nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Peran Kelapa Sawit di Indonesia Seperti Boeing di Eropa

Hendra Kusuma, Jurnalis · Selasa 25 Maret 2014 10:44 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2014 03 25 320 960292 wPWTRcYnoW.jpg Ilustrasi. (Foto: Reuters)

JAKARTA - Indonesia beserta Australia, Selandia Baru dan Eropa, sepakat untuk meningkatkan kinerja perdagangan melalui peningkatan dialog antara pemerintah dan swasta secara lebih intensif.

Hal ini dilakukan saat Direktur Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional (KPI) Kementerian Perdagangan (Kemendag), Iman Pambagyo dan Wakil Kepala Unit C2 Direktorat Jenderal Perdagangan–Asia Selatan dan Tenggara, Australia, dan Selandia Baru, serta Komisi Eropa dalam pertemuan Kelompok Kerja Perdagangan dan Investasi yang ke-6 di markas Komisi Uni Eropa, Brussels.

Menurut Iman, pada pertemuan ke-6 Kelompok Kerja Perdagangan dan Investasi tersebut dibahas isu yang menjadi kepentingan masing-masing pihak di bidang perdagangan dan investasi. Dalam hal ini, Indonesia sangat menekankan agar Uni Eropa dapat menerapkan kebijakan yang lebih terbuka, adil, transparan, dan tidak diskriminatif terutama terhadap produk ekspor unggulan utama Indonesia ke Uni Eropa, seperti minyak kelapa sawit.

"Indonesia menekankan bahwa minyak kelapa sawit dan turunannya bagi Indonesia adalah seperti Boeing bagi Uni Eropa," jelas Iman dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Selasa (25/3/2014).

"Namun, peran kelapa sawit bagi perekonomian Indonesia jauh lebih mendasar, karena tidak saja menjadi sumber pendapatan devisa negara terbesar, tetapi juga memberikan lapangan kerja kepada hampir 5 juta jiwa, dan memainkan peran dalam pembangunan pedesaan dan pengentasan kemiskinan," tambahnya.

Karenanya, Indonesia menekankan bahwa isu sustainability seharusnya diterapkan pada semua vegetable oils dan bukan hanya pada minyak kepala sawit.

Indonesia juga mengusulkan agar dilakukan sinkronisasi dua sistem yang masing-masing digunakan Uni Eropa dan Indonesia dalam mendorong pengelolaan kepala sawit secara berkelanjutan, yakni Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) di Uni Eropa dan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang digunakan Indonesia.

"Kita perlu lebih agresif untuk menempatkan minyak kelapa sawit sebagai produk yang diterima oleh masyarakat Uni Eropa seperti halnya minyak nabati lain, dan ini tentu memerlukan proses panjang dan berkesinambungan. Memadukan RSPO dan ISPO adalah satu kemungkinan ke arah ini," tambahnya.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini