CPO biang kerok defisit neraca perdagangan

Maikel Jefriando, Jurnalis · Senin 02 Juli 2012 17:11 WIB
https: img.okezone.com content 2012 07 02 450 657489 tEMDyxSLDe.jpg Ilustrasi

Sindonews.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan terjadinya defisit pada neraca perdagangan disebabkan nilai impor yang tidak sebanding dengan ekspor. Jatuhnya nilai ekspor, pada catatannya terdapat pada Crude Palm Oil (CPO) yang menurun hingga 470 juta atau 27 persen.

"Ini sebenarnya volumenya naik, walaupun harganya turun. Tetap diekspor, tapi harganya turun. CPO turun drastis 470 juta USD atau 26,77 persen hampir 27 persen penurunan ekspornya," ujar Direktur Statistik Distribusi BPS Satwiko Darmesto di kantornya, Jakarta, Senin (2/7/2012).

Seperti yang diketahui, negara andalan tujuan ekspor saat ini adalah China dan India. Namun, karena dua negara tersebut juga sulit menjual hasil turunan CPO, maka impor CPO dari Indonesia pun juga dihentikan.

"Ekspornya ini turun drastis karena memang yang saya katakan China dan India sementara tidak mengimpor CPO karena mereka mau jual hasil turunan CPO susah. Jadi mereka enggak beli CPO sementara waktu," jelasnya.

"Karena secara volume sebenarnya naik, tapi harga turun. Pengusaha kita menjual harus mendapatkan income untuk bayar pekerjanya, jadi berapapun harganya di dunia, itu tetap dilakoni saja," lanjut Satwiko.

Harusnya, Satwiko menuturkan, menjelang Hari Raya Idul Fitri ekspor dapat ditingkatkan. Namun, dikarenakan beberapa faktor yang masih sulit dihindarkan, gambaran peningkatan ekspor pun belum terlihat.

"Biasanya kalau kita amati data kita menjelang Lebaran itu eksportir menggenjot, tapi ini kok kayaknya ekspornya melemah karena memang dunia lagi melemah juga. Walaupun mau menggenjot tapi tidak bisa, ternyata melemah," pungkasnya. (bro)

(hri)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini