RBS: Defisit Transaksi Berjalan 3% Wajar

R Ghita Intan Permatasari, Jurnalis · Kamis 30 Agustus 2012 15:30 WIB
https: img.okezone.com content 2012 08 30 20 682796 u5x5YM0nO2.jpg Ilustrasi. (Foto: Corbis)

JAKARTA - Royal Bank of Scotland (RBS) memandang bahwa defisit yang terjadi pada neraca transaksi berjalan pada kuartal-II 2012 sebesar tiga persen dinilai wajar adanya.

Senior Regional Economist Research & Strategy, Markets RBS Erik Lueth menjelaskan bahwa sebuah negara berkembang seperti Indonesia memerlukan modal. Oleh karena itu, impor lebih besar daripada ekspor. Impor di Indonesia tersebut kebanyakan adalah impor bahan baku untuk menopang ekspor sendiri.

"Untuk negara yang dalam tahap pembangunan seperti Indonesia adalah normal bila terdapat defisit dalam neraca keuangan," ungkapnya kala ditemui dalam acara Economic Outlook dari RBS di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis (30/8/2012).

Erik melanjutkan bahwa return on Capital Investment masih tinggi ditahap awal pembangunan. Sehingga wajar bula negara mengambil pinjaman luar negeri untuk investasi sebagai modal pembangunan di dalam negeri.

"Peningkatan investasi dapat mendorong potensi produktif Indonesia dan kapasitas perolehan utang," paparnya.

Dia pun memperkirakan bahwa defisit neraca transaksi berjalan akanĀ  menurun atau bahkan surplus dari level defisit saat ini sebesar tiga persen pada kuartal III-2012 mendatang.

Meskipun tidak menjabarkan berapa kisaran angkanya adapun faktor pendukung menurunnya defisit neraca transaksi berjalan atau bahkan surplus diantaranya yaitu harga komoditas yang diperkirakan akan membaik dimasa yang akan datang. Dengan hal tersebut maka nilai ekspor pun akan mengalami kenaikan dibandingkan dengan level saat ini.

Lalu faktor selanjutnya pelemahan rupiah yang terjadi saat ini akan membantu pertumbuhan ekspor dan akan menekan laju pertumbuhan impor.

"Sehingga dengan hal ini diharapkan ke depannya akan terjadi keseimbangan antara ekspor dan impor ,dan akan meredam pertumbuhan atau kebutuhan impor," pungkasnya.

"Kami memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan tetap mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen sampai akhir 2013," tutupnya.

Hal ini dikarenakan pandangan RBS bahwa memotong suku bunga dapat memperburuk pelemahan rupiah, sehingga akan memicu inflasi lebih tinggi, meningkatkan utang mata uang asing dan membebani investasi.

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini