nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pengalaman Tongsis dan Implikasi Kepemimpinan

Koran SINDO, Jurnalis · Kamis 06 Februari 2014 11:17 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2014 02 06 23 936802 uybcVzPYkn.jpg Ilustrasi. (Foto: suxiid)

SEKARANG memang sedang jamannya narsis berjamaah. Minggu lalu di lobi sebuah hotel terjadi sedikit kehebohan.

Saya dan teman-teman arisan, secara tidak sadar sudah menarik perhatian dengan berfoto selfie (self-potrait) secara berkelompok dengan bantuan alat monopod. Walaupun ada petugas hotel yang pasti bersedia memotretkan, tetapi kami tetap bersikukuh menggunakan monopod tersebut. Istilah selfie mulai berkembang luas dan dikenal saat disebarkannya foto Obama selfie di pemakaman Nelson Mandela. Pemasar yang melihat adanya needs untuk selfie berkelompok ini ternyata cukup jeli mengembangkan “perangkat” selfie berupa tongkat perpanjangan jangkauan pemotret.

Karena tongkat dibuat untuk tujuan narsis, maka di Indonesia monopod ini diberikan label unik yaitu tongsis, tongkat narsis. Foto bersama sudah lama menjadi momen penting di kultur kita. Tetapi, yang berkembang sekarang sudah bukan foto bersama lagi, tetapi self-potrait bersama. Hasil observasi dan pengalaman berada di lingkungan yang sudah terkena wabah ini menggambarkan: ternyata bukan hasil fotonya yang penting. Proses foto groupselfie-nya yang lebih penting.

Memastikan bahwa kita hadir, berada di dalam crowd, dan memastikan bahwa wajah “ikut serta” dalam frame. Group feeling adalah output dari “Tongsis Experience”. Pelajaran Tongsis Experience memberikan pemahaman baru tentang betapa semakin pentingnya komunitas bagi kehidupan sosial seseorang. Ini sejalan dengan kerumunan yang makin membeludak di media sosial, di mana eksistensi seseorang dibangun dalam komunitas virtual ini. Kontras dengan situasi pasar yang hiperkompetisi–bersaing ketat, di masyarakat, dalam komunitas yang terjadi adalah situasi kolaborasi dan berbagi, jauh dari sifat menang sendiri dan individualistis.

Komunitas adalah sekelompok orang yang memiliki persamaan interest dan needs. Keberhasilan sebuah komunitas bisa dipelajari dari tinggi rendahnya sense of community (SoC). Definisi SoC yaitu perasaan saling memiliki dan saling berbagi serta komitmen yang diberikan antara satu anggota dengan anggota lainnya. Contoh komunitas masak memasak yang sukses adalah Natural Cooking Club (NCC). Walaupun komunitas ini mempunyai ikon Ibu Fatmah Bahalwan, sang leader, jelas bahwa dalam keseharian panggung komunitas ini diisi oleh beberapa leader lainnya yang berfungsi sebagai moderator.

Gaya kepemimpinan dalam komunitas seperti NCC ini lebih cair. Panggung tidak dikuasai sendiri (ala diva/divo). Sebaliknya, power dan otoritas dibagi dengan leader lainnya. Tokoh yang berhasil dalam komunitas adalah yang persisten dalam membina kelompoknya. Menciptakan engagement dan interaksi secara rutin. Mementingkan kepentingan kelompok dibandingkan dengan kepentingan individu. Yang dominan dalam komunitas adalah group feelings,group thought, group needs. Gaya diva/divo tidak laku dalam pembinaan komunitas jangka panjang.

Melibatkan Jamaah

Banyak program televisi yang sudah secara cerdas melihat fenomena narsis berjamaah dengan memberikan suguhansuguhan hiburan yang melibatkan penontonnya. Bukan hanya melibatkan penonton di studio, tetapi juga melibatkan penonton di rumah. Bisa dilihat sendiri, bagaimana para penonton TV di rumah, ikut berjoget bersama mengikuti gaya tari di program yang digemarinya.

Digemarinya program TV seperti YKS, Dahsyat, Inbox, dll adalah sebuah bukti bahwa masyarakat tidak lagi hanya senang menjadi penonton. Mereka ingin adanya interaksi dan engagementyang konkret. Bahwa sebagian orang tidak menyukai acara tersebut, itu masalah perbedaan needs dari kelompok yang berbeda dan mereka ada di segmen yang lain. Segmen masyarakat yang saat ini semakin membesar dan substansial jumlahnya adalah sebuah kelompok yang ingin eksis dan narsis tetapi tetap secure/aman karena berada dalam naungan penjagaan group feeling tersebut.

Para produser acara ternyata juga jeli melihat peluang mengamankan bisnisnya dengan cara membangun komunitas fan programnya dan mempelajari secara seksama feedback dan inspirasi mereka. Bahwa tidak lagi ada tuntutan untuk mempunyai diva atau divo (tokoh sentral bersinar sendirian) di dalam komunitas tercermin dari banyaknya pembawa acara. Di setiap acara bisa kita saksikan pembawa acara lebih dari satu, bahkan kadang terlalu banyak hingga terkesan berebut panggung.

Program-program televisi yang saat ini mendapat sambutan tersebut juga merefleksikan kebutuhan group feeling. Artis dan pembawa acara berperan sebagai fasilitator keterlibatan antar-memberuntuk menciptakan sebuah experience yang menyenangkan. Joget ala Caesar (YKS) laku ditonton dan dicontoh di manamana karena tipe dancingsemacam ini dancing kebersamaan. Sekali lagi kata kuncinya adalah berjamaah. Kalau tongsis itu narsis berjamaah, joget Caesar juga sama, menari berjamaah. Fenomena boy band dan KPop adalah salah satu refleksi sharing panggung, sharing kekuasaan di dalamnya. Berbagi spotlight.

Secara grup, mereka berhasil memberikan tontonan terbaik bagi komunitas penggemarnya. Era membagi panggung ini dijadikan catatan bagi para pemimpin baru. Semangatnya adalah semangat fasilitator perubahan, untuk menjembatani group needs. Tidak bergaya diva yang menjadi pusat perhatian tetapi justru membawa khalayaknya untuk ikut serta dalam kegiatan apapun yang sedang dikerjakannya. Ini adalah faktor kunci sukses untuk para pemimpin generasi baru.

Pemimpin yang bersedia mendengar, kesediaan menangkap insights kebutuhan anggota/komunitasnya dan kesediaan untuk menari bersama masyarakatnya di panggung. Pemimpin masa depan adalah yang mempunyai persamaan nilai, apresiasi anggota komunitas, membina emotional attachment, terus mengadakan dukungan terhadap warganya.

Pemimpin tidak memonopoli sorot lampu dan kemudian menjadi “pemerintah”. Tetapi membagi otorisasi sambil melayani crowd-nya. Sinergi ini menjadikan member dan pemimpinnya duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Tidak berjarak. Menciptakan the wisdom of crowd. Segera berakhir masa pemimpin yang menjadi center of attention, center of the world. The next center adalah crowd–jamaah komunitas. Siapkah pemimpin baru beradaptasi?

AMALIA E. MAULANA. PH.D.

Brand Consultant & Ethnographer ETNOMARK Consulting www.amaliamaulana.com @etnoamalia

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini