UU Perdagangan Harus Jadi Amunisi Hadapi Pasar Bebas

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Minggu 02 Maret 2014 15:28 WIB
https: img.okezone.com content 2014 03 02 320 948739 CNtHivzDAq.jpg Ilustrasi. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Neraca perdagangan Indonesia masih mengalami defisit yang cukup besar, lantaran impor yang tinggi. Karenanya, barang- barang yang di impor harus diberi suatu ketentuan yang jelas dan dapat memberikan perlindungan terhadap produk dalam negeri, termasuk komoditas yang penting.

Dengan demikian, tidak semua produk bisa diimpor, terutama komoditas yang pokok dan komoditas penting lainnya. Demikian diungkapkan Asisten SKP Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Eddy Cahyono, seperti dilansir dari Setkab, Minggu (1/3/2014).

"Dengan kata lain kita tidak anti impor, impor akan dilakukan dalam kaitan memberikan nilai tambah dan memenuhi kebutuhan nasional, dan yang terpenting adalah impor tidak akan mematikan produk nasional kita, seperti bahan baku," jelasnya.

Menurutnya, UU Perdagangan yang baru saja disahkan, telah memberikan pemerintah mandat untuk melakukan intervensi pengamanan pasokan dalam negeri termasuk di dalamnya keterjangkauan atau stabilisasi harga, melalui peningkatan efisiensi dan efektivitas distribusi, peningkatan iklim usaha dan kepastian berusaha, pengintegrasian dan perluasan pasar dalam negeri, peningkatan akses pasar bagi Produk Dalam Negeri dan pelindungan konsumen.

"Kita tentunya berharap dengan UU Perdagangan yang baru seyogyanya dapat dijadikan momentum bagi semua pemangku kepentingan untuk dapat meningkatkan kesiapan dalam menghadapi persaingan perdagangan yang semakin ketat, sekaligus mengoptimalkan kontribusi dalam menyukseskan percepatan hilirisasi terhadap berbagai industri berbasis agro, sumber daya mineral dan industri berbasis migas," katanya.

Di samping itu, Indonesia juga masih harus berharap para pelaku sektor riil, khususnya pelaku usaha dan eksportir industri manufaktur untuk mengoptimalkan sinergi dengan pemerintah dalam meningkatkan ekspor non migas.

"Terutama ekspor produk industri manufaktur yang merupakan produk ekspor bernilai tambah tinggi, sehingga dapat meningkatkan kontribusi terhadap kinerja neraca perdagangan Indonesia," tukas dia.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini