Penjualan TelkomVision yang Tidak Diduga

Hendra Kusuma, Jurnalis · Kamis 26 Desember 2013 07:40 WIB
https: img.okezone.com content 2013 12 25 320 917314 kTqjJdCBr3.jpg (Foto: Telkomvision)

JAKARTA - Tahun 2013 akan segera berakhir, namun banyak kejadian yang tidak dapat diprediksi, baik dari pemerintah maupun para pengusaha yang eksis dalam kegiatan pemerintah di Indonesia. Salah satunya mengenai perusahaan BUMN yang bergelut di bidang telekomunikasi, yakni PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom). Di mana, tidak ada persoalan yang sangat mendesak, tiba-tiba BUMN besar ini menjual anak usahanya yakni PT Indonusa Telemedia (TelkomVision).

Semula tidak ada yang menyangka Telkom menjual anak usahanya tersebut, akan tetapi niatan Telkom menjual Telkomvision membuat gatal para pengusaha besar untuk menindak lanjuti niatan perusahaan plat merah tersebut. Gencar terdengar bos Transcorp Chairul Tandjung menjadi yang terdepan menunjukan keinginannya untuk mengakuisisi atau membeli anak perusahaan Telkom tersebut.

Terlihat keseriun Chairul Tandjung dalam pengakuisisian Telkomvision dengan melakukan Conditional Sales and Purchase Agreement (CSPA) alias perjanjian pengikatan jual beli (PPJB) pada 7 Juni 2013. Sedangkan Direktur Keuangan Telkom (TLKM) Honesti Basyir mengatakan rencana tersebut adalah langkah perseroan mencari partner strategis untuk Premium PayTV, sesuai dengan roadmap pengembangan bisnis media khususnya PayTV.

Dengan dilakukannya CSPA oleh Trancorp, sinergi dua korporasi besar ini juga diharapkan nantinya meningkatkan scale, skill, dan scope tidak hanya dibidang Pay TV, saham Telkom memang menurun menjadi minoritas dengan komposisi 80:20. Walaupun besaran saham Telkom menurun, namun sinergi ini diharapkan dalam tiga tahun ke depan mampu meningkatkan value jauh lebih besar.

Direktur Utama PT TLKM Arief Yahya pun angkat bicara dalam proses penjualan anak usahanya tersebut. Dia menuturkan penjualan Telkomvision bukan karena kinerja anak usahanya tidak baik, namun berdasarkan hasil kinerjanya yang tidak sesuai dengan harapan. Di mana belum bisa mencapainya value yang tinggi.

Penjualan yang berunjung kepada bos Trancorp ini juga lantaran, Chairul Tandjung yang berpengalaman mengelola konten televisi banyak menjadi salah satu alasannya. Pasalnya, pengelolaan dalam media itu yang paling pertama yang terpenting adalah kontennya. Karena, khusus TelkomVision partner akan lebih fokus ke konten, sedangkan Telkom akan fokus ke infrastrukturnya. Value Telkomvision yang masih mencetak di atas Rp1 triliun pun tidak bisa menghentikan niatan Telkom untuk tetap menjual anak usanya tersebut.

Penjualan TelkomVision pun dibuat semakin percaya diri untuk melepasnya kepangkuan Chairul Tandjung, bukan hanya berpengalaman mengelola televisi dengan konten-konten yang bervariasi, Chairul Tandjung juga merupakan pembeli yang menawarkan harga tertinggi dalam pembelian atau pengakuisisian TelkomVision.

Sementara itu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengaku telah memberikan lampu hijau kepada Telkom untuk menjual anak usahanya TelkomVision lantaran sudah lama menelan pil pahit dengan tidak pernah mencatatkan keuntungan. Hal ini juga yang mendorong Dahlan menyetujui penjualan TelkomVision kepada miliarder Indonesia Chairul Tandjung.

Dahlan menuturkan, selama 16 tahun berdiri, selama itu pula TelkomVision tidak pernah mengecap manisnya keuntungan dalam menjalankan bisnis usahanya. Bahkan, perkataan kata rugilah yang terus dinikmati semenjak menjalankan bisnis usahanya. Walaupun bukan tanggung jawab Dahlan, ia mengaku perusahaan sektor televisi berbayar ini memang harus diisikan dengan konten yang lebih menarik konsumer untuk menggunakannya.

Selain itu, Dahlan juga mengungkapkan bahwa penjualan perusahaan itu tidak perlu menunggu belasan tahun merugi baru melancarkan aksi penjualan perusahaan tersebut. Dahlan menilai suatu perusahaan pantas dijual ketika sudah selama tujuh tahun selalu mengalami kerugian. Melihat kenyataan TelkomVision yang sudah merugi 16 tahun, dirinya pun sontak menyebutkan, 'Mengapa tidak dari dulu saja dijual' seketika Dahlan mengetahui bahwa kinerja TelkomVision selama 16 tahun tidak pernah mencapai titik keuntungan atau selalu merugi.

Namun, aksi penjualan Telkomvision yang semula berniat untuk menyelamatkan TelkomVision dari zona merah untuk dapat berlandai di zona hijau, atau menjadikan kinerja TelkomVision menjadi lebih baik dan dapat mencapai target, nampaknya memberikan kehebohan sendiri. Di mana banyak kalangan pemrintah yang mengkritisi keras penjualan anak usaha Telkom tersebut.

Salah satunya para Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang menyebutkan aksi penjualan anak usaha Telkom yakni TelkomVision dinilai telah melanggar kesepakatan yang jauh sebelumnya terjalin bahwa BUMN melalui Telkom tidak akan menjual TelkomVision. Namun benar saja yang terjadi adalah, Telkom membuat keselahan lantaran menjual TelkomVision kepada Transcorp.

Tidak hanya Komisi VI yang melantunkan nada protes, Komisi I-DPR melalui Tantowi Yahya menyoroti motif penjualan TelkomVision kepada Transcorp. Tantowi menilai, tidak adanya alasan yang jelas masih menjadi bumbu persoalan yang harus terus dipertanyakan kepada BUMN dalam melakukan penjualan TelkomVision kepada swasta. Kendati demikian, Komisi VI bersi keras untuk memanggil Jajaran Direksi PT Telkom dan juga sang pemegang saham BUMN Dahlan Iskan untuk menjelaskan penjualan TelkomVision.

Sementara niatan DPR melalui Komisi VI akan memanggil Dahlan serta jajaran Direksi Telkom Indonesia, Mantan Dirut PLN ini sangat tidak menakuti niatan DPR yang akan memanggilnya untuk memberikan penjelasan mengenaii penjalan anak usaha Telkom. Dahlan juga siap untuk mempertanggungjawabkan penjualan anak usaha telkom itu kepada piha swasta ketika memang ditemukan ada titik-titik dalam menyetujui penjualan TelkomVision kepada Transcorp.

Dahlan mempertegas kepada para anggota komisi VI untuk mencari kesalahan dirinya dalam menyetujui aksi penjualan TelkomVision kepada pihak swasta, yakni Transcorp. Kendati berani bertanggung jawab, Dahlan juga menuturkan bahwa tidak akan kedapatan masalah dalam persoalan tersebut. Pasalnya, TelkomVision merupakan anak usaha perusahaan BUMN dan bukan BUMN yang sebagaimana menjadi tanggung jawab penuh dirinya. Sekalipun itu membuat banyak pihak bertanya-tanya, Dahlan siap mempertanggungjwabkan jika memang terbuktu dirinya bersalah.

Sementara itu, Pengamat Persaingan Usaha Rikrik Rizkiyana mengungkapkan, penjualan anak usaha Telkom ini dikhawatirkan menciptakan monopoli. Oleh karena itu, Rikrik meminta kepada DPR dalam hal ini komisi VI untuk mengkaji atau evaluasi ulang terhadap rencana penjualan TelkomVision kepada Transcorp. Mulai dari melakukan evaluasi dan penilaian dari aspek potensi monopoli ke depannya.

Hingga Saat Ini, Penolakan Penjualan TelkomVision Banyak dilontarkan oleh berbagai kalangan, seperti oleh Anggota Fraksi PAN Nasril Bahar dan anggota Fraksi Golkar Chairuman Harahap bahkan mengusulkan untuk menggunakan hak inisiatif Dewan terkait penjualan saham tersebut. "Saya menilai ada upaya sistematis untuk merampok aset negara di BUMN," kata Nasril.

 Wakil Ketua Komisi VI DPR Aria Bima mengatakan aset perusahaan BUMN merupakan aset negara karena modalnya berasal dari APBN. Karena itu, penjualan perusahaan BUMN harus memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku. "Kalau mau menjual perusahaan BUMN seenaknya, kembalikan dulu modal yang didapat dari APBN," kata Aria Bima.

Sementara, Koordinator Investigasi dan Advokasi Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Ucok Sky Khadafi, menyatakan DPR harus bertindak cepat untuk menggalang penolakan terhadap rencana penjualan saham Mitratel. "Aroma kepentingan politik sangat kental. Jadi lebih baik penjualan dibatalkan pemerintah," jelas Ucok.

Penjualan Anak Usaha BUMN Lainnya:

- PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel)

Penjualan anak usaha Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) lainnya yaitu PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel), penjualan ini juga terus mendapatkan kritik keras dari berbagai kalangan. Dikabarkan pertengahan tahun ini ada empat perusahaan dikabarkan niatannya sedang memperebutkan Mitratel, di antaranya tiga perusahaan publik dan satu perusahaan nonpublik.

Namun, Direktur Utama Telkom Arief Yahya menuturkan jikalau ingin mengakuisisi Mitratel, para perusahaan yang berniat mengakuisisi harus sabar menunggu Mitratel untuk melakukan Spin Off, karena akuisisi Mitratel tidak dapat dilakukan jika masih menjadi divisi dari Telkom.

Gencar isu terdengar pemberitaan mengenai penjualan anak usahanya ini, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) mengaku optimistis dengan kompetisi untuk membeli anak usaha Telkom yaitu PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel). Pasalnya perseroan telah menyiapkan dana untuk membeli anak usaha Telkom tersebut.

TBIG juga mengaku telah memasukan proposal pembelian saham kepada Telkom. Namun, TBIG harus memperhatikan saingan lainnya yang ingin membeli saham Mitratel, seperti PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), dan PT Solusi Tunas Prama Tbk (SUPR) yang sama-sama telah mengajukan proposal pembelian.

Namun, lagi-lagi penjualan anak usaha BUMN ini menuai protes keras dari berbagai kalangan yang berujung pada pemanggilan jajaran direksi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) terkait dengan rencana perseroan melepas saham anak perusahaan yang bergerak di bidang menara telekomunikasi, PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel).

Salay satu pihak yang keras menolak penjualan yaitu Komisi VI DPR, melalui Wakil Ketua Komisi VI DPR Erik Satrya mengungkapkan harus ada klasifikasi yang jelas, dan hitung-hitumham yang jelas jiakalu ingin melepas anak usaha. Hingga saat ini Komisi VI DPR masih menganggap Telkom tidak memberikan alasan yang konkrit terhadap niatan penjualan anak usahanya.

Penjualan BNI Life ke Sumitomo Life

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) melakukan kemitraan strategis dengan Sumitomo Life Insurance Company (Sumitomo Life). Melalui kemitraan tersebut, Sumitomo Life melakukan pembelian saham baru yang diterbitkan oleh anak usaha BNI yakni PT BNI Life Insurance (BNI Life) sebesar Rp4,2 triliun.

Gatot mengungkapkan dengan dibelinya sebagian saham BNI Life, Sumitomo akan memiliki 40 persen saham BNI Life namun berlaku setelah mendapat persetujuan dari pihak yang berwenang. Sumitomo Life terpilih sebagai mitra strategis jangka panjang merupakan bagian dari tekad BNI dan BNI Life untuk menjadikan BNI Life sebagai perusahaan asuransi terdepan di industri bancassurance dan asuransi jiwa di Indonesia.

Sementara itu, kemitraan strategis tersebut diharapkan akan meningkatkan kemampuan operasional dan kemampuan bisnis BNI Life, untuk menciptakan pertumbuhan bisnis dan pertumbuhan laba yang berkelanjutan bagi BNI Life, serta mempercepat proses transformasi organisasi yang telah dilakukan secara menyeluruh oleh BNI Life sejak September 2011.

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini