nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dirut Batantek Dipuji Dahlan di Depan SBY

Iwan Supriyatna, Jurnalis · Rabu 10 Oktober 2012 17:45 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2012 10 10 320 702051 VjKZLid2oK.jpg Dahlan Iskan (Foto: Koran SI)

YOGYAKARTA - Temuan Direktur Utama PT Batantek Yudi Utomo Imardjoko terkait pengayaan uranium dengan sistem rendah menuai pujian dari Menteri BUMN Dahlan Iskan. Pujian tersebut di sampaikan didepan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

"Baru Indonesia Pak (kepada SBY) yang mampu menciptakan ini," ungkap Dahlan, di acara Rakor BUMN di Yogyakarta, Rabu (10/10/2012).

Dahlan juga mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) sudah menyetujui Indonesia mendirikan pabrik di sana. Namun kepemilikannya tidak 100 persen milik Indonesia meskipun AS turut andil di pabrik radio isotop tersebut.

Seperti diketahui, PT Batan Teknologi (Batantek) berencana membangun pabrik yang memproduksi isotop nuklir di Amerika Serikat (AS). Pengadaan isotop tersebut nantinya akan digunakan untuk keperluan kesehatan.

Dahlan menuturkan dalam pembangunannya, pihak Batantek akan memperoleh pendanaan dari Eximbank. Meski begitu, kepemilikan pabrik isotop nuklir tersebut nantinya mayoritas dipegang oleh pihak AS.

"Mereka mayoritas karena mereka investasi lebih besar, investasi kita Rp1,7 triliun," komentar Dahlan beberapa waktu lalu di Kementerian BUMN.

Namun, Dahlan mengungkapkan, meski investasi AS lebih besar tetapi besaran kepemilikan pabrik tersebut belum menemukan titik temu. "Tapi ini masih dirundingkan, masih dimatangkan," ujar dia.

Pendanaan pabrik isotop nuklir yang akan dibangun PT Batan Teknologi dibiayai Eximbank. Dahlan menyebutkan Batantek memperoleh dana sebesar Rp1,7 triliun.

Hingga saat ini, Dahlan masih menunggu kabar dari Direktur Utama PT Batantek mengenai laporan ke pemegang saham AS. Selain itu, dia juga berkoordinasi dengan pemegang saham pihak Indonesia. "Nah, kalau nanti pemegang saham setuju baru lah direalisasikan," katanya.

Dia menjelaskan, alasan Batan membangun pabriknya di sana, karena jika diproduksi di Indonesia tetap harus dibawa ke AS. Dalam perjalanan tersebut, dikhawatirkan radiasi isotop tersebut akan habis. "Kalau dikirim ke AS itu radiasinya hilang, satu-satunya cara mendirikan perusahaan di AS," pungkas Dahlan. (gna)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini