Gedung Pencakar Langit Paling Memesona (1)

Meutia Febrina Anugrah, Jurnalis · Sabtu 11 Januari 2014 09:07 WIB
https: img.okezone.com content 2014 01 10 474 924782 l7guQhIi62.jpg Foto: eng.taiwan.net

JAKARTA - Kota-kota besar di dunia identik dengan gedung-gedung pencakar langitnya yang megah. Saat ini, kota besar di dunia seakan berlomba-lomba membangun gedung pencakar langit yang menjadi simbol prestisius sebuah negara.

Dalam satu dekade bisa kita lihat berapa banyaknya kota di dunia bersaing untuk merebut posisi kehormatan sebagai negara dengan gedung  tertinggi didunia.

Sebut saja salah satu gedung pencakar langit yang teranyar saat ini, Menara Burj Khalifa di Dubai. Selesai pada tahun 2010 menara setinggi 2.717 kaki ini menghabiskan biaya konstruksi mencapai USD1,5 miliar atau Rp18,2 triliun (kurs Rp12.194 per USD).

Selain itu, ada 10 gedung pencakar langit yang menarik perhatian masyarakat dunia. Tidak hanya karena tingginya, tapi juga memiliki keunggulan dalam desain dan fungsi.

Dilansir dari CNBC, Sabtu (11/1/2014) berikut daftarnya.

Saint Mary Axe, London, Inggris.

Selesai pada tahun 2003, gedung yang dikenal dengan nama "Gherkin" ini dirancang oleh arsitek Norman Foster. Dengan tinggi yang mencapai 179,80 meter, pembangunannya menghabiskan biaya hingga 138 juta poundsterling atau Rp1,6 triliun.

Berlokasi di pusat ekonomi kota London, Saint Mary Axe merupakan gedung pencakar langit ramah lingkungan pertama yang ada di London. Dengan desainnya yang berbentuk seperti spiral, bangunan ini memiliki cahaya alami yang bersumber dari ventilasi, sehingga mengurangi ketergantungan pada pendingin udara. Gedung Saint Mary tercatat memiliki tingkat emisi karbon terendah di kota London.

Taipei 101, Taipe, Taiwan.

Gedung setinggi 509,20 meter gedung ini rampung pada tahun 2011 sejak dimulai pada 2004. Biaya konstruksi diperkirakan mencapai USD1,76 miliar atau Rp21,5 triliun. Gedung ini terkenal dengan liftnya yang tercepat di dunia.

Dengan kecepatan 1.010 meter per menit. Tahun 2011 gedung Taipei 101 mendapat penghargaan LED dengan peringkat Platinum, yaitu sebagai salah satu bangunan hijau pencakar langit dunia.

Terkenal dengan hemat energinya, saat gedung ini kosong AC dan sistem pencahayaan otomatis mati. Dengan cara ini, Taipei 101 berhasil mengurangi emisi karbon hampir 3.000 metrik ton (mt).

HSB Turning Torso, Malmo, Swedia.

Gedung ini dirancang oleh seorang arsitek asal Spanyol yang bernama Santiago Calatrava. Dengan tinggi yang mencapai 190 meter, gedung berbentuk tumpukan kubus ini menghabisan biaya sekitar USD80 juta atau Rp975 miliar dan selesai pada tahun 2005.

Di dalam gedung ini terdapat apartemen, kantor dan ruang konferensi. Bahkan saking tingginya, gedung ini dapat dilihat dari Kota Copenhagen, Denmark yang menjadi tetangganya.

Konsep hijau gedung ini terlihat dari dipasangkannya monitor konsumsi energi di tiap kamar apartemen, sehingga dapat mengatur pemasukan dan pengeluaran energi oleh warga.

Menara Hearst, New York, Amerika Serikat.

Markas dari Arsitek Norman Foster ini dirancang dengan menggunakan konsep hijau. Berdiri kokoh setinggi 181,97 meter, gedung ini didaulat menjadi gedung perkantoran pertama di New York yang menerima penghargaan LEED Gold. Diperkirakan pembangunan ini menghabiskan biaya

konstruksi mencapai USD500 juta atau Rp6 triliun. Hampir 90 persen gedung ini menggunakan baja yang didaur ulang. Sensor cahaya dibuat untuk mengatur jumlah cahaya yang ada dalam bangunan. Sementara atapnya digunakan untuk mengumpulkan air hujan, dan mengurangi jumlah yang dibuang di sistem limbah kota.

Absolute Dunia Towers, Mississauga, Kanada

Terletak di Mississauga, dekat dengan Toronto, dua gedung ini sangat mudah dikenali dengan tingginya yang mencapai 176 dan 158 meter. Gedung ini dijuluki sebagai Marilyn Monroe Towers. Menghabiskan USD450 juta atau Rp5,4 triliun.

 

(nia)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini