Share

Depok klaim hemat puluhan juta

Marieska Harya Virdhani (Okezone), Okezone · Rabu 27 Juni 2012 10:19 WIB
https: img.okezone.com content 2012 06 27 450 654447 ZhKp4Sa8TA.jpg Foto : okezone

Sindonews.com - Program Sehari Tanpa Mobil Dinas di Depok sudah berjalan selama tiga pekan dan diterapkan setiap hari Selasa. Wali Kota dan Wakil Wali Kota bersama para kepala dinas memanfaatkan cara lain untuk pergi ke kantor baik dengan jalan kaki, angkutan umum, sepeda, hingga sepeda motor.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail mengklaim evaluasi selama tiga pekan berjalan pihaknya telah menghemat anggaran pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) Rp20 juta setiap hari Selasa. Angka tersebut merupakan asumsi dari 200 kendaraan dinas yang tak dipakai dikalikan dengan harga Pertamax dan juga dikalikan dengan rata-rata konsumsi pemakaian per hari 10 liter.

“Kalau menghemat berapanya dari sisi jumlah kendaraan yang terbebaskan, hampir 200 kendaraan, coba dikalikan saja rata-rata per harinya berapa liter dikali Rp9.250, kalau mau dibuat rata–rata 10 liter, ini asumsi, wujudnya sepenuhnya tak pakai BBM seperti saya naik sepeda dan komplit dengan tak ada polusi," ungkapnya kepada wartawan, Rabu (27/6/2012).

"Kalau naik motor irit BBM, kalau naik kendaraan umum ada tambahan demand jasa transportasi ada peningkatan perekonomian baru,” tambah dia.

Nur Mahmudi juga akan mencoba menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL) untuk pergi menghadiri undangan di Jakarta ataupun di Bogor. Kedepannya, kata dia, pihaknya akan tetap mencoba variasi tanpa mobil dinas dari mulai jalan kaki, hingga naik angkutan umum.

“Ke depannya tetap empat wahana tadi, ada juga yang mentweet saya, tolong dong pak Wali buktikan naik kereta dari rumah naik ojek ke stasiun UI, terus naik kereta ke stasiun Depok Baru, saya pikir boleh juga sih, cuma baru naik kok sudah sampai,” katanya sambil tertawa.

Jika memilih naik angkutan kota (angkot), ia meminta syarat sopirnya harus berseragam. Hal itu sesuai dengan perda yang sudah mewajibkan sopir angkot untuk berseragam efektif paling lambat 17 Agustus mendatang. “Saya kalau naik angkot sekaligus tegur langsung sopirnya harus pakai seragam, baru saya mau naik,” tegasnya. (bro)

(hri)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini