Inflasi diprediksi 5,5%

(koran Sindo), Jurnalis · Senin 25 Juni 2012 08:09 WIB
https: img.okezone.com content 2012 06 25 452 652945 85NH08qwCX.jpg Ilustrasi

Sindonews.com - Laju inflasi pada tahun 2012 diperkirakan berada pada level 5–5,5 persen. Hal itu didorong penundaan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) serta turunnya inflasi dari barang- barang impor (imported inflation).

Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono menilai, laju inflasi tahun ini maksimal akan berada pada level 5,5 persen atau jauh di bawah target yang ditetapkan pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2012 sebesar 6,8 persen.

Selain keputusan pemerintah menunda kenaikan harga BBM, pelemahan nilai tukar rupiah yang dipicu krisis global akan membuat masyarakat mengerem hasrat berbelanja mereka, terutama terhadap barang-barang impor. ”Secara psikologis dalam situasi krisis global masyarakat akan mengerem konsumsi atau lebih berhati-hati sehingga demand cenderung stagnan sehingga tidak mendorong kenaikan inflasi,” tutur Tony, melalui pesan singkatnya kepada SINDO, Minggu 24 Juni 2012.

Tony mengatakan, rendahnya inflasi akibat imported inflation pernah dialami Indonesia pada 2009,atau saat krisis subprime mortgage. Saat itu inflasi hanya berada pada level 2,78 persen karena masyarakat lebih menahan konsumsi menyusul krisis di Amerika Serikat. ”Waktu itu pertumbuhan juga cuma 4–5 persen. Tahun ini saya perkirakan pertumbuhan ekonomi 6 persen dan inflasi 5,5 persen,” imbuhnya.

Pendapat serupa disampaikan Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti. Dia memperkirakan, laju inflasi hanya akan mencapai 5,5 persen. Tekanan eksternal bakal menekan laju inflasi sekaligus memperlambat pertumbuhan.

Namun di sisi lain tidak,adanya kenaikan harga BBM serta permintaan kredit yang semakin tinggi akan mendorong pertumbuhan. Seperti diketahui, pemerintah hampir pasti tidak akan menaikkan harga BBM tahun ini meski Pasal 7 ayat 6A APBNP 2012 memungkinkannya jika harga rata-rata minyak mentah Indonesia (Indonesia crude price/ICP) selama enam bulan terakhir melebihi 15 persen dari yang ditetapkan dalam APBNP 2012 sebesar USD105 per barel.

Keengganan pemerintah untuk menaikkan BBM sudah terlihat sejak Mei lalu dengan mengeluarkan lima langkah kebijakan penghematan. ”Inflasi sampai akhir tahun 5–5,5 persen dengan memperhitungkan tidak ada kenaikan BBM,” tandas Destry.

Sebelumnya Executive Director Global Economics,Commodities & Strategy Research Goldman Sachs, Mark Tan mengingatkan Indonesia untuk berhati-hati terhadap gejolak rupiah yang terjadi selama sebulan terakhir. Pelemahan nilai tukar rupiah,menurut Tan, berpotensi mendorong laju inflasi. Setiap pelemahan rupiah 1 persen terhadap trade weighted index (rata-rata nilai tukar mata uang terhadap mitra dagang utama) akan mendorong inflasi sebesar 0,4 persen.

Tan menambahkan, nilai tukar rupiah masih akan terus melemah jika kondisi global belum juga membaik. Terlebih, kepemilikan asing dalam surat berharga negara (SBN) sangat tinggi sehingga dalam jangka pendek bisa membahayakan likuiditas dolar di Indonesia jika mereka tiba-tiba menarik dananya di Indonesia.

”Untuk tahun ini tidak naiknya BBM akan menjadi faktor peredaminflasitetapidisisilain pelemahan nilai tukar akan menjadi pendorong inflasi,” tutur Mark Tan pekan lalu.

Kepala Ekonom BNI Ryan Kiryanto menjelaskan,gejolak rupiah yang terjadi sejak sebulan terakhir memang perlu diwaspadai karena bisa mendorong imported inflation. Ryan berharap, Bank Indonesia (BI) bisa bertindak cepat dan tepat dalam meredam gejolak tersebut. Bila tidak, rupiah bisa terdepresiasi lebih tajam atau lebih dari 5 persen dari nilai tukar rupiah yang ditetapkan dalam APBN-P 2012 sebesar Rp9.000 per dolar AS.

Direktur Statistik Barang dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Sasmito Hadi Wibowo mengakui,gejolak rupiah akan memengaruhi laju inflasi tahun ini. Namun, sumbangannya tidak akan terlalu besar karena Bank Indonesia (BI) diyakini bakal mampu meredam gejolak tersebut. Sasmito memperkirakan, laju inflasi tahun ini hanya akan berada di kisaran 5 persen. (bro)

(hri)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini