nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Strategi Menghadapi Pelemahan Ekonomi

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 22 Januari 2014 10:30 WIB
https: img.okeinfo.net content 2014 01 22 23 929866 wkTX9eQ8l9.jpg Ilustrasi. (Foto: submitedge)

SEBAGIAN besar dari kita tidak perlu diyakinkan lagi bahwa kondisi ekonomi belakangan ini memerlukan strategi bisnis yang tepat. Nilai rupiah turun drastis dari level Rp9.500-an per dolar Amerika Serikat (AS) menjadi di kisaran Rp12.000-an lebih.

Dampak langsung dari penurunan nilai tukar rupiah bagi kebanyakan rakyat Indonesia adalah turunnya daya beli, sekitar 20 persen akibat depresiasi rupiah ditambah inflasi. Luar biasa bukan? Dalam kurun waktu sedemikian singkat daya beli kita terpangkas minimal seperempatnya. Perubahan ini menjadi sangat relevan karena kita tidak hidup hanya dengan bahan pokok.

Hal ini karena sebagian besar barang-barang yang kita konsumsi dan diproduksi di dalam negeri pun membawa kandungan impor dalam jumlah besar. Beberapa waktu lalu Kementerian Keuangan menyatakan nilai ”normal” rupiah berada di level Rp12.000-an per dolar AS akan membawa kesadaran bahwa apresiasi nilai rupiah membutuhkan perbaikan ekonomi yang komprehensif dan jangka panjang.

Pemerintah baru yang lebih probisnis, propendidikan, dan propertumbuhan ekonomi juga akan membutuhkan konsistensi dalam jangka panjang sebelum dapat melihat Indonesia merealisasikan potensinya secara penuh. Nah, pada situasi seperti ini strategi apa yang tepat bagi para pelaku bisnis di Indonesia?

Jawaban standar versi sekolah bisnis adalah: evaluasi kembali posisi risiko perusahaan Anda; hindari sikap ekspansif; realisasikan pembuatan contingency plan yang berjalan sejajar dengan strategic plan; fokus pada bisnis utama; terapkan diferensiasi yang relevan; kurangi biaya, keuntungan di atas pangsa pasar dan lain-lain.

Apabila kita lihat dengan saksama semua jawaban berujung pada survival atau semaksimal mungkin pada upaya mempertahankan pangsa pasar. Pemikiran ini merujuk pada pengalaman historis yang menunjukkan penurunan daya beli berpihak kepada pemain bisnis yang sudah ada. Mereka hanya perlu bersikap pasif, konservatif, dan mengencangkan ikat pinggang untuk mempertahankan posisi.

Tapi, apakah strategi ini masih relevan pada saat ini? Jawaban singkatnya untuk saya adalah tidak. Pelaku bisnis dan perusahaan yang pintar justru tumbuh pesat di saat resesi. Dalam kondisi ekonomi yang lemah konsumen akan lebih berhati-hati memilih produk dan merek. Mereka ingin belanja menjadi lebih efektif. Misalnya, dengan memilih produk dan merek yang secara konsisten mempersembahkan persepsi nilai yang tinggi.

Untuk menghemat biaya mereka juga lebih berhati-hati dalam melalukan aksi beli dari satu pusat perbelanjaan satu ke yang lainnya. Hal ini membuat aksesibilitas dan ketersediaan menjadi faktor yang sangat penting. Inilah mengapa perusahaan rokok Sampoerna menjadi demikian sukses pada akhir 1990-an. Pada saat itu sebagian besar kompetitornya mengerem aktivitas marketing, Sampoerna justru mempertahankan bahkan memperluas aktivitasnya.

Kejadian ini tidak terlalu berbeda dengan apa yang dialami perusahaan seperti General Electric (GE), Kellog dan P&G yang justru berhasil mengukuhkan posisi mereka sebagai pemimpin pasar dengan strategi agresif mereka dalam masa resesi besar di tahun 1930-an. Kalau kita melihat gerakgerik perusahaan-perusahaan tersebut beberapa tahun belakangan, dapat dipastikan mereka ingin mengulangi kesuksesan itu di Indonesia.

P&G misalnya, yang dahulu condong bermain pada posisi hati-hati dan terkesan hanya mengikuti Unilever yang memang sudah sangat berakar di Indonesia kini sangat agresif berinvestasi di banyak lini. Mereka ingin memperkuat posisinya di Indonesia. Di industri popok bayi pangsa pasar mereka sudah berkembang berkali-kali lipat dalam waktu yang relatif singkat.

Sikap pelaku bisnis dan pemain bisnis dari Jepang juga sangat jelas. Seperti di tahun 1970-an, saat perusahaan mobil Toyota dan Honda secara agresif mengukuhkan keberadaan mereka di Indonesia yang masih relatif masih miskin. Kini, perusahaan-perusahaan Jepang di industri konsumen dengan sangat agresif berjuang mengumpulkan pangsa pasar agar dapat mendikte pasar dan kompetitor.

Strategi yang efektif tentu dibutuhkan untuk menghadapi situasi sekarang ini. Pasalnya, para pemain asing diperkuat dengan kemampuan menerapkan strategi subsidi silang dari satu negara ke negara lainnya. Beberapa dari pilihan strategi yang ada sebagai berikut. Pertama, refined cost cutting mengedepankan volume before cost dan differentiation before price dapat menjadi senjata yang andal untuk pemain lokal yang mengenal pasar dengan baik.Industri produk konsumen selalu adalah tentang pangsa pasar.

Tanpa pangsa pasar yang memadai, Anda tidak mungkin dapat mempertahankan laba dalam jangka waktu panjang. Kedua, kembangkan niche market menjadi mass market. Kalau kita lihat dengan jeli masih banyak sekali kesempatan untuk membentuk niche market di industri (yang kemudian dapat dikembangkan menjadi mass market) yang sudah ramai dengan pemain sekalipun.

Ada beragam produk yang dapat dikhususkan untuk pencinta olahraga, untuk dreamers, dan sebagainya. Terakhir, apa pun yang dilakukan jangan pernah lupa berinvestasi secara konsisten kepada merek.

Mulai dari merek, tagline, segmentasi, targetting, positioning, hingga komunikasi brand dapat menjadi alasan penting mengapa produk Anda dibutuhkan dan merek Anda lebih relevan daripada yang lain.

DR RUDOLF TJANDRA

Chief Marketing Officer PT Softex Indonesia

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini