Menang Nobel Ekonomi, Ini yang Mereka Teliti

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Senin 14 Oktober 2013 18:38 WIB
https: img.okezone.com content 2013 10 14 213 881588 cNjJEoVanp.jpg Ilustrasi. (Foto: Wikipedia)

JAKARTA - The Royal Swedish Academy of Sciences telah menobatkan tiga orang yang berasal dari Amerika Serikat (AS) untuk menerima The Sveriges Riksbank Prize dalam Ilmu Ekonomi untuk Mengenang Alfred Nobel. Ketiganya mendapatkan penghargaan untuk analisis empiris terkait dengan penelitian harga aset dalam jangka pendek.

Melansir Nobelprize, Senin (14/10/2013), ketiga orang tersebut berasal dari AS yaitu Eugene F Fama dari University of Chicago, Lars Peter Hansen dari University of Chicago, dan Robert J Shiller dari Yale University, New Haven.

Dimulai pada 1960, Eugene Fama yang saat itu berkolaborasi dengan beberapa orang melihat fluktuasi harga saham sangat sulit untuk diprediksi dalam jangka pendek, karena informasi yang baru sangat cepat masuk ke dalam harga.

Dari situ mereka kemudian mencoba sebuah penelitian, yang memiliki dampak mendalam pada praktek pasar. Munculnya indeks di pasar saham di seluruh dunia adalah contoh menonjol.

Jika hampir tidak mungkin untuk memprediksi harga saham selama beberapa hari atau minggu, maka seharusnya mereka lebih sulit untuk memprediksi selama beberapa tahun? Jawabannya adalah tidak, Robert Shiller telah menemukan hal itu pada awal 1980-an .

Dia menemukan bahwa harga saham berfluktuasi melebih dividen perusahaan, di mana rasio harga saham terhadap dividen cenderung turun ketika tinggi, dan meningkat saat rendah. Pola ini berlaku tidak hanya untuk saham, tetapi juga untuk obligasi dan aset lainnya.

Salah satu pendekatan menafsirkan temuan ini direspons oleh investor untuk menentukan ketidakpastian harga. Keuntungan tinggi dilihat sebagai kompensasi bagi pemegang aset berisiko.

Lars Peter Hansen mengembangkan metode statistik yang sangat cocok untuk menguji teori rasional asset pricing. Dengan menggunakan metode ini, Hansen dan peneliti lainnya telah menemukan bahwa modifikasi dari teori dapat menjelaskan pergeseran arah harga aset.

Pendekatan lain berfokus pada penyimpangan dari perilaku investor rasional. Jadi yang disebut perilaku keuangan memperhitungkan pembatasan institusional, seperti batas pinjaman yang mencegah investor dari salah menilai harga dalam perdagangan di pasar.

Ketiga orang tersebut, telah menjadi dasar bagi pemahaman harga aset saat ini. Hal ini juga bergantung fluktuasi risiko dan sikap, dan sebagian pada bias perilaku dan friksi pasar.

()

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini