Mahakam Tak Jelas, Total E&P Sulit Jual Gas

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Kamis 18 Juli 2013 15:01 WIB
https: img.okezone.com content 2013 07 18 19 838967 4wVeKdTzma.jpg Ilustrasi. (Foto: Forbes)

JAKARTA - Total E&P Indonesie menilai jika keputusan Blok Mahakam, Kalimantan Timur belum segara diputuskan pascakontrak habis 2017, maka akan mempengaruhi kontrak Pembelian Jual Beli Gas (PJBG) yang dilakukan oleh sejumlah negara, kepada perusahaan minyak dan gas bumi (migas) asal Prancis tersebut.

"Tentu yang biasa beli produk migas mempertanyakan juga. Ini kan soal bagaimana mereka menindaklanjuti pembelian di tempat kami," ungkap Vice President Resources Communications and General Services Total, Arividya Noviyanto, di Gedung WTC II, Jakarta, Kamis (18/7/2013).

Noviyanto menjelaskan, saat ini ekspor produk migas yang dilakukan perusahaannya sebagai komitmen kontrak penjualan banyak diarahkan ke Asia, Jepang, dan Korea Selatan.

"Banyak yang beli. Terutama kontrak lama di Asia yaitu Jepang yang terkenal western buyer, dan Korea Selatan. Mereka juga sudah mempertanyakan terkait kontrak perpanjangan Blok Mahakam," katanya.

Noviyanto mengungkapkan, apabila terjadi keterlambatan dalam keputusan untuk perpanjangan kontrak, maka dapat dipastikan akan mengganggu penyaluran gas ke pembeli itu harus didiskusikan.

"Itu yang harus didiskusikan, kan tergantung hasil produksinya. Kalau di gas kita menjanjikan volume. Maka dari itu, kesinambungan level produksi sesuai dengan yang dijanjikan itu harus jelas. Kalau tadinya dijanjikan turun seperti ini lalu turun sekali, kemudian enggak ada yang tegas itu yang jadi problem," katanya.

Sekedar informasi, hingga kini status perpanjangan kontrak masih terus didiskusikan oleh pemerintah. Kontrak yang akan berakhir di 2017 masih dioperatori oleh Total E&P Indonesie, dan Inpex Corporation. Total sendiri telah mengajukan proposal perpanjangan dengan melakukan komitmen investasi USD 7,3 miliar.

Total E&P Indonesie telah mengelola Blok Mahakam sejak 31 Maret 1967 untuk 30 tahun. Ketika kontrak pertama berakhir pada 1997, perusahaan asal Prancis itu mendapat perpanjangan kontrak selama 20 tahun hingga 2017.

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini