nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Siapa Kelas Menengah?

Koran SI, Jurnalis · Minggu 25 November 2012 13:34 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2012 11 25 279 722879 gg4f2mnvT1.jpg Ilustrasi. (Foto: okezone)

Di Indonesia, saat ini kita sedang dilanda euforia mengenai kelas menengah. Banyak kalangan (presiden, menteri, politisi, pakar, mahasiswa) bicara mengenai kelas menengah Indonesia yang tumbuh luar biasa.

Kemajuan apa pun, sekarang dikaitkan dengan kelas menengah dari maraknya keberadaan Starbucks dan 7-Eleven, Indonesia menjadi negara terbesar ketujuh di dunia pada 2030, jalanan macet, hingga narkoba dan korupsi, marak dikaitkan dengan tumbuhnya kelas menengah. Tapi saya yakin, tak banyak yang tahu siapa sesungguhnya kelas menengah ini.

Yang terbayang di benak kita begitu mendengar kelas menengah, adalah mereka-mereka yang mulai mapan. Memiliki rumah layak, punya mobil meski baru jenis Xenia; berpendidikan minimal universitas, memiliki cukup pensiun dan job security yang memadai, memiliki pendapatan berlebih (discretionary income) yang memungkinkan mereka membeli TV, lemari es, AC, dan liburan.

Namun, apakah benar seperti itu? Apa sesungguhnya definisi dari kelas menengah? Berbeda dengan kelas bawah (miskin) yang bisa didefinisikan secara absolut berdasarkan kebutuhan kalori (calory requirement), tidak ada definisi yang baku mengenai kelas menengah. Setiap badan dan peneliti memiliki versinya sendiri-sendiri mengenai definisi kelas menengah. Akibatnya jumlah kelas menengah di suatu negara juga berbeda- beda tergantung definisi yang diambil.

Relatif

Secara umum ada dua pendekatan untuk mendefinisikan kelas menengah, yaitu pendekatan absolut dan relatif. Lester Thurow (1987) dari MIT, mendefinisikan kelas menengah di Amerika Serikat (AS) sebagai kelompok masyarakat yang memiliki pendapatan (income) dalam rentang antara 75 persen dan 125 persen dari median (titik tengah) pendapatan per kapita. Jadi, batas bawah (floor) kelas menengah menurut definisi ini adalah sebesar 75 persen dari angka median pendapatan per kapita. Adapun batas atasnya sebesar 125 persen dari angka median pendapatan per kapita.

Sementara Easterly (2001) dari New York University, mendefinisikan kelas menengah dengan membagi penduduk dalam lima kelompok pengeluaran konsumsi (consumption expenditure) yang sama (quintiles), dari kelompok masyarakat termiskin hingga terkaya. Kelas menengah menurut Easterly diperoleh dengan mengeluarkan quintiles terbawah (20 persen kelompok masyarakat termiskin) dan quintiles teratas (20 persen kelompok masyarakat terkaya). Jadi, kelas menengah adalah kelompok masyarakat yang memiliki pengeluaran per kapita di quintiles kedua, ketiga, dan keempat.

Absolut

Kelemahan pendekatan relatif adalah bahwa setiap negara memiliki angka median pendapatan yang berbeda-beda, sehingga definisi kelas menengah dari berbagai negara akan berbeda-beda. Pendekatan absolut memperbaiki kelemahan ini dengan menetapkan rentang pendapatan (income) atau pengeluaran (consumption expenditure) tertentu untuk mendefinisikan kelas menengah.

Milanovic dan Yitzhaki (2002) menggunakan pendapatan per kapita rata-rata masyarakat Brasil dan Italia sebagai batas bawah (floor) dan atas (ceiling), untuk mendefinisikan kelas menengah. Definisi ini menghasilkan angka rentang pendapatan per kapita per hari kelas menengah sekira USD12-USD50 (berdasarkan purchasing-power parity (PPP) tahun 2000). Bussolo, et.al. (2007) mendefinisikan kelas menengah dengan menetapkan batas bawah garis kemiskinan (poverty line) di Brasil sebesar USD10) dan batas atas garis kemiskinan di Italia sebesar USD20.

Kriteria lain diberikan oleh Banerjee dan Duflo (2008),yang mendefinisikan kelas menengah dengan dua alternatif angka absolut, yaitu rentang pendapatan per kapita per hari USD2-USD4 dan USD6-USD10. Sementara Ravallion (2009) dari Bank Dunia, menggunakan batas bawah berupa median garis kemiskinan di 70 negara berkembang sebagai batas bawah, yaitu pendapatan per kapita per hari sebesar USD2 (PPP, 2005). Sementara untuk batas atas, dia menggunakan angka batas garis kemiskinan di AS sebesar USD13.Karena menggunakan batas atas kemiskinan di AS, definisi ini cocok diterapkan untuk negara-negara berkembang.

Di Indonesia

Lalu, bagaimana definisi kelas menengah di Indonesia? Definisi yang lebih cocok untuk negara-negara Asia dikeluarkan oleh Asia Development Bank (ADB).Pada 2010 ADB mendefinisikan kelas menengah dengan rentang pengeluaran per kapita per hari sebesar USD2-USD20. Rentang inilah yang kini banyak dipakai untuk mengukur jumlah atas menengah di Indonesia.

Rentang pengeluaran per kapita tersebut dibagi lagi dalam tiga kelompok, yaitu masyarakat kelas menengah bawah (lower middle class) dengan pengeluaran per kapita per hari sebesar USD2-USD4; kelas menengah tengah (middle-middle class) sebesar USD4-USD10; dan kelas menengah atas (upper-middle class) USD10-USD20 (PPP 2005). Dengan rentang pengeluaran USD220 maka didapatkan jumlah kelas menengah Indonesia sebanyak 134 juta (2010) atau sekira 56 persen dari seluruh penduduk,suatu jumlah yang sudah cukup besar.

Dalam sebuah survei yang dikeluarkan dua bulan lalu, McKinsey Global Institute menyebutkan kelas menengah dengan istilah "consuming class". Definisinya adalah individu yang memiliki pendapatan sebesar USD3.600 (PPP, 2005) ke atas. Dengan definisi ini, jumlah kelas menengah kita mencapai 45 juta pada 2010 dan akan meroket menjadi 134 juta pada 2030. Kelas menengah sesungguhnya tidak melulu ditentukan secara kuantitatif dengan indikator pendapatan dan pengeluaran semata.

Berbagai indikator kualitatif lain bisa digunakan seperti tingkat pendidikan, akses pada layanan kesehatan, pekerjaan, bahkan indikator psikografis seperti tingkat melek investasi, wawasan pengetahuan, atau kesadaran partisipasi politik. Kalau ukuran-ukuran itu juga dimasukkan maka sudah pasti kriteria kelas menengah menjadi kian beragam.

So, mulai saat ini Anda harus berhati-hati ketika menyebut kelas menengah, karena kita akan menemukan sosok yang berbeda-beda sesuai dengan kriteria yang kita pakai.

YUSWOHADY

Pengamat Bisnis dan

Pemasaran Penulis Buku ”Consumer 3000”

Blog: www.yuswohady.com Twitter: @yuswohady

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini