nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pesantren UKM

Koran SINDO, Jurnalis · Minggu 26 Januari 2014 11:11 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2014 01 26 23 931836 JIkc99DHEW.jpg Ilustrsi. (Foto: geekwire)

SEMINGGU ini melalui e-mail, saya kebanjiran kiriman dokumen Marketing Plan 2014 dari teman-teman pelaku usaha kecil menengah (UKM). Ini adalah dokumen marketing plan yang merupakan tugas yang harus dikerjakan oleh teman-teman pelaku UKM peserta #KelasKetrampilan yang diadakan oleh Komunitas Memberi (@memberiID) seminggu sebelumnya.

Yang belum tahu, Komunitas Memberi (www.memberi.org) adalah komunitas yang saya bentuk bersama temanteman relawan yang peduli pada upaya membangun merek (brand building) UKM Indonesia. Tujuannya, membawa mereka memiliki kapasitas dan kemampuan kelas dunia, ingat AEC (ASEAN Economic Community) kita masuki tahun depan. #KelasKetrampilan berbentuk workshop di mana seluruh peserta saya pandu menyusun marketing plan untuk usaha mereka.

Dengan template yang telah disiapkan, secara hands-on mereka menyusun dokumen marketing plan dimulai dari melakukan reviewlingkungan bisnis, melakukan analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, threat) dan strategi, hingga penyusunan program selama setahun. Setelah tahu caranya, mereka diberi waktu selama seminggu untuk menyelesaikan dokumen tersebut dan mengirimkannya ke saya via email untuk dievalusi. Seminggu lalu saya trenyuh melihat antusiasme mereka dalam mengikuti workshop dari pagi hingga malam ba’da Isya.

Mereka begitu passionate mengikuti workshop, mengerjakan langkah demi langkah pengisian template marketing plan walaupun pengerjaan itu sarat memeras otak. Nah, kemarin malam saat menerima hasil dokumen marketing plan yang mereka kirimkan, sekali lagi saya trenyuh melihat keseriusan mereka mengerjakan dokumen tersebut. Bahkan saya mendengar beberapa dari mereka secara khusus berkumpul sampai larut malam (hehehe.. kayak belajar kelompok) untuk mengerjakannya secara bersama-sama. Sekonyong-konyong optimisme saya membuncah. Sajurus kemudian hati saya bergumam, “Kalau saja seluruh pelaku UKM kita memiliki great spirit dalam belajar macam ini, maka 1.000 persen saya percaya mereka akan menjadi pilar ketangguhan ekonomi yang menjadikan Indonesia bangsa besar dan disegani bangsa lain.”

Capacity Building

Sekitar 80 teman-teman pelaku UKM yang mengikuti #kelasKetrampilan di atas adalah angkatan pertama dari sebuah program yang diusung Komunitas Memberi untuk mempersiapkan mereka menjadi pelaku UKM berkelas dunia. Ukuran boleh kecil, tapi mimpi harus raksasa. Modal boleh cekak, namun kemampuan manajemen harus berstandar global. Skala boleh liliput, namun brandyang dihasilkan harus berkelas dunia. Itulah kira-kira misi yang ingin diwujudkan komunitas ini. “Small is beautiful”. Untuk itulah diperlukan capacity building untuk membawa mereka menjadi berkelas dunia. #KelasKetrampilan adalah salah satu upaya capacity building tersebut.

Selain keterampilan (skill) menyusun marketing plan, selama setahun penuh mereka akan digembleng untuk menguasai beragam kemampuan manajemen bisnis mulai dari branding, integrated marketing communications (IMC), human resource management, finance & accounting, customer service, sales management, menyusun standard operating procedure (SOP), hingga bagaimana mem-franchise-kan bisnis mereka. Pokonya komplit A sampai Z, tapi customized untuk bisnis skala UKM.

Dan materi yang diberikan adalah keterampilan bisnis yang mengacu pada konsep- konsep manajemen kelas dunia. Di samping #KelasKetrampilan, mereka juga bisa mengikuti #Kelas- Pengetahuan yang diarahkan untuk mengasah pengetahuan (knowledge) mengenai praktik-praktik manajemen bisnis terbaru. Juga #KelasInspirasi yang bertujuan memberikan percikpercik inspirasi bisnis mengenai pengalaman perusahaan-perusahaan besar dalam mewujudkan capaian-capaian kelas dunia.

#KelasInspirasi ini fun karena biasanya berupa company visit perusahaan kelas dunia dan inspirational sharing dari CEO atau manajer perusahaan yang bersangkutan. Bulan Januari ini misalnya, kunjungan dilakukan di Inaco, produsen produk jelly dan nata de coco yang telah menjajah pasar Jepang, Australia, hingga USA. Tujuannya, tak lain adalah agar pelaku UKM “ketularan” seperti mereka memiliki global mindset. Walaupun usaha skala kecil, tapi pola pikir harus global, tidak boleh katak dalam tempurung.

Connecting the Dots

Kalau materi yang diberikan sudah berkelas dunia, maka tentu pengajarnya juga harus berkelas dunia. Caranya bagaimana? Nah di sinilah fungsi “connecting the dots” dari Komunitas Memberi diperlukan. Relawan komunitas ini mencoba menggerakkan para profesional dari perusahaan-perusahaan besar (baik nasional maupun global) yang memiliki kemampuan kelas dunia di bidang-bidang yang diajarkan di atas untuk mengajar. Kebetulan untuk kelas marketing plan minggu lalu saya yang mengajar, untuk kelas-kelas berikutnya para relawan pengajar dari para profesional perusahaanperusahaan hebat di negeri ini akan bergiliran mengajar.

Melalui komunitas ini mereka diberi kesempatan untuk memberikan sumbangsihnya mengangkat kapasitas UKM Indonesia menjadi berkelas dunia. Dengan open platform seperti ini maka akan terwujud mekanisme “yang besar memberi yang kecil”. Itu sebabnya kenapa komunitas ini diberi nama Komunitas Memberi. Indahnya, yang diberikan para profesional perusahaan besar kepada para pelaku UKM tersebut bukanlah uang atau fasilitas, tapi tiga hal yang saya sebut IPK: inspirasi (inspiration), pengetahuan (knowledge), dan keterampilan (skill). Saya berkeyakinan pemberian IPK dampaknya jauh lebih powerful ketimbang uang atau fasilitas.

Kalau uang dan fasilitas bisa langsung habis begitu diberikan, tapi kalau IPK, sampai belasan bahkan puluhan tahun tak akan pernah habis bahkan terus beranak pinak. Saya berkeyakinan IPKlah yang akan mengantarkan mereka menjadi world-classUKM. Semua kelas-kelas capacity building di atas terselenggara secara ramping (lean) tanpa banyak birokrasi dan tanpa melibatkan dana besar, pendekatannya pun bottom-up.

Bahkan ke-80 peserta di atas tak dipungut biaya sepeserpun un-tuk mendapatkan IPK yang bermanfaat bagi usaha mereka. Caranya bagaimana? Untuk tempat pelatihan, Komunitas Memberi mengetuk hati perusahaan- perusahaan besar menyediakan ruangan-ruangan mereka. Untuk pengajar, mereka tidak dibayar sepeserpun. Sekali lagi, mereka mengajar sebagai bentuk sumbangsih untuk membesarkan UKM Indonesia, yang pahalanya seabrek jatuh dari “Yang di Atas”. Sementara semua bentuk komunikasi dan penggalangan UKM dilakukan dengan blogdan media sosial yang gratis.. tisss.. tisss.

Pesantren

Saya bermimpi suatu saat Komunitas Memberi ini bisa menjadi “rumah belajar” bagi UKM kita di seluruh pelosok Tanah Air. Di situ mereka bisa belajar pengetahuan dan keterampilan bisnis berkelas dunia. Di situ mereka bisa menemukan mentor-mentor kelas dunia yang bisa dimintai nasehat di tengah ketidaktahuan dan kegalauan mereka. Di situ mereka bisa membangun semangat (great spirit) dan bernetworking sesama mereka melalui platformkomunitas. Alangkah indahnya jika spirit yang melandasi rumah belajar ini adalah spirit cinta.

Cinta pengajar kepada muridnya; cinta murid kepada pengajar; cinta relawan kepada pengajar-murid. Dan tentu saja cinta seluruh anggota komunitas ini (pengajar, murid, relawan) kepada Tanah Air Indonesia. Saya meyakini, dengan spiritcinta maka world-class UKM dalam jumlah besar bisa diwujudkan sehingga bisa menopang kejayaan negeri ini di kancah global. Ujung-ujungnya, saya bermimpi komunitas ini menjadi Kawah Candra dimuka bagi UKM-UKM kita dalam menempa kemampuannya menjadi world-class UKM. Tapi Kawah Candradimuka terlalu tinggi kali ya. Saya lebih senang menyebutnya: “Pesantren UKM” untuk mengasah kemampuan kelas dunia.

YUSWOHADY

Pengamat Bisnis dan Pemasaran Penulis Buku

”Consumer 3000” Blog: www.yuswohady.com @yuswohady

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini