nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Membangun Citra Brand Pilihan

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 10 Maret 2014 09:31 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2014 03 10 320 952483 maci9jNGes.jpg (Foto: Reuters)

JAKARTA - Untuk menciptakan merek pilihan konsumen tidak sesederhana yang dibayangkan. Hal pertama yang perlu dilakukan seorang praktisi branding ialah melakukan analisis mendalam tentang produk.

Pilihan cara pemasaran merek akan menentukan masa depan kualitas brand yang diinginkan. Sebuah brand produk akan menjadi pilihan konsumen apabila dinilai sukses mempraktikkan strategi pemasaran secara terpadu (marketing integration).

Maksudnya, CMO mampu melakukan pola kolaborasi pemasaran yang konvensional dengan modern. Model pemasaran yang beragam akan semakin memperkaya dan lebih mudah dikenal konsumen. Namun, untuk membangun sebuah brand pilihan tidak cukup mengandalkan model pemasaran yang baik.

Yang paling penting adalah menentukan sejumlah elemen brand di antaranya logo, brand, karakter, simbol, bungkusan, hingga slogan. Menurut pakar branding dunia, Kevin Lane Keller, berbagai elemen merek tersebut dapat dipilih yang inheren demi meningkatkan kualitas agar merek bisa tampak kuat, unik, dan memberi keuntungan.

”Karena itu, membangun brand pilihanharusberdasarkan bahwa merek itu mudah diingat, dikenalkan, memberi arti, kaya visual dan verbal, serta memberi pesan kepada konsumen untuk tertarik,” ungkap Keller di Jakarta beberapa waktu lalu.

Selain itu, brand pilihan itu juga hendaknya memberi kesan menarik, kompetitif, bernilai estetik, fleksibel, dan pastinya legal. ”Sementara yang tak kalah penting yaitu membangun brand pilihan hendaknya punya sifat yang melampaui batas geografis dan budaya,” ucap Keller.

Salah satu brand pilihan itu tampak melekat pada sejumlah produk minuman seperti Coca- Cola, Pepsi, Sturbacks Coffee, Tropicana, atau produk sepatu layaknya Nike dan Adidas. Nama- nama brand ini mudah diingat masyarakat karena kualitas dan kesan masing-masing yang tertanam dalam imajinasi konsumen.

Coca-Cola misalnya, kampanye produk minuman asal Amerika Serikat (AS) ini berupaya menampilkan autentitas kehidupan nyata. Setiap iklannya selalu menghadirkan momen autentik, hidup, dan peran alami merek bermain di dalamnya.

Model iklan brand ini bahkan selalu berbeda di setiap negara untuk mencerminkan perbedaan dalam realitas. Sementara Sturbucks Coffee hadir di tengah kehidupan sosial masyarakat perkotaan yang membutuhkan ”ruang santai”, tapi menawarkan kenyamanan dan kemewahan. Kedai kopi ini dibungkus secara apik dengan fasilitas yang menarik konsumen dari kelas remaja hingga kalangan tua atau para pelajar, mahasiswa, sampai para pekerja kantor.

Untuk membangun citra brand yang diminati, perlu juga supaya pintar membaca keinginan pelanggan yang setiap saat berubah. Dengan terus mengusahakan peremajaan pada bingkai brandingdan pola pemasaran, senantiasa konsumen akan tetap loyal. Namun, jika yang terjadi sebaliknya, tak butuh waktu lama konsumen akan meninggalkan merek produk tersebut akibat kepuasan yang tak terlayani.

Menurut pengamat brand dari Prasetiya Mulya Business School, Agus W Soehadi, jika sebelumnya brand merupakan bagian dari produk manajemen, sekarang beberapa perusahaan mulai menempatkan pengembangan dan pengelolaan produk bagian dari brand management.

Salah satu argumentasinya, brand merupakan aset/ekuitas yang bernilai bagi perusahaan. Untuk itu, aktivitas pemasaran harus ditujukan untuk memperkuat ekuitas brand. Dalam hal ini, menurut Agus, sebuah brand akan menjadi pilihan masyarakat apabila merek tersebut memenuhi beberapa kriteria dasar seperti mudah diingat, punya nilai, dan memiliki karakter kuat.

”Karakter yang kuat ialah brand tersebut tidak akan mudah terpengaruh misalnya oleh kompetitor lain yang memasang harga diskon. Sementara brand itu mampu memberi market shareyang besar bagi perusahaan,” ungkap Agus.

Dia menambahkan, setiap tahun brandakan mendapat penilaian dari sebuah lembaga tertentu yang fokus terhadap bidang ini. Nah, apabila brand tersebut masuk peringkat atas, bisa dipastikan mereka merupakan brand pilihan masyarakat dan punya kualitas baik sehingga publik menyukainya.

Lebih dari itu, brand yang bagus adalah mereka yang bisa menentukan harga sendiri dan tidak bergantung pada kompetitor. Karena itu, untuk menciptakan brand yang kuat dan memikat ketertarikan konsumen, para CMO harus pintar-pintar membaca keinginan pasar. (nafi muthohirin)

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini