Kuartal III, inflasi Jabar diperkirakan 1,5-2%

Arif Budianto (Koran Sindo), Jurnalis · Rabu 04 Juli 2012 17:11 WIB
https: img.okezone.com content 2012 07 04 450 658828 VuoW1JyJWf.jpg ilustrasi Foto: Corbis

Sindonews.com – Angka inflasi Jawa Barat (Jabar) pada bulan Juli, Agustus, dan September diperkirakan akan mencapai 1,5-2 persen. Peningkatan inflasi disebabkan terbitnya sejumlah kebijakan pemerintah serta kondisi ekonomi global.

 

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VI Jabar dan Banten Lucky Fathul Aziz Hadibrata mengatakan, Jawa Barat berpotensi mengalami kenaikan inflasi sampai dua persen ada Ramadan tahun ini. Peningkatan tersebut cukup signifikan dibanding inflasi Ramadan tahun lalu sebesar 1,2 persen.

 

“Lonjakan inflasi dipengaruhi oleh kenaikan harga gas industri, pembatasan pintu masuk impor hortikultura, serta ketidakpastian pemulihan ekonomi global,” kata Lucky saat menggelar jumpa pers di Kantor Perwakilan BI Bandung, Jalan Braga, Kota Bandung, Rabu (4/7/2012).

 

Potensi terlampuinya kuota BBM bersubsidi pada APBN-P 2012 juga berpotensi memberi pengaruh terhadap ingflasi pasca Lebaran. Lucky berharap, pemerintah dan masyarakat bersama-sama menekan laju inflasi, agar tidak terlalu tinggi. Seperti, mengubah pola konsumsi masyarakat untuk mengurangi tingginya permintaan komoditi. Mengubah konsumsi protein hewani seperti daging ayam ras dan daging sapi menjadi protein nabati seperti jamur. Atau merubah konsumsi cabai merah segar menjadi cabai merah kering atau botolan.

 

Di tataran pemerintahan, BI yang terlibat pada Forum Koordinasi Pengendali Inflasi (FKPI) Jabar akan berkoordinasi dengan dinas lainnya untuk mengintensifkan operasi pasar (OP), pasar murah, rapel raskin. Untuk OP, pemerintah akan menggunakan dana APBD senilai Rp10 miliar. “Ketersediaan bahan makanan dan komoditi pokok sangat memadai. Ketersediaan pasokan tidak perlu dikhawatirkan,” imbuh dia.

 

Ditempat terpisah, Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar melangsir inflasi di tujuh kota besar di Jawa Barat meningkat dari 0,03 persen pada Mei menjadi 0,58 persen pada Juni 2012 lalu. Kepala Kantor BPS Jabar Gema Purwana menyatakan, inflasi sebesar 0,58 persen dari kenaikan harga sejumlah komoditi, dipengaruhi oleh sejumlah persoalan klasik. Seperti minimnya suplai barang, tersendatnya distribusi barang, hingga perilaku konsomen. Apabila beberapa masalah tersebut bisa diatasi, maka inflasi akan lebih ditekan.

 

Menurut dia, dari tujuh kelompok pengeluaran rumah tangga, lima kelompok mengalami inflasi salah satunya kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau sebesar 0,55 persen dan Kelompok bahan makanan sebesar 1,61 persen. "Hanya kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan yang mengalami deflasi sebesar 0,16 persen," katanya.

Diakui dia, dari tujuh kota yang dipantau, semunya mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Tasikmalaya sebesar 0,88 persen, disusul Kota Depok 0,83 persen, Kota Sukabumi 0,66 persen, Kota Bandung 0,55 persen, Kota Bekasi 0,51 persen, Kota Cirebon 0,45 persen dan Kota Bogor 0,26 persen. Cabai merah menyumbang inflasi tertinggi sebesar 0,13 persen. Disusul beras 0,09 persen, bawang putih 0,7 persen dan daging ayam ras 0,06 persen.

Sedangkan komoditi yang mengalami deflasi diantaranya minyak goreng sebesar 0,02 persen, lalu disusul bawang merah dan ikan kembung masing-masing sebesar 0,01 persen.

 

Kepala Bidang Statistik dan Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar Anggoro Dwitjahyono memastikan, inflasi di Jabar diperkirakan akan terus naik sampai Lebaran pada Agustus mendatang. Dia memperkirakan, besaran inflasi saat Ramadan (pertengahan Juli) bisa di atas 60 persen. Hal itu berkaca pada inflasi Juli tahun lalu di mana mencapai 0,64 persen.

 

“Kenaikan pasti terjadi. Apalagi bertepatan dengan tahun ajaran baru. Inflasi akan lebih dipengaruhi oleh belanja buku, sandang, dan kebutuhan sekolah lainnya. Saya berharap, angkanya tidak terlalu jauh berbeda dengan inflasi pada periode yang sama di 2011 lalu,” jelas Anggoro.

(and)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini