nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pemangkasan Stimulus yang (Tidak) Berujung Duka

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Rabu 25 Desember 2013 11:16 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2013 12 25 213 917214 seyO4BnxfS.jpg Ilustrasi. (Foto: Reuters)

PADA 13 September 2012, ekonomi global mulai menemukan titik cerah, lantaran Bank Sentral Amerika Serikat (AS), the Federal Reserve, mengumumkan kebijakan Quantitative Easing tahap III atau yang dikenal dengan QE III. Dalam kebijakannya ini, the Fed menyebar tak kurang dari USD40 miliar per bulan yang digunakan untuk pembelian US Tresury Bond (obligasi AS).

Kebijakan tersebut, dikeluarkan untuk mendukung pertumbuhan tenaga kerja AS, agar tetap stabil. Namun, kondisi perekonomian global yang masih belum menunjukkan perbaikan memaksa the Fed bertindak lebih jauh. Pada Federal Open Meeting Committee (FMOC) akhir tahun, the Fed sepakat untuk memperpanjang pembelian obligasi tersebut. Bahkan, the Fed menambah suntikan dana sebesar USD45 miliar.

Dengan demikian, terhitung sejak awal 2013, the Fed melakukan pembelian obligasi sebesar USD85 miliar per bulannya. Kebijakan ini disambut positif oleh pasar saham, komoditas, bahkan pasar keuangan. Sampai saat ini, tidak kurang USD1,185 triliun telah beredar di pasaran dan telah memberikan peningkatan pada harga emas, dan pasar saham.

Jika kita meilhat ke belakang, sejak 2007 AS telah menjadi salah satu perekonomian terkuat di negara maju, dengan profit tinggi pada setiap perusahaannya. Namun, predikat perekonomian terbesar ini tidak sebanding dengan data penyerapan tenaga kerja. Selain itu, besarnya ekonomi AS juga tidak datang secara gratis, dibutuhkan biaya paling tidak USD6,4 tiriliun yang sekarang tercatat menjadi utang publik federal baru sejak resesi dimulai pada Desember 2007. Angka tersebut naik 225 persen dari utang sebelumnya sebesar USD1,2 triliun.

Karenanya, adanya stimulus ini telah membuat beberapa harga komoditas, terutama logam mulia, sempat melonjak. Pasalnya, program pembelian obligasi ini diperkirakan akan membawa inflasi tinggi, apalagi the Fed masih mempertahankan suku bunga acuannya mendekati level nol persen.

Batal Dipangkas

Dana yang dikucurkan the Fed ini memang berhasil membawa beberapa perbaikan pada pasar tenaga kerja di AS. Meski demikian,  the Fed masih enggan untuk memangkas bahkan menghentikan stmulusnya, karena ekonomi AS masih belum stabil secara penuh. Ditambah lagi, adanya pembicaraan anggaran di Washington, membuat the Fed harus pasang ‘kuda-kuda’ dan mempersiapkan sejumlah jurus untuk menghadapi skenario terburuk.

Kekhawatiran the Fed bukannya tanpa alasan, pembicaraan anggaran antara Presiden AS Barack Obama dengan partai oposisi memang dapat berakhir dengan kebuntuan. Benar saja, pembicaraan anggaran yang dilakukan oleh Partai Republik dan Demokrat terkait batas pinjaman tersebut berakhir dengan shutdown pemerintahan AS. Lembaga-lembaga pemerintah AS, kecuali lembaga sosial, terpaksa ditutup karena tidak mendapatkan persetujuan dana.

Federal Reserve Bank of Chicago President Charles Evans , mengatakan perselisihan fiskal di Washington telah berakibat pada pemangkasan stimulus obligasi bulanan Bank Sentral. Penutupan pemerintah AS ini, telah mengganggu kondisi perekonomian AS, oleh karenanya the Fed perlu kembali mengkaji, apakah stimulus USD85 miliar per bulan tersebut akan di pangkas atau tidak.

Keputusan dalam FOMC pada September akhirnya memutuskan untuk tetap melanjutkan stimulus pembelian obligasi, lantaran perbaikan pasar tenaga kerja yang berkelanjutan belum terjadi.

To Be, or Not To Be: That Is The Question

William Shakespeare dalam bukunya “Hamlet, Sang Peniup Seruling”, menggunakan kalimat tersebut untuk menggambarkan situasi yang membingungkan. Setali tiga uang, situasi yang sama juga dihadapai oleh oleh pasar. Para investor yang ragu-ragu, ditambah kelakuan para spekulan semakin membuat ketidakpastian pada pasar.

Pasalnya, pelonggaran kuantitatif tahap III ini, diprediksi akan menjadi stimulus terbesar yang pernah dikeluarkan oleh Bank Sentral AS tersebut.  Mungkin, dampak yang paling nyata ada di pasar real estate . Di tengah upaya stimulus Fed yang sedang berlangsung, pembeli rumah baru dengan nilai kredit yang murni telah mampu menempatkan hipotek 30 tahunan pada tingkat terendah dalam sejarah , dan kepemilikan rumah dengan hipotek yang tengah berjalan, juga dapat ditekan dengan dengan refinancing.

Meski begitu, kebijakan ini seperti pedang bermata dua, di satu sisi terjadi peningkatan besar-besaran pada pasar saham. Namun, ada risiko global lainnya, karena kebijkaan suku bunga yang rendah di AS, telah membawa para investor berbondong-bondong ke pasar negara berkembang, karena keuntungan yang lebih tinggi.

Adanya stimulus, tentu akan membawa tren aliran dana ke negara berkembang ini terus berlanjut. Namun sebaliknya, jika stimulus dihentikan, maka investor mungkin secara cepat akan menarik kembali uang mereka, seperti yang terjadi dalam beberapa bulan ini.

Data-data perbaikan ekonomi AS setiap bulannya, semakin menambah kekhawatiran akan pemangkasan stimulus tersebut. Hasilnya, setiap the Fed akan mengadakan FMOC, maka gejolak di pasar saham dan keuangan kerap terjadi. Bukan hanya di AS, namun berimbas pada pergerakan saham-saham di Asia juga.

Karenanya, situasi musim panas ini penuh kehkhawatiran, apakah stimulus The Fed akan dihentikan atau tidak. Banyak investor berpikir bank sentral siap untuk mulai memangkas pembelian obligasi pada Juli atau September. Bahkan, tingkat rata-rata hipotek 30 tahunan melonjak dari 3,35 persen pada minggu pertama Mei, menjadi 4,5  persen hanya delapan minggu kemudian, ketika Fed memutuskan untuk tidak memangkas stimulus pada September, harga perlahan normal lagi.

Bukan hanya pasar perumahan yang terkena imbasnya. Para investor emas, yang berharap dari aset safe haven ini harus gigit jari. Tahun ini, harga emas sudah turun 24 persen menjadi USD1.279,43 per troy ons di London, dan emas sudah memasuki fase bearish sejak April lalu. Saat ini, harga emas turun 33 persen di bawah rekor USD1.921,15 per troy ons yang terjadi September 2011.

Situasi serupa juga terjadi pada saham-saham di Asia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), acuan saham di Indonesia, harus terlempar jauh dari posisi tertingginya 5.000 menjadi di kisaran 4.250, dalam hanya beberapa bulan karena para investor mulai mengalihkan danannya. Bukan hanya itu, para investor pun mulai kembali mempercayai dolar AS, dan membuatnya menguat terhadap sebagian besar mata uang dunia.

Akhir Penantian Panjang

Setelah penantian yang cukup panjang, akhirnya pada 18 Desember waktu setempat, lewat pertemuan FOMC terakhir di 2013, the Federal Reserve telah memulai tugas berisiko dengan menghentikan aliran stimulus. Hal ini dilakukan setelah perekonomian AS akhirnya cukup kuat untuk bertahan tanpa stimulus obligasi.

Bank sentral memangkas sebesar USD10 miliar menjadi USD75 miliar per bulan, namun the Fed tetap menahan suku bunga acuan mendekati nol persen. Pada konferensi pers terakhirnya, Ketua the Fed, Ben Bernanke, mengatakan bahwa dengan data-data yang baik, maka stimulus mungkin disetop pada akhir 2014.

Langkah yang mengejutkan bagi beberapa investor ini nyatanya tidak menyebabkan shock pasar seperti yang ditakutkan, terbukti saham-saham di AS mencatat rekor tertinggi. Pasalnya, pasar melihat prospek perekonomian dan pasar tenaga kerja di AS lebih baik. Ini menjadi titik balik bersejarah bagi percobaan kebijakan moneter terbesar yang pernah ada.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Difi Johansyah, mengatakan tapering menunjukan solidnya pemulihan ekonomi AS yang merupakan ekonomi terbesar di dunia dan pasar bagi ekspor negara berkembang. Menurutnya, pemulihan ekonomi AS ini akan mendorong ekspor negara berkembang dan mendorong recovery ekonomi dunia, bersama dengan pulihnya ekonomi Eurozone, Cina dan Jepang.

Menurutnya, pemangkasan stimulus ini akan memberikan dampak positif bagi Indonesia. Ekspor Indonesia dapat meningkat, khususnya produk manufakturing. Menurutnya, pengurangan stimulus moneter telah diperkirakan sejak tahun lalu. Oleh karena itu, pasar keuangan sebenarnya sudah memperhitungkan dampak tapering dan sudah melakukan penyesuaian selama 2013.

Difi mengatakan, reaksi pasar keuangan global terhadap tapering relatif stabil karena pasar sudah memperhitungkan. Adanya pengurangan stimulus moneter juga berarti menghilangkan satu ketidakpastian yang membayangi ekonomi global.

Ekonom Universitas Indonesia Muslimin Anwar mengatakan setidaknya ada dua dampak tapering off terhadap ekonomi domestik, yaitu melalui jalur perdagangan dan jalur keuangan.

Melalui jalur perdagangan, kebijakan tapering off yang merupakan sinyal perbaikan ekonomi AS akan meningkatkan ekspor Indonesia ke negara AS baik langsung maupun tidak langsung. Dia menjelaskan, perbaikan ekonomi AS akan mendorong peningkatan daya beli masyarakat AS sehingga kebutuhan barang-barang impor dari emerging market seperti Indonesia akan meningkat.

Dampak kedua, adalah tapering off stimulus kebijakan moneter the Fed akan sangat dirasakan dalam jangka pendek di pasar keuangan. Tanda-tanda terjadinya pemulihan ekonomi di AS tersebut akan memicu investor global untuk menarik dana-dana nya di emerging markets, termasuk Indonesia, untuk ditanamkan pada sektor-sektor ekonomi di AS.

Menurut Muslimin, apabila ini tak diantisipasi dengan baik maka akan memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah akibat terjadinya penarikan modal (capital outflow). Ia meminta pemerintah harus mampu memberikan berbagai insentif agar dana-dana tersebut, yang produktif, dapat bertahan lama di Indonesia.

Isu penarikan stimulus oleh Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (Fed), sudah menjadi pendorong pelemahan pasar modal Indonesia lagi. Pasalnya IHSG sudah anjlok sejak isu ini bergulir pada pertengahan tahun.

Ketidakpastian isu tapering telah membuat IHSG bearish di sepanjang kuartal II tahun ini. Dengan hasil rapat FMOC tersebut, pasar diharapkan akan lebih stabil bahkan menguat. Di akhir tahun diharapkan indeks bakal menguat ke level 4.300-4.400.

Menteri Keuangan Chatib Basri menambahkan, situasi pasar yang dipantaunya sama dengan kondisi sepekan terakhir. Memang ada pelemahan rupiah dan indeks tapi dalam nilai yang relatif terkendali. Kondisinya tidak berbeda dengan saat pertama kali The Fed mengungkapkan rencana tersebut ke pasar.

Wakil Menteri Keuangan II Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro membenarkannya, pengumuman oleh the Fed, kemarin, tidak membuat gejolak di pasar menjadi lebih besar. Hal tersebut disebabkan gejolak telah terjadi sejak Mei lalu. Oleh karena itu, Bambang menyebut Indonesia harus memperkuat fundamental perekonomian.

Dia mengatakan, jika jumlah stimulus diturunkan dan jumlah aliran modal masuk asing menjadi sangat terbatas, maka pemerintah harus memastikan sistem ekonomi Indonesia masih menarik buat investor global. Karenanya, penguatan fundamental perekonomian salah satunya melalui perbaikan neraca transaksi berjalan.

Dari sisi fiskal, Bambang menyebut kebijakan untuk mengurangi neraca transaksi perdagangan dan mendorong investasi telah dikeluarkan pemerintah. Pun dengan serangkaian kebijakan di sisi moneter seperti bilateral swap agreement, stand by loan hingga bond stabilization framework telah disiapkan.

(wdi)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini