nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Terpuruknya Rupiah & IHSG di 2013

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Selasa 24 Desember 2013 11:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2013 12 24 278 916693 jLa8TNEWyr.jpg Ilustrasi. (Foto: Okezone)

AWAL tahun 2013 kondisi perekonomian Indonesia ditargetkan bisa tumbuh mencapai enam persen, mengacu pertumbuhan tahun lalu yang mencapai di atas angka tersebut.

Namun di luar ekspektasi, Tahun Ular ini ekonomi Indonesia banyak mengalami "serangan" dari global. Pertumbuhan Indonesia pun melambat, diperkirakan hanya mencapai 5,6-5,8 persen.

Serangan global ini lebih kepada perbaikan ekonomi AS, penutupan (shut down) Pemerintah AS, serta rencana tapering off yang dilakukan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), the Fed.

Imbas dari "serangan" ekonomi global pun berdampak pada laju nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada awal 2013, mata uang Garuda ini mulai dibuka di level Rp9.600-an per USD dan kini tersungkur di level Rp12.200 per USD.

Tidak hanya Rupiah yang terus melemah, pasar saham di Indonesia pun terguncang. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memasuki masa suram, di bawah level 4.500 bahkan berkutat di level 4.100-4.200 meskipun pernah menembus rekor di level 5.200.

Pelemahan ini memang tidak terlepas selain "serangan" ekonomi global, akan tetapi juga didorong dengan defisitnya transaksi berjalan (current account deficit) akibat impor BBM dan minyak mentah yang tinggi.

Langkah-langkah terus dilakukan pemerintah guna menjaga Rupiah dan pasar modal di Tanah Air terjaga. Ada sejumlah langkah yang ditempuh seperti menaikkan suku bunga acuan (BI Rate), mengeluarkan paket-paket kebijakan, serta tindakan preventif.

Seperti apa lika-liku perekonomian Indonesia pada tahun ini? Berikut catatan Okezone selama Januari-Desember 2013.

Januari

Depresiasi yang terjadi pada nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), menyebabkan Rupiah terhadap dolar AS tidak sesuai asumsi. Hal ini tentu saja mempengaruhi nilai ekspor impor Indonesia. Menteri Keuangan saat itu, Agus DW Martowardojo mengungkapkan, nilai tukar Rupiah yang berada di kisaran Rp9.700 per USD masih dalam kategori aman. Dia menjelaskan, nilai tukar tersebut harus dilihat dalam rata-rata setahun.

Sementara, Gubernur Bank Indonesia (BI) saat itu, Darmin Nasution mengaku, nilai tukar Rupiah yang sudah berada pada level Rp9.700 per USD cukup mengkhawatirkan. Oleh karena itu pihaknya akan menyiapkan sejumlah instrumen perekonomian, untuk menekan nilai tukar di level ke Rp9.400-Rp9.600.

Sementara itu, untuk IHSG, pada akhir perdagangan Kamis 31 Januari 2013 berada di 4.453,7.

Februari

Posisi Rupiah, seperti dilansir dari kurs tengah Bank Indonesia (BI) melemah ke level Rp9.726 per USD. Kendati Rupiah melemah, pada bulan ini IHSG menunjukkan penguatan. IHSG bergerak optimistis pada akhir bulan Februari 2013 ini. Rekor baru pun kembali di cetaknya. Bahkan, IHSG parkir di level 4.795. Artinya, lima poin lagi, IHSG sentuh level 4.800. IHSG, pada Kamis 28 Februari 2013 berada di level 4.795,79.

Maret

Menurut kurs tengah Bank Indonesia (BI), Kamis 28 Maret 2013, Rupiah berada di level Rp9.719 per USD. Berdasarkan data Bloomberg, Rupiah berada di level Rp9.738 per USD. IHSG berada di level 4.940,99

April, IHSG Tembus Rekor

Rupiah, menurut kurs tengah Bank Indonesia (BI), Senin 29 April 2013 berada di Rp9.721 per USD. Sementara IHSG berada di posisi 5.034,07.

Mei, Rupiah Mulai Jatuh

Pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) terperosok dan mendekati level Rp10.000 per USD setelah merespons positifnya data-data AS. Selain itu komentar the Fed soal tapering off.

Pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi pada beberapa hari belakangan ini, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo meminta agar tidak disikapi secara tendensius atau berlebihan.

Agus menilai, pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini merupakan bagian dari fenomena global yang menimpa sebagian besar mata uang kawasan. Sementara IHSG semakin kokoh di level 5.068,63.

Juni

Rupiah mulai diperdagangkan di kurs Rp9.908 per USD. Walau begitu, Rupiah juga sempat menembus level Rp10.000. Salah satu penyebab anjloknya nilai tukar tersebut, lantaran investor menilai kondisi fiskal Indonesia yang kurang sehat akibat tingginya subsidi bahan bakar minyak (BBM).

Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri mengatakan, dengan kenaikan BBM bersubsidi, maka diharapkan dapat memperbaiki kondisi fiskal Indonesia. Dengan demikian, kepercayaan investor akan naik dan membawa nilai rupiah kembali menguat. Sementara IHSG mulai melambat ke posisi 4.818.

Juli, Rupiah & IHSG Tumbang

Pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) ditutup flat pada kisaran Rp10.270-Rp10.300 per USD. IHSG juga ikut terpuruk ke level 4.610,38.

Agustus, Paket Kebijakan Diluncurkan

Nilai tukar Rupiah kembali bergerak melemah, Rupiah kembali bergerak mendekati level Rp11.000. Pidato sejumlah menteri terkait kebijakan pemerintah tampaknya tidak mempengaruhi pasar. Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) tercatat rupiah berada di level Rp10.848. Sementara rupiah bergerak pada kisaran harian Rp10.902 hingga Rp10.749 per USD.

Kurs tengah Bloomberg mencatat, Rupiah berada pada median Rp11.066 per USD setelah melemah 191 poin atau 1,76 persen. Rupiah bergerak pada kisaran harian Rp10.785-Rp11.095 per USD.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan, kondisi pasar modal dalam tiga hari nyaris mendekati bahaya. Ukuran OJK, kondisi bahaya bila IHSG turun sampai 10 persen.

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pun memutuskan untuk meningkatkan BI rate 25 basis poin menjadi 7 persen. Hal ini direspons positif pelaku pasar. Pada penutupan hari itu, IHSG tercatat menguat 72 poin atau 1,75 persen menjadi 4.175,59. Indeks LQ45 juga tercatat menguat ke 695,38.

Penguatan terjadi di semua sektor utama, sektor perkebunan tercatat menguat ke 1.803,93, sektor konsumsi menguat ke posisi 1.863,47, sektor infrastruktur menguat ke 946,33, dan sektor manufaktur menguat ke 1.131,72.

Setelah paket kebijakan pemerintah dikeluarkan atas gejolak yang terjadi pada industri keuangan dan pasar modal, perlahan-lahan nilai tukar Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali membaik. Tapi IHSG makin terpuruk di 4.140 dan Rupiah ditutup pada harga Rp10.924.

September, Pelemahan Rupiah dan IHSG Kian Melemah

Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah, menjelang pengumuman rilis data makro ekonomi Indonesia. Rupiah akhirnya terpuruk ke level Rp11.406 per USD.

Melansir Bloomberg, Senin 30 September 2013, pada perdagangan non-delivery formward (NDF) Rupiah melemah 122 poin atau 1,08 persen menjadi Rp11.406 per USD. Adapun pergerakan Rupiah terendah pada kisaran Rp11.666 per USD, dari penutupan perdagangan kemarin di RP11.284 per USD. IHSG juga makin terpuruk, yakni berada di 4.316,17.

Oktober

Rupiah nampaknya masih belum memiliki sentimen positif untuk menguat. Pada perdagangan hari ini, nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tercatat kembali melemah. Rupiah semakin terpuruk di Rp11.274 per USD. Sementara yahoofinance mencatat Rupiah melemah 109 poin atau 0,97 persen menjadi Rp11.279 per USD.

Sedangkan kurs acuan Jisdor milik Bank Indonesia (BI) mencatat Rupiah melemah ke Rp11.234 per USD, dengan pergerakan hariannya di kisaran Rp11.178-Rp11.290 per USD. Sementara itu, IHSG masih berkisar di 4.510,63.

November, Rupiah Makin Tenggelam

Melansir Bloomberg, Jumat 29 November 2013, Rupiah berada di level Rp11.965 per USD. Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo meminta kepada pelaku pasar untuk tidak panik atas pelemahan nilai tukar Rupiah yang sempat mencapai Rp12.018 per Dolar Amerika Serikat (AS). IHSG pun tercatat masih bergerak di kisaran 4.249,74.

Desember

Rupiah masih melemah. Bank Indonesia berkomitmen untuk menjaga rupiah di pasar. Namun hingga berita ini diturunkan Rupiah berada di level Rp12.230 per USD. IHSG pun tercatat naik 35,69 poin atau 0,85 persen ke 4.231,98. Awalnya, IHSG ditargetkan bisa menyentuh 5.000, lalu diturunkan menjadi 4.500. Melihat kondisi ini, rasanya mustahil untuk bisa menyentuh angka optimistis tersebut.

(wdi)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini