Share

Dirut BCA Nilai Aturan KPR Baru Tak Tepat

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Senin 15 Juli 2013 22:33 WIB
https: img.okezone.com content 2013 07 15 471 837409 lcE1AUdXoy.jpg Dirut BCA Jahja Setiaatmadja. (Foto: Okezone)

JAKARTA - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menilai kebijakan Bank Indonesia (BI) tentang pembatasan uang muka kredit (loan to value ratio/LTV) properti (Kredit Pemilikan Rumah/KPR) kurang tepat.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, apabila mengurangi LTV itu harus diturunkan maka besaran uang muka (Down Payment/DP) harus dinaikkan.

"Ini dilakukan supaya yang mampu saja yang bisa beli," ungkap Jahja saat buka puasa bersama, di Hotel Kempenski, Jakarta, Senin (15/7/2013)

Jahja menjelaskan, ini cenderung membuat adanya kenaikan uang muka di atas 30 persen sebagai solusi untuk mengendalikan laju permintaan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) yang tidak sejalan dengan tingginya harga dan pasokan rumah yang terbatas.

"Ya memang untuk KPR kan ada saja orang untuk investasi, dan yang spekulasi juga ada," jelasnya.

Lanjut Jahja mengungkapkan, pihaknya telah melakukan penurunan tingkat suku bunga kredit di hampir semua sektor. Dia menambahkan bahwa suku bunga kredit memang sudah saatnya untuk dikendalikan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi antara 5,7 persen hingga 5,8 persen.

"Memang kan kebijakan itu, laju KPR dan kita sendiri kurangi. Semua kredit harus dikurangi karena ekonomi bisa terlalu panas. Saya kira growth 5,7-5,8 sudah cukup," kata dia.

Kendati demikian, dirinya menilai tingkat suku bunga tersebut juga harus tetap menjaga likuiditas. Dia mengatakan tingkat kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) masih di angka 0,4 persen.

"Kalau nasional kan 18 persen. Karena kita harus jaga likuiditas. NPL gross masih 0,4 persen, kalau net 0,2 persen, menurut saya NPL akan bereaksi kalau kredit (tumbuh) 2 persen," pungkasnya.

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini