Mafia Pangan Bikin Harga Bawang Putih Meroket

Rezkiana Nisaputra, Jurnalis · Minggu 17 Maret 2013 12:05 WIB
https: img.okezone.com content 2013 03 17 320 777042 H1vb82fYPH.jpg Ilustrasi. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Tingginya harga bawang putih dalam beberapa waktu terakhir di Indonesia, merupakan puncak masalah akibat dari hancurnya sistem bernegara dan berpindahnya kekuasaan negara ke tangan kartel, mafia, dan sindikat pangan.

Akibatnya, negara tidak lagi dapat mengontrol harga. Pasokan bawang putih sepenuhnya dikuasai sindikat yang bekerjasama dengan oknum pemerintahan. Hal inilah yang mendorong melangitnya harga bawang putih hingga mencapai Rp70.500 per kilogramnya (kg).

Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng mengatakan, terkait dengan hal ini pemerintah selalu mencari solusi dengan cara memperbesar impor. Padahal, volume impor produk bawang meroket. Volume impor produk bawang putih sampai dengan 2012, menurut Badan Pusat Statistik (BPS), berjumlah 415 ribu ton, jika dibandingkan pada 2006 di mana volume impor bawang putih saat itu hanya berjumlah 295.057 ton.

“Kenaikan pada volume impor bawang putih ini mencapai 59,35 persen. Akibat kebijakan impor ratusan ribu petani menjadi bangkrut," ujar Peneliti AEPI Salamuddin Daeng, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Minggu (17/3/2013).

Daeng menambahkan, para pejabat dan sindikat impor kaya raya dari menjual rekomendasi impor dengan penerbitan Rekomendasi Impor Produk Hortikuktura (RIPH). Akibatnya, importir produk bawang putih meningkat yang sebelumnya 70 importir menjadi 130 importir pada 2012.

Sedangkan penyerahan urusan pangan kepada importir, menurutnya, jelas akan semakin menjerumuskan rakyat, bangsa dan negara pada dalam jurang kekuasaan para sindikat, mafia, dan kartel. “Impor bawang yang dilakukan pemerintah mencerminkan kegagalan dalam mewujudkan swasembada pangan, dan pemberdayaan petani dalam negeri sendiri," tutupnya. (wan)

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini