKARTA - Hasil studi ekonomi perfilman memaparkan, peran potensial industri film dan televisi di Indonesia mampu menjadi penggerak ekonomi. Pasalnya, selain memberikan kontribusi terhadap pemasukan negara, perfilman dan televisi juga membantu menciptakan lapangan kerja.

"Indonesia telah sejak lama dikenal sebagai tempat kreativitas dan komunitas perfilmannya memiliki bakat-bakat inovatif yang terus tumbuh," ungkap President and Managing Director MPA Asia Pacific Mike Ellis di Hotel Grand Kemang, Jakarta, Rabu (13/6/2012).

Berdasarkan studi yang dilaksanakan lembaga konsultan dan penelitian Oxford Economics, dengan mempertimbangkan transaksi langsung, tidak langsung dan yang ditimbulkan, total kontribusi ekonomi Industri film dan televisi terhadap PDB pada 2010 mencapai USD2,98 miliar atau 0,43 persen dari seluruh PDB Nasional.

Meski demikian, hasil studi ini juga menunjukkan dengan jelas bahwa Indonesia belum mencapai potensinya untuk memberikan jumlah layar bioskop yang tepat untuk penonton nasional. Hasil studi menyebutkan, hanya ada 675 bioskop layar lebar yang tersedia saat ini untuk melayani 245 juta penduduk Indonesia.

Di Malaysia, misalnya, pada 2011 sebanyak 639 film layar lebar menghibur 28 juta penduduknya. "Kita ingin melihat lebih banyak film nasional dengan anggaran besar yang ditonton oleh lebih banyak orang Indonesia," kata salah seorang produser film, Chand Parwez.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini