Impor Pesawat terbang & HP picu defisit perdagangan

Maikel Jefriando, Jurnalis · Selasa 03 Juli 2012 15:18 WIB
https: img.okezone.com content 2012 07 03 450 658050 oiszdBqw9V.jpg ilustrasi Foto: Corbis

Sindonews.com - Kementerian Perdagangan cukup mewaspadai gejolak impor yang terjadi pada dua bulan terakhir. Peningkatan impor yang cukup signifikan tersebut, menyebabkan defisit pada neraca perdagangan untuk bulan April dan Mei 2012. Sesuai dengan data Badan Pusat Statistik, defisit perdagangan bulan Mei mencapai USD485,9 juta.

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan impor dengan pertumbuhan yang sangat besar adalah pada komponen pesawat terbang. Tercatat Mei 2012, impor pesawat terbang naik 182,6 persen dibandingkan Mei 2011 atau secara year on year (yoy). Menurutnya, satu pembelian pesawat terbang, secara nilai sebenarnya sangat besar dan dapat menekan neraca perdagangan.

"Pesawat terbang, beli satu saja itu langsung ketekan neracanya, karena nilainya besar. Tadi saya sudah coba hubungin Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Emirsyah satar, tapi tidak bisa datang," ujar Bayu dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa (3/7/2012).

Kedua, Bayu melanjutkan kontribusi dari impor mendorong defisit perdagangan adalah telepon seluler. Pada catatannya secara yoy ada kenaikan 66,6 persen. Dia mengatakan, kedepan Kementerian Perdagangan akan terus mencoba melakukan negosiasi dengan beberapa pabrik telepon seluler. "ini yang harus dicermati, solusinya kita dorong bikin pabrik disini," ucapnya.

Selain itu, Bayu menuturkan bahwa loader juga mencatat kenaikan sebesar 50,2 persen dan sirkuit elektronik yang naik 54,9 persen. "Kalau secara keseluruhan, produk seperti ini memang juga diiringi dengan permintaan yang juga sangat meningkat," pungkasnya.

(and)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini