Dividen dan Valuasi Saham

Koran SI, Jurnalis · Minggu 23 September 2012 10:20 WIB
https: img.okezone.com content 2012 09 23 226 693804 qlkDH84Ggy.jpg Ilustrasi. (Foto: Corbis)

Nilai dari semua aset adalah present value (PV) dari semua arus kas aset itu di masa datang. Untuk obligasi, arus kas itu adalah pembayaran periodik kupon obligasi, yang dapat setiap bulan (Obligasi Ritel Indonesia/ ORI dan sukuk ritel), tiga bulan (obligasi korporasi), atau enam bulan (surat berharga negara), dan pembayaran pokok saat jatuh tempo.

Sementara untuk saham, nilainya dapat dihitung dari PV semua dividen tunai di masa datang yang dibayarkan kepada para pemegang saham. Untuk properti, valuta asing, waralaba, ruko, dan aset lainnya juga menggunakan prinsip yang sama seperti valuasi saham dan obligasi.

Agar mempunyai nilai, sebuah aset tidak harus memberikan penghasilan setiap tahunnya. Bisa saja arus kas itu hanya terjadi sekali saja seumur hidupnya, yaitu saat dijual atau saat jatuh tempo seperti investasi dalam emas dan obligasi tak berbunga.

Khusus aset yang arus kasnya konstan secara terus-menerus atau berkembang dengan tingkat pertumbuhan yang stabil, kita mempunyai persamaanpersamaan pamungkas untuk menentukan nilainya. Untuk aset dengan arus kas tidak konstan, terputus, atau pola lainnya, belum ada persamaan matematika untuk menghitung nilainya secara langsung.

Kita harus melakukannya satu per satu dengan teknik DCF (discounted cash flow) atau arus kas yang didiskontokan. Jika persamaan matematika dan teknik DCF untuk menilai aset itu diterapkan untuk saham, kita mengenal konsep divident-discount model (DDM), yang sering digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam analisis fundamental. Untuk memahami model ini, saya akan memberikan beberapa ilustrasi berikut.

Aplikasi Perpetuitas

Pertama, berapakah nilai atau harga wajar sebuah saham yang baru saja memberikan dividen Rp300 jika dividen ini diperkirakan akan konstan di masa datang? Asumsikan tingkat return yang diharapkan investor untuk memegang saham ini, berdasarkan capital asset pricing model (CAPM) atau model lainnya, adalah 15 persen dan investor berniat untuk memegangnya terus-menerus.

Jawabannya adalah nilai = (dividen/ tingkat return yang diharapkan) atau Rp300/15 persen = Rp2.000. Jika dividen tahun ini belum dibagikan, nilai saham itu akan menjadi Rp2.000 ditambah dividen tahun ini atau Rp2.300. Jika besar dividen atau tingkat return yang diharapkan berubah, nilai saham tentunya juga akan berubah. Ini adalah contoh perpetuitas biasa yaitu anuitas biasa dengan periode waktu tak terhingga.

Dividen Bertumbuh

Variasi lain adalah jika perusahaan, karena sedang dalam tahap pertumbuhan, belum dapat membayarkan dividen hingga lima tahun pertama. Baru pada tahun ke-6 dan seterusnya, dividen sebesar Rp300 akan dibayarkan.

Berapakah nilai saham yang menjanjikan perpetuitas ditunda seperti ini? Jika return yang diharapkan tetap 15 persen, logikanya, nilai saham itu adalah Rp2.000 lima tahun lagi. Berapa nilainya sekarang, kita tinggal mendiskontokannya. Menggunakan return yang diharapkan sebagai tingkat diskonto,nilai saham saat ini adalah Rp2.000/(1+15%)5= Rp994.

Terakhir, jika saham di atas menjanjikan dividen yang bertumbuh sebesar 10 persen per tahun, berapa nilai atau harga wajarnya? Asumsikan dividen tahun ini sudah dibayarkan. Dividen tahun depan adalah Rp300 (1+10 persen)=Rp330, tahun berikutnya Rp363, demikian seterusnya.

Persamaan untuk ini adalah nilai atau harga wajar saham adalah P=D1/-(k–g),yang dikenal sebagai model pertumbuhan Gordon di mana g adalah tingkat pertumbuhan dan D1 adalah dividen tahun depan. Asumsi yang harus dipenuhi dalam persamaan Gordon ini adalah g bersifat stabil dari tahun ke tahun.

Nilai saham ini menjadi P = Rp330/(15% – 10%) = Rp6.600. Jika dividen tahun ini sebesar Rp300 belum dibayarkan, saham itu menjadi bernilai Rp6.900. Jika Anda mau, dapat saja menggunakan asumsi lain seperti perpetuitas bertumbuh ditunda yaitu bertumbuh seperti di atas tetapi pembayaran pertamanya enam tahun lagi dan sebesar Rp330.

Jika demikian, nilainya adalah Rp6.600 tetapi itu masih lima tahun lagi. Nilainya sekarang adalah PV dari Rp6.600 atau Rp3.281. Sekarang jelaslah sudah faktor-faktor yang menentukan nilai sebuah saham. Dalam contoh di atas, apakah nilainya Rp2.000, Rp2.300, Rp994, Rp6.600, Rp6.900, atau Rp3.281 tergantung besar dan timing dividen, risiko yang dicerminkan dengan return yang diinginkan investor, dan tingkat pertumbuhan dividen.

Metode Lain

Yang juga perlu Anda ketahui sebagai investor saham adalah arus kas untuk penilaian saham itu tidak hanya dividen, tetapi dapat juga arus kas lainnya seperti arus kas bersih untuk perusahaan (free cash flow to the firm) dan arus kas untuk ekuitas (free cash flow to equity). Namun, metode valuasinya tetap sama yaitu tergantung besar dan timing arus kas, return yang diharapkan, dan tingkat pertumbuhan arus kas.

Valuasi saham berdasarkan analisis fundamental pun tidak hanya mengenal teknik DCF. Masih ada metode residual income atau nilai tambah ekonomi (economic value added - EVA) dan pendekatan lain yang juga populer yaitu menggunakan kelipatan harga seperti PER (price earning ratio), P/BV (price to book value), dan PEG (price earning growth).

BUDI FRENSIDY

Penasihat Investasi dan Penulis Buku Matematika Keuangan

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini