nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Syahrial Loetan, dari Nyemplung ke Rawa Hingga Hadapi Belanda

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Rabu 18 September 2013 02:23 WIB
https: img.okeinfo.net content 2013 09 17 22 867561 xdwwTR8ZKO.jpg Komisaris PLN, Syahrial Loetan. (Foto: Okezone)

SYAHRIAL Loetan mengakhiri karirnya sebagai Sekretaris di Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas). Dia merupakan sarjana bidang Teknik Sipil dari Institut Teknologi Bandung (ITB) lulusan 1976, dilanjutkan dengan gelar Master bidang Perencanaan Kota dari University of California, Berkeley pada 1991.

Syahrial, yang kini menjabat sebagai komisaris independen di PT PLN (Persero) memulai kariernya di Bappenas, sebagai staf ahli untuk kepala pengembangan kota pada periode 1996-1997, dia kemudian menjadi kepala observasi untuk implementasi proyek pengembangan pada periode 1997-2000, kariernya kemudian dilanjutkan menjadi kepala biro observasi dan evaluasi pada periode 2000-2001. 

 

Pada periode 2001-2002, dia diangkat menjadi direktur evaluasi dan observasi keuangan, dan pada periode 2002-2003 menjabat sebagi direktur pembiayaan multilateral, kepala inspektur jenderal pada 2003-2005, sebelum menutup kariernya di Bappenas sebagai Sekretaris utama.

Tapi siapa yang menduga, Syahrial bukan dari keturuan seorang insinyur. Dia lahir dari seorang ayah yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan seorang ibu rumah tangga. Terlahir dari tangan dingin ayahnya yang sangat disiplin, dia mengisahkan perjalanannya hingga sampai di badan perencana nasional tersebut.

“Ayah saya sangat disiplin, dia kariernya dari zaman Belanda, dia guru di Lampung, ketemu ibu saya di Lampung, menikah di sana. Jadi di jodohin, ibu saya di Aceh dijodohin di Lampung, lucu ya, umur mereka terpaut 10 tahun,” jelas dia kala berbincang dengan Okezone belum lama ini.

Saat itu, ayahnya merupakan seorang guru yang mengajar di Sekolah Jepang. Namun, dengan keadaan Indonesia yang tengah mengalami ketidakpastian, akhirnya ayahnya beralih profesi sebagai jurnalis, yang bergerak di bidang radio.

“Nah ayah saya malah ngelamar jadi penyiar, jadi penyiar di NHK, jadi setiap pagi dia itu say hello good morning, pake bahasa Jepang,” tambahnya.

“Sepanjang karier dia di radio, dengan awal karier dia pernah jadi kepala RRI di Padang, Pekan Baru, Sumatera Tengah, kepala RRI di medan, kepala RRI di bukit Tinggi, Bandung. Kalau Anda ke Bandung, ke RRI Bandung, batu pertama itu nama ayah saya, karena dia yang bangun,” ujarnya bangga.

Syahrial melanjutkan, usai Gerakan September 30 (Gestapu) pada  tahun 1965, ayahnya dipindahkan ke Jakarta. Penyebabnya, karena kepala RRI seluruh Indonesia, yakni di Jakarta, terlibat PKI. Akhirnya diadakan pertemuan kepala RRI seluruh Indonesia. “Bukan ditunjuk, tapi di suruh vote, siapa yang pantas, dan ayah saya terpilih,” jelasnya.

Menurutnya, hal ini tidak lepas dari peran ayahnya saat di Medan. Pasalnya, Medan merupakan studio terbesar yang ada di seluruh Sumatra. “Dan ayah saya orangnya disiplin setengah mati, disiplin dan kind for his staf, orangnya keras, disiplin. Tapi kalau sama anak buahnya itu sayangnya setengah mati, sehingga waktu dia mau pensiun itu anak buahnya pada nangis semua,” tuturnya.

Dia melanjutkan pada 1965, ayahnya menjadi kepala RRI seluruh Indonesia, di zaman pemerintahan Bung Karno,  karenanya hampir setiap hari mereka melakukan interaksi di istana. “Jadi ayah saya datang dari pegawai negeri tulen, ibu saya dari ibu rumah tangga yang memelihara kita bertujuh, dan mungkin displinnya menurun ke kami semua,” jelasnya.

“Jadi saya enggak bisa anda undang rapat jam 10.00 saya leha-leha datang jam 11.00 , itu paling enggak bisa. Jadi kalau diundang jam 10.00, saya ngitung, saya datang harus jam 10.00, perjalanan satu jam, jadi saya harus berangkat jam 09.00. Jadi kalau di Bappenas saya undang rapat jam 10.00 pada belum datang, saya mulai saja rapatnya, ya paling saya beri toleransi 10 menit. Menurut saya, disiplin itu modal untuk apapun,” tuturnya.

Namun, meskipun ayahnya merupakan seorang penyiar, tapi dia tidak pernah berpikir untuk mengikuti jejak ayahnya menjadi penyiar, Menurutnya, dia malah tertarik untuk mengembangkan bakat di bidang seni, ketimbang harus menjadi kuli tinta. Meski tidak pernah berniat menjadi penyiar, tapi dia mengaku cukup terpengaruh dengan pekerjaan ayahnya tersebut.

“Jadi tiap tahun kan ada pemilihan bintang radio, nah saya dan kakak saya suka datang ke situ, studio lima, itu ada piano gede gitu, jadi mereka latihan, kita dengerin di balik pintu itu, anak-anak kecil gitu, dulu SD kelas 1-2. Apa karena itu saya jadi senang ke nyanyi dan segala macam, ya enggak tahu juga,” ungkapnya sambil tertawa.

Awal Karier

Syahrial yang lulus dari kuliahnya di bidang Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB), dihadapkan pada masalah yang sama bagi setiap sarjana muda yang lulus. Mau kerja di mana?

“Pas mau lulus itu sudah bingung mau kerja apa, trus saya ngobrol-ngobrol sama teman-teman. Terus terang, enggak ada pikiran mau kerja di tempat yang bergaji besar, enggak begitu. Pikirannya kita lulus bisa ngebantu orang yang susah,” katanya.

Akhirnya, pilihan Syahrial muda pun jatuh di Kementerian Pekerjaan Umum (PU), karena dianggap sesuai dengan jurusan yang dulu dia ambil. Awal masuk di Kementerian PU, dia ditugaskan untuk menangani proyek pasang surut. “Proyek itu mendevelop lahan rawa-rawa, dibuka jadi sawah, dan memindahkan orang transmigran,” jelas dia.

Dia melanjutkan, hampir setiap minggu dia ditugaskan ke lapangan, untuk melakukan survei di laut, di rawa besar. “Dulu enggak ada takutnya sama buaya, sama ular, masuk ke air, masang alat pengukur, pasang surut, jam dua baru masuk pakai sarung, karena banyak nyamuk,” katanya mengisahkan.

Aktivitas tersebut,  berjalan cukup lama, dari periode 1975-1983, dan selama lima sampai enam tahun dia didaulat memimpin survei di sungai-sungai besar di Indonesia, seperti sungai Musi, Bata Kari, Rokan, Mahakam. “Jadi daerah situ saya tahu semua, karena waktu muda ke situ terus,” jelasnya.

Meski begitu, dia juga mendapatkan imbalan yang setara dengan pekerjaannya. Menurutnya, setiap ditugaskan ke lapangan dia mendapatkan ongkos sebesar Rp6.000 per hari. ”Di lapangan bisa 20 hari, pulang-pulang tebal kantong saya. Cuma, karena enggak punya plan habis saja untuk fora-foya, buat traktir temen-temen. Ya zaman masih susah terus tiba-tiba banyak duit,” kenangnya.

Syahrial akhirnya ditunjuk menjadi kepala seksi di Kementrian PU. Dia memiliki tujuh orang insinyur, yang membantunya menyelesaikan pekerjaannya. Dia pun gencar melakukan kerjasama dengan Belanda, World Bank untuk melakukan survei ke lapangan. Puncaknya, dia pernah memimpin orang-orang Belanda dan ahli-ahli Indonesia sebanyak 60 orang, untuk melakukan survei di Sumatera Selatan, dengan empat kapal besar.

“Survei hydrometri di sungai-sungai besar, ambil sample lumpur, laut, mengukur kedalamannya sungai, membuat peta profil sungai, mengukur kecepatan air, mengukur kadar garam, mengukur sedimentasi yang terbawa, untuk desain yang pasang surut,” jelasnya.

Meski sudah memiliki jabatan, namun Syahrial masih belum puas untuk mengembangkan diri. Dia pun berencana untuk melanjutkan studi di luar negeri. Sayangnya, rencananya itu, tidak mendapat restu dari rekan-rekannya di Kementerian PU. Menurutnya, hal ini lantaran dia menjadi salah satu andalan untuk kantornya.

“Kenapa jadi salah satu andalan, karena saya mau ngembangin diri, rajin dan saya berbahasa inggris bagus, kata orang-orang loh, jadi semua report yang  bahasa Inggris berakhir di meja saya,” ungkap Syarial.

“Terus, waktu enggak boleh sekolah, sampai akhirnya saya nyolong-nyolong daftar ke Bappenas, untuk sekolah luar negeri, memang saya sudah sering ke luar negeri waktu di PU, training ini, training itu. Kursus ini, kursus itu. Orang PU itu enggak ada yang ke AS. Kalau enggak ke Belanda, Kanada, palingan situ,” jelas dia.

Hasilnya, dia diterima pun diterima dalam beasiswa tersebut. Namun, teman-temannya di Kementrian PU yang akhirnya mengetahui, menganggap dia hendak keluar dari Kementerian PU. “Saya masuk planning scholl di AS, pulangnya di rekrut di Bappenas,” tutur Syahrial.

“Enggak tahu tuh, Bappenas, saya dipanggil diwawancara terus di rekrut, padahal saya enggak kepingin. Tapi saya mikir, sudah 15 tahun di PU. Akhirnya sampai karier saya berakhir di Bappenas, sampai muter-muter dari satu tempat ke tempat lain, dan berakhir setelah melayani tiga menteri, dan waktu pak Kwik Kian Gie jadi menteri, saya bukan sekretaris, tapi Direktur Jenderal (Dirjen) multilateral (pencari utang) dan Inspektur Jenderal (Irjen), jadi jabat dua,” tukas dia.

()

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini