Dahlan Iskan Ternyata 2X Drop Out

Gina Nur Maftuhah, Jurnalis · Minggu 30 September 2012 12:11 WIB
https: img.okezone.com content 2012 09 30 320 697031 mpXtRlipXd.jpg Ilustrasi. (Foto: Okezone)

DAHLAN Iskan lahir di dukuh Kebondalem, desa Tegalarum, Magetan, Jawa Timur pada 17 Agustus 1951. Dahlan menamatkan sekolah dasar di desa Bukur, desa tetangga Tegalarum, kemudian melanjutkan ke madrasah tsanawiyah dan kemudian madrasah Aliyah di Pesantren Sabilil Muttaqien, di Takeran, Magetan.

Tamat SLA, Dahlan merantau ke Samarinda, ikut kakak sulungnya, Siti Khosiyatun yang pekerjaannya guru madrasah ibtidaiyah di Samarinda. Di Samarinda, Dahlan mencoba kuliah di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel cabang Samarinda, namun drop out pada semester empat. Dahlan juga mencoba kuliah di fakultas hukum Universitas 17 Agustus (Untag) cabang Samarinda tapi juga drop out di tahun kedua.

Dalam keterangan tertulisnya yang diterima Okezone, Dahlan mengaku aktif di gerakan mahasiswa, terutama di Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI). Dari situlah Dahlan kemudian menjadi wartawan profesional di sebuah surat kabar kecil di Samarinda yang awalnya didirikan oleh para tokoh IPMI setempat. Selama mendapat pendidikan jurnalistik di LP3ES Jakarta, Dahlan mendapat kesempatan magang menjadi wartawan majalah Tempo di tahun 1975. Setelah pendidikan Dahlan menjadi wartawan Tempo di Kaltim dan dua tahun kemudian menjadi kepala biro Tempo di Surabaya.

Tahun 1982, majalah Tempo membeli surat kabar harian Jawa Pos di Surabaya, dan Dahlan ditunjuk menjadi pimpinannya. Dahlan kemudian menjadi pemegang saham di Jawa Pos dan menjadi CEO sampai tahun 2009.

Setelah menderita sakit kanker hati yang berat, Dahlan menjalani operasi ganti gati (transplantasi) di Tianjin, Tiongkok. Dahlan kemudian berhenti dari Jawa Pos dengan maksud untuk menjalani hari tuanya sebagai guru jurnalistik, menulis buku dan mengurus pesantren keluarga di Magetan. Dahlan mendirikan International Islamic School (IIS) di lingkungan Pesantren Sabilil Muttaqien.

Presiden SBY, kemudian mengangkat Dahlan Iskan menjadi Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang saat itu tengah mengalami krisis yang berat. Hanya 20 bulan menjadi Dirut PLN, Dahlan diangkat menjadi menteri negara BUMN sejak Oktober 2011 sampai sekarang.

Banyak buku yang ditulis oleh Dahlan Iskan dan banyak juga buku tentang Dahlan Iskan yang ditulis orang lain. Buku yang dia tulis sendiri antara lain: Ganti Hati, Pelajaran dari Tiongkok, Model Ekonomi, Tidak ada yang tidak bisa, Dua Tangis Ribuan Tawa dan beberapa lagi. Sedang buku yang ditulis orang tentang Dahlan Iskan antara lain: Habis Gelap Terbitlah Terang, Dahlan Juga Manusia, Sepatu Dahlan dan Seandainya Dahlan Jadi Presiden.

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini